Advertisement

Nada Berlagu, Di samping bahasa bernada pungtual, terdapat pula bahasa ber­nada berlagu. Dalam hal ini berbagai nada tidak lagi dikenali dari satu titik pada lengkung, namun pada titik di mana terjadi perubah­an arah dari lengkung itu. Yang paling sederhana adalah perbedaan antara nada meninggi dan nada menurun, dan di samping itu ter­dapat pula secara jelas nada datar yang tidak meninggi dan tidak me­nurun, atau sejumlah nada sederhana yang arahnya tunggal dapat di­oposisikan dengan nada kompleks yang berciri perubahan arah. Oleh karenanya, dalam bahasa Swensk, kata komma ‘koma’, mengandung nada yang berciri arah tunggal, meninggi atau menurun tergantung dialeknya, dan beroposisi dengan kata komma ‘datang’ yang dilafal­kan dengan nada menurun kemudian meninggi. Nada berlagu sering kali memberi ciri segmen-segmen dalam suku kata sehingga setiap suku kata memiliki nadanya sendiri. Namun, seperti yang kita lihat dalam contoh bahasa Swensk, ada bahasa yang nada berlagunya me­nandai segmen yang lebih luas dari suku kata: memang perbedaan yang ditunjukkan di antara kedua nada di dalam bahasa itu membu­tuhkan paling sedikit dua suku kata untuk dapat terealisasi. Sebuah suku kata tunggal dalam bahasa Swensk tidak mungkin disertai gerakan lagu yang kompleks.

Berbagai nada berlagu di dalam suatu bahasa dapat menjadi anggota register yang sama. Hal itu tidak berarti bahwa awal nada meninggi harus sama tinggi dengan akhir nada menurun, namun yang perlu diingat, kedua nada itu tidak dapat dibedakan hanya ber­dasarkan tingginya. Meskipun demikian, ada bahasa yang mengkom binasikan nada berlagu dan register, misalnya dalam nada meninggi, tinggi dibedakan dari nada meninggi rendah, setiap titik lagu nada yang pertama lebih tinggi daripada titik nada yang kedua.

Advertisement

Tegangan mendadak dari pita suara yang menghasilkan pening­gian suara secara cepat dapat menyebabkan tertutupnya glotis untuk sementara. Itu sebabnya ada nada-nada yang tidak begitu berciri ge­rak lagu khusus tetapi hanya interupsi pendek atau hanya semacam tercekiknya suara. Pencekikan itulah yang terutama membedakan dalam bahasa Dansk anden ‘bebek’ dengan anden ‘lain’. Di dalam ba­hasa Vietnam, enam nada, yang terkelompok dalam dua register dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) meninggi tinggi, (2) meninggi rendah, (3) pungtual tinggi, (4) pungtual rendah, (5) “tercekik” ting­gi, dan (6) “tercekik” rendah. Nampak di sini bahwa nada pungtual dapat hadir bersama nada berlagu. Yang disebut bahasa “bernada pungtual” hanyalah bahasa yang semua fakta nadanya dapat diana­lisis sebagai nada pungtual.

Advertisement