Advertisement

Mora, Kadang-kadang, untuk menyederhanakan deskripsi, nada ber­lagu yang sederhana dianggap sebagai urutan dua nada pungtual: sebuah nada meninggi diuraikan sebagai sebuah nada rendah yang diikuti sebuah nada tinggi, dan sebuah nada menurun diuraikan se­bagai sebuah nada tinggi yang diikuti sebuah nada rendah. Dalam hal ini, setiap segmen yang ditandai oleh salah satu nada pungtual yang berurutan itu disebut mora. Analisis tersebut khususnya diguna­kan bagi kasus bahasa nada yang seharusnya pungtual, yang dari jauh nampak sebagai gerak lagu meskipun hanya dalam satu suku kata. Misalnya urutan dengan nada tinggi pada suku pertama dan nada meninggi pada suku kedua. Jelas kita harus menguraikan suku kata yang terakhir itu menjadi dua nada pungtual yang berurutan (rendah, tinggi), khususnya jika, seperti yang sering terjadi, nada me­ninggi ternyata memiliki fungsi gramatikal atau derivasional yang sa­ma dengan urutan nada rendah dan nada tinggi pada dua buah suku kata yang berurutan.

Advertisement
Advertisement