Advertisement

Keproporsionalan Hubungan, Jika kita pisahkan dengan cara yang sama berbagai ciri penting dari segala segmen minimum yang muncul atau yang mungkin mun­cul di depan -ouche dan jika kita kelompokan berbagai segmen yang berciri penting tertentu, kita mendapatkan kelas-kelas berikut ini: “tak bersuara”: pftsi k; “bersuara”: bvdzi g; “bukan sengau”: b d j “sengau”: m n 13; “lateral”: 1; “uvular”: r; “bilabial”: p b m; “labio­dental”: f v; “apikal”: t d n; “desis”: s z; .”frikatif”: i; “palatal”: j n; “dorso-velar”: k g. Istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut se­tiap ciri tidak dimaksudkan untuk memberikan deskripsi yang leng­kap dari produksi bunyi yang bersangkutan: adjektiva “bersuara” sama dengan “disertai getaran pita suara” yang digunakan dalam analisis di muka; namun keduanya tidak untuk memberikan des­kripsi. Kita tahu sejak dahulu, bahwa getaran pita suara yang me­nyertai lafal beberapa artikulasi di mulut berjalan berpasangan dengan manifestasi fonetis yang lain. Yang melibatkan bersuara di sini adalah keproporsionalan hubungan /p/ dengan /b/, /f/ dengan /v/, /t/ dengan /d/, dsb. Apa pun kenyataan fonetis yang membeda­kan /p/ dari /b/, orang tahu bahwa kenyataan itu sama dengan yang membedakan /f/ dan /v/ dengan perbedaan hanya yang menimbul­kan artikulasi oklusif dan bilabial di satu pihak, frikatif dan labio­dental di lain pihak. Tanda kutip yang digunakan pada nama seperti “bersuara” menandai bahwa istilah yang terletak di antaranya ber­sifat sangat konvensional. Akan nampak bahwa sebuah kelas seperti /t d n/ yang hanya disebut sebagai “apikal” sebenarnya oklusif apikal. Meskipun demikian, sebutan “oklusif apikal” dan bukan “apikal” di sini akan diartikan adanya dua ciri penting yang mem­bedakan, sedangkan segmen “apikal” yang dalam bahasa Perancis se­lalu oklusif, tidak akan ada dua pilihan yang distingtif. Mengingat segmen “apikal” bukan satu-satunya yang oklusif, wajarlah jika yang digunakan istilah “apikal” yang merupakan satu-satunya yang khas. Perlu dicatat pula bahwa, di muka -ouche, segmen-segmen /m n 111 bukan hanya sengau namun juga bersuara. Meskipun demikian, ke­bersuaraan di sini tak terpisahkan dari kesengauan karena dalam posisi itu tidak terdapat sengau yang tak bersuara; itulah pula sebab­nya mengapa /m n n/ tidak terdapat dalam kelas “bersuara” yang merupakan kelas yang beroposisi dengan “bukan sengau”.

Advertisement
Advertisement