Advertisement

Intonasi, Suara dihasilkan oleh getaran pita suara dan getaran itu terjadi karena pita suara menegang. Apabila sebuah dawai sangat tegang, getarannya menghasilkan nada tinggi. Apabila agak tegang, nada yang dihasilkannya rendah. Begitu pula halnya dengan pita suara. Di dalam nyanyian, naik turunnya suara terjadi bertangga: yaitu tangga nada. Dalam wicara, naik-turun suara berkesinambungan dan meng­ingatkan kita pada bunyi yang lebih mendekati bunyi sirene daripada bunyi piano. Karena pita suara bergetar setiap saat pada ketinggian tertentu, untuk ujaran apa pun dapat dibuat sebuah lengkung tinggi lagu (dengan beberapa kesinambungan yang luluh yaitu konsonan tak bersuara). Lagu wacana itu dapat dikatakan otomatis, artinya penutur tidak memilih kehadiran maupun ketiadaannya. Meskipun penggunaannya secara bahasa sedemikian terbatas, unsur prosodi bukannya tidak berperan, dan kepentingannya bervariasi dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain: hanya beberapa bahasa yang meng­gunakan tinggi lagu dalam bentuk satuan segmental, yaitu nada, sedangkan penggunaannya yang bertujuan kontrastif untuk me­nonjolkan tekanan tidak jarang. Lebih baik kita menggunakan istilah intonasi bagi sisa lengkung lagu setelah nada dan fakta tekanan kita kesampingkan.

Seperti yang telah kita lihat (1.16), gerakan lengkung intonasi sa­ngat ditentukan oleh kebutuhan menegangkan pita suara pada awal tuturan dan kecenderungan untuk mengendurkannya begitu tuturan hampir selesai. Meskipun demikian, para penutur dapat mengguna­kan gerakan itu untuk tujuan pembeda tertentu sesuai dengan prinsip yang nampaknya dimiliki bersama oleh keseluruhan manusia, namun bentuknya dapat bervariasi pada masyarakat yang satu dengan yang lain. Oleh karenanya, kita tidak mungkin menyangkal nilai bahasa yang dimiliki intonasi. Namun, percaturannya tidak termasuk ke dalam rangka artikulasi ganda karena tanda yang dapat ditampilkan oleh naiknya lagu di akhir suatu ujaran tidak berintegrasi dalam urut­an monem dan tidak memperlihatkan sebuah penanda yang dapat di­uraikan dalam sederet fonem. Variasi lengkung intonasi sebenarnya mempunyai fungsi yang sulit dibedakan, fungsi yang langsung ber­makna seperti dalam it pleut? ‘hujan?’, namun yang paling sering ber­fungsi yang telah kita sebut ekspresif. Yang terutama perlu dicatat mengenai lagu tuturan, di dalam sebuah bahasa seperti bahasa Pe­rancis, variasi lengkungnya tidak mungkin mengubah identitas sebuah monem atau sebuah kata: kata pleut dalam it pleut?, yang berlagu naik, bukan kata yang berbeda dengan pleut penegasan it pleut, yang lagunya menurun. Meskipun perbedaan antara kedua lengkung itu hanya tampil pada satu kata, bukan valensi kata yang satu itu yang dipengaruhinya, melainkan valensi sebuah segmen ujar­an yang lebih luas, bahkan mungkin pula seluruh kalimat.

Advertisement

Advertisement
Filed under : Review,