Advertisement

HIERARKI MONEM , Tempat Monem Tidak Selalu Penting, Untuk menyusun daftar fonem, kami telah mulai dengan meng­angkat satuan-satuan yang mungkin muncul di dalam suatu konteks tertentu. Memang yang dilakukan penutur adalah menemukan satu­an-satuan itu dan memilih di antaranya pada setiap bagian ujaran agar pilihan itu sesuai dengan amanat yang diinginkannya: jika amanatnya mengandung kata malu /malu/, pada awalnya is harus memilih /m/ di antara semua konsonan sengau yang mungkin berada pada posisi itu, kemudian /a/ di antara vokal yang mungkin terdapat dalam suku kata terbuka, /1/ di antara konsonan lateral, dan akhir­nya /u/ di antara vokal yang mungkin terdapat di posisi akhir. Begitu keempat fonem tadi diperoleh, tidak mungkin lagi mereka diletakkan di sembarang posisi, karena kita akan mendapatkan kombinasi yang tak terlafalkan (/aulm/) atau monem-monem lain (/ulam/ ulam; /mula/ mula). Jelas bahwa fonem memainkan peran pembeda di dalam posisi tertentu.

Peran bermakna pada monem menimbulkan perilaku yang ber­beda: di samping ujaran seperti Aria mencium Rara yang akan men­jadi ujaran lain jika Aria dipertukarkan tempatnya dengan Rara, se­perti juga /malu/ yang menjadi monem lain jika /a/ dan /u/ dibalik, terdapat pula ujaran seperti Badu berangkat kemarin yang maknanya tidak akan berubah jika saya mengganti susunan monem-monem ter­tentu dan mengatakan kemarin Badu berangkat. Jika di dalam Badu berangkat kemarin saya mengganti kemarin dengan naik mobil atau dengan bersama adiknya, itu tidak berarti bahwa saya harus memilih di antara kemarin, naik mobil, dan bersama adiknya, artinya peng­gunaan yang satu akan meniadakan penggunaan yang lain, seperti pilihan /m/ awal dari malu yang meniadakan /p/ dan seperti peng­gunaan Aria di dalam Aria mencium Rara yang meniadakan Indra. Saya dapat menggunakan bersama-sama ketiga segmen itu dan me­ngatakan, misalnya Badu berangkat kemarin naik mobil bersama adiknya, atau Badu berangkat naik mobil kemarin bersama adiknya. Kemarin tidak beroposisi dengan naik mobil dan dengan bersama adiknya. Di sini tampak betapa penggunaan istilah yang lazim “ber­oposisi” sebenarnya tidak begitu sesuai dengan penggunaan lazim da­ri istilah ini: kemarin tidak beroposisi dengan naik mobil dan dengan bersama adiknya yang hadir di dalam ujaran yang sama namun ber­oposisi dengan kehadiran besok atau huri ini, seperti juga awal kata malu, /m/ yang beroposisi dengan kehadiran /p/. Mengenai fonem, oposisi melibatkan ketaktukaran dalam satu hal: dalam /malu/, /m/ beroposisi dengan /p/ dalam konteks khusus rangkaian itu, namun ti­dak berarti keduanya tidak dapat hadir bertetangga seperti yang tam­pak dalam /mampu/ mampu. Bagi monem atau tanda yang lebih sengkarut, oposisi mungkin melibatkan ketaktukaran di dalam ujaran tertentu: bukannya tidak mungkin kita mengatakan hari ini, Badu berangkat kemarin. Bagi monem dan juga bagi fonem, menjadi bagi­an suatu sistem yang sama akan mengakibatkan oposisi, artinya pilih­an eksklusif. Kalau begitu dapat dikatakan bahwa kemarin, hari ini, dan besok menjadi bagian sistem yang sama, sedangkan kemarin dan naik mobil menjadi bagian sistem yang berbeda. Namun, dalam hal monem, kita tidak akan dapat menyusun tanpa batasan, sistem satu­an yang mungkin muncul di posisi yang sama di dalam rangkaian tuturan.

Advertisement

Advertisement