Advertisement

Daulat Umayyah, adalah sebuah di-nasti yang berkuasa di dunia Islam pada 660-749 (40-132 H). Nama Umayyah diambil dari nama datuk Mu`awiyah (w. 680/60 H), pendiri dinasti Umayyah di Damaskus. Selama dinasti ini berkuasa ti­dak kurang dari 13 khalifah telah naik tahta, walau kualitas dan kuantitas peme­rintahan dinasti Umayyah sering dipan­dang sebagai permulaan timbulnya sistem politik dalam Islam yang tidak selalu iden­tik dengan contoh yang diberikan sebe­lumnya oleh Nabi dan para khalifah em-pat (al-khulafa ar-ratsyithin).

Berdirinya dinasti Umayyah sangat di­dukung oleh timbulnya krisis di Madinah. Terbunuhnya khalifah Usman pada 657 (36 H) memberikan alasan strategis bagi Mu`awiyah, yang menikmati kekuatan dan stabilitas di Siria, untuk menuntut balas. Memang Mu`awiyah dan Usman sama-sa­ma berdatuk kepada Umayyah. Ali yang diangkat sebagai pengganti Usman hampir­hampir tak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan tuntutan tersebut. Hal ini terutama disebabkan oleh timbulnya opo­sisi bersenjata yang dilancarkan oleh to­koh-tokoh sahabat seperti Zubair bin al­Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Aisyah. Kendati Ali berhasil menumpas kelompok oposisi ini pada Perang Unta yang terkenal, ia kemudian mendapati bahwa Mu`awiyah telah semakin kuat. Berbagai usaha perundingan telah ditem­puh oleh kedua belah pihak, tetapi tak berhasil membawakan penyelesaian yang positif. Perang pun tidak dapat dihindari pada 657 (37 H) di Siffin. Namun tak satu pihak pun muncul sebagai pernenang, bah­kan mereka setuju untuk berunding lewat arbitrasi (tahkim). Sementara sejarawan memandang bahwa penerimaan tahkim ini adalah merupakan konsesi berlebihan oleh, kalau tidak boleh disebut kekalahan besar bagi, Ali secara strategis dan politis. Bagaimanapun sebagai seorang yang cu­kup lama ikut membina umat di samping Nabi, Ali tentu cukup realistik melihat si­tuasi yang sedang berkembang secara umum pada satu pihak, dan semakin memprihatinkannya kondisi para pendu­kungnya yang telah membantu dan ber­juang semenjak awal pada pihak lain. Ke­pasrahan dan kejujuran Ali setelah tahkim dapat dilihat dari semacam keacuhannya terhadap kekuasaan Mu`awiyah yang terus berkembang di Damaskus. Sampai dengan meninggalkannya pada 660 (40 H), Ali da­pat dikatakan sama sekali tidak menimbul­kan ancaman terhadap Mu`awiyah. Per­kembangan yang demikian tentunya sangat menguntungkan Mu`awiyah, dan akhir­nya mendorongnya untuk menyatakan diri sebagai khalifah sepeninggal Ali.

Advertisement

Apa pun legalitas Mu`awiyah memba­ngunkan sebuah dinasti, pada masa kekua­saan mereka Islam terus menikmati du­kungan politis administratif. Oposisi ter­hadap Bani Umayyah hampir tidak pernah padam sampai Bani Abbas mengakhiri ke­kuasaan mereka lewat kekuatan bersenja­ta yang didukung ideologi populer lagi strategis (ar-rida min Ali Muhammad). Di antara oposisi yang menonjol adalah Ab­dullah bin Zubair di Hijaz, pendukung Ali di Irak, kelompok-kelompok Ithawarij di Mesopotamia dan Afrika Utara, serta go­longan “Qadariyah” di Siria. Dengan du­kungan pasukan Siria (ahl asy-Syam) yang terlatih, hampir semua pemberontak dan pembangkang tersebut dapat ditumpas. Tetapi penggunaan kekuatan telanjang ini akhimya menuntut harga yang terlalu ma­hal; keberlangsungan kekuasaan Bani Umayyah tetap tidak mendapatkan legiti­masi secara meluas. Hal inilah yang diman­faatkan secara baik oleh Bani Abbas de­ngan gerakan mereka (ad-da`wah al-Abbil­siyah). Di samping itu penaklukan-penak­lukan yang terus dilancarkan oleh pasukan Umayyah ke berbagai medan, secara tidak langsung membukakan jalan bagi tersebar­nya ajaran Islam. Apalagi kalau diingat bahwa sistem administrasi yang dijalankan adalah produk dari kebudayaan dan etos yang beraspirasikan Islam, apa pun kenya­taan dan praktek yang dijalankan. Di masa kekuasaan Bani Umayyahlah Spanyol di bagian barat dan Sind serta Asia Tengah di bagian timur untuk pertama kali diduduki penguasa-penguasa muslim.

Di antara khalifah khalifah Umayyah muncul tokoh-tokoh yang menarik. Mu`awiyah sebagai pengawas kekuasaan, dapat dilihat sebagai politikus ulung dan individu yang kokoh. Hampir setaraf de­ngannya adalah Abdul-Malik bin Marwan (w. 705/86 H) dan anaknya al-Walid (w 715/96 H). Namun yang kemudian men­jadi figur populer dan ideal di kalangan umat adalah Umar bin Abdul-Aziz (w. 719/101 H); mungkin karena perhatian­nya terhadap masalah-masalah keislaman serta upaya mendekati berbagai kelompok secara lebih terbuka. Pada pihak lain, be­berapa khalifah dilukiskan para sejarawan sebagai kurang saleh dan lemah, seperti Yazid bin Mu`awiyah (w. 682/63 H) dan al-Walid bin Yazid bin Abdul-Malik (w. 744/126 H).

Tidak berapa lama setelah berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di Dam askus pada 749 (132 H) salah seorang anggota keluarga tersebut berhasil mengambil alih kekuasaan di Spanyol. Semenjak dinobat­kannya Abdurrahman ad-Dakhil pada 755 (138 H) sebagai amir di Andalusia sampai dengan munculnya berbagai pe­nguasa lokal yang minoritas (muluk at-ta­wa’if) mulai 1031 (H22 H), kekuasaan di­nasti Umayyah mampu dipertahankan kendati dalam skala yang lebih kecil. Na­mun hanya dalam periode antara 989 (317 H) sampai dengan 1031 (422 H) be­berapa penguasa Umayyah di Andalusia menggunakan gelar khalifah.

Advertisement