Advertisement

Apa itu identitas?, Sebelum menjelaskan identitas nasional, terlebih dahulu dijelaskan apa itu identitas. Dilihat dari segi bahasa bahwa identitas itu bcrasal dari bahasa Inggris yaitu “identity” yang dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri. Ciri-ciri itu adalah suatu yang menandai suatu hencla atau orang. Ada ciri-ciri fisik dan ada ciri-ciri non fisik. Orang Cina mempunyai ciri fisik tersendiri, misalnya matanya sipit, kulitnya putih. Orang Irian atau Papua juga mempunyai ciri fisik tersendiri misalnya kulitnya hitam dan rambutnya keriting. Ciri-ciri yang bersifat non fisik misalnya, gaya seseorang ketika berbicara, ketika bermain, ketika belajar dan sebagainya.

Identity sering diindonesiakan menjadi identitas atau jati diri. Jadi, identity atau identitas atau jatidiri, dapat memiliki dua arti: pertama, identitas atau jatidiri yang menunjuk pada ciri-ciri yang melekat pada diri seseorang atau sebuah benda, dan yang kedua, identitas atau jatidiri dapat berupa surat keterangan yang dapat menjelaskan pribadi seseorang dan riwayat hidup seseorang. Di samping itu, identitas atau jatidiri dapat juga digunakan untuk menggambarkan pengertian diri sendiri yang menyangkut siapa dia (baik laki-laki maupun perempuan). Ada dua sumber utama dari identitas atau jatidiri seorang: pertama, aturan-aturan sosial yang menjelaskan definisi dari tingkah laku tertentu dan sejarah hidup seseorang. Dua orang, yaitu orang yang satu dengan orang orang yang lainnya mendasarkan konsepsi mereka dari identitas mereka masing-masing pada dua sumber tadi (Arnold Dashefsky, 5).

Advertisement

Identitas yang akan dikembangkan dalam tulisan ini adalah identitas dalam pengertian pertama di atas yaitu identitas dalam pengertian jati diri. Identitas atau jatidiri adalah “pengenalan atau pengakuan terhadap seseorang yang termasuk dalam suatu golongan yang dilakukan berdasarkan atas serangkaian ciri-cirinya yang merupakan suatu satuan bulat dan menyeluruh, serta menandainya sehingga ia dapat dimasukkan dalam golongan tersebut” (Parsudi Suparlan: 1999). Contohnya: Polisi mempunyai ciri-ciri tersendiri yang menyebabkan ia dibedakan dengan yang lain. Ciri-ciri dari polisi tersebut merupakan satu satuan yang bulat dan menyeluruh, sehingga dengan ciri-ciri tersebut menyebabkan seseorang dapat digolongkan sebagai polisi. Jika seseorang memakai atau mengenakan ciri-ciri polisi, ternyata ciri polisi yang ia kenakan tidak lengkap atau tidak mencerminkan layaknya seorang polisi, maka jati diri orang tersebut sebagai polisi diragukan kebenarannya, dan orang tersebut dapat diidentifikasikan sebagai polisi gadungan. Contoh lainnya: Seorang laki-laki diidentifikasikan sebagai seorang laki-laki karena mempunyai serangkaian ciri-ciri yang melekat pada dirinya, yang merupakan serangkaian ciri-ciri yang bulat dan menyeluruh. Bila laki-laki tersebut melekatkan atau memakaikan ciri-ciri perempuan pada tubuhnya, dan cara melekatkan atau memakaikan ciri tersebut kurang sempurna, maka laki-laki tersebut tidak diidentifikasi sebagai perempuan tetapi sebagai “banci”.

Menurut Hank Johnston, Enrique Larana, dan Joseph R. Gusfield (1994:12-24), identitas itu dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu: Identitas Individu dan Identitas Kolektif.

Advertisement