PENGERTIAN ANALISIS FUNGSIONAL

757 views

Istilah analisis fungsional dan fungsionalisme sering disamakan, padahal keduanya sama sekali berbeda. Fungsionalisme adalah suatu doktrin yang menyatakan bahwa tugas utama sosiologi dan antropologi sosial adaiah merumuskan kontribusi bagi kehidupan sosial dan kultural manusia, serta menelaah fenomena sosial untuk memahami hakikat keberadaannya. Sedangkan analisis fungsional adalah suatu metode kajian sosiologi dan antropologi yang mendudukkan elemen sosial dan kultural dalam konteks yang luas, dengan penekanan pada hubungan pengaruh-mempengaruhi. Jadi jelaslah mengapa doktrin tadi dinamakan fungsionalisme, yakni karena ia menyatakan setiap fenomena kultural selalu ada gunanya punya fungsi), karena jika tidak fenomena itu segera lenyap dengan sendirinya. Segala sesuatu itu ada, karena ada gunanya. Namun padi afalnya tidak begitu jelas mengapa suatu metode Ka;ian fenomena kultural dalam konteks yang begitu luas bisa disebut fungsional (dalam pengertian kegunaan” atau “berguna”). Belakangan tampak bahwa hal itu dikarenakan analisis fungsional sedemikian diperlukan dalam fungsionalisme, sehingga kedua istilah itu sering dicampuradukkan. Padahal untuk menjelaskan fungsi dari suatu unsur sosial, unsur itu tidak harus ditempatkan dalam konteks sistem atau subsistem yang kompleks. Misalnya, untuk menunjukkan fungsi terminologi kekerabatan, maka yang perlu dilakukan hanyalah mengekspresikan kategori-kategori kekerabatan yang mendukung prinsip-prinsip kerjasama. aliansi, kesinambungan pernikahan, suksesi, pewarisan, dan sebagainya. serta mengaitkannya dengan konteks pengaturan interaksi kekerabatan. Itu sudah jelas. Yang belum jelas adalah bahwa praktek analisis fungsional juga menganggap inti pernyataan fungsionalisme memang atau pasti benar. Misalnya, penggunaan terminologi kekerabatan dalam berbagai konteks tidak bisa diartikan begitu saja. Terminologi itu eksis karena sering dipakai, jadi bisa saja hal itu sekedar merupakan konsekuensi linguistik. Di sini kita menemui masalah kedua yang sering diabaikan para antropolog perintis. Kalau catatan sejarah atau petunjuk kuat lainnya tidak ada, maka kita harus menerima penjelasan-penjelasan yang ada. Karena itu analisis fungsional menerapkan saja fungsionalisme itu sebagai suatu konsepsi yang baku. Tingkat teknologi atau sistem kekerabatan diyakini sebagai dampak dari kondisi-kondisi ekonomi dan politik, meski pun tidak tertutup kemungkinan bahwa norma-norma linguistik dan ritual lebih berperan, karena kedua hal ini tampak menonjol dalam kehidupan sosial dan kultural. Lebih jauh, tampaknya ada pula asumsi bahwa efektivitas metode analisis fungsional merupakan bobot keberlakuan teori, sehingga kualitas teori ditentukan pula oleh metodenya. Terlepas dari apakah teori juga mendukung metode, ada dua hal yang jelas-jelas mendukung metode itu, sekurang-kurangnya menurut pengalaman para etnografer. Pertama, mereka lazimnya menelaah masyarakat-masyarakat terasing yang tidak pernah dipelajari sebelumnya oleh orang lain sehingga apa yang mereka tulis tidak punya saingan atau pembanding, dan seringkali dianggap benar. Kedua, masyarakat atau objek yang dipelajari relatif sederhana sehingga para etnografer itu bisa dengan mudah membuat penafsiran-penafsirannya sendiri. Mengenai yang pertama, kita lihat bahwa ketiadaan informasi awal justru memudahkan pengembangan konsepsi-konsepsi rintisan. Fungsionalisme dan analisis fungsional sebenarnya merupakan reaksi terhadap keterbatasan data sejarah. Ini memang bukan dasar yang sah untuk membenarkan keduanya, namun itu cukup untuk menerima keduanya.

Mengenai hal kedua, para fungsionalis secara terbuka mengakui bahwa pola kehidupan sosial di masyarakat yang tingkat teknologinya terbatas memang relatif sederhana. Namun cara pendekatannya, menurut mereka, bisa saja ditransfer dengan modifikasi tertentu untuk menelaah unit- unit sosial atau masyarakat yang lebih kompleks. Sebagian aspek adakalanya tidak dikaji secara mendalam karena dianggap sebagai hal-hal alamiah/wajar (taken-for-granted). Contohnya adalah jaring-jaring hubungan sosial dan kultural yang sesungguhnya sangat kompleks dan variatif, serta perlu dikaji secara khusus. Mereka tampaknya menyadari bahwa interpretasi metode bisa membelokkan bobot dan hakikat fenomena- fenomena sosial dan kultural dalam masyarakat yang paling sederhana sekalipun, dan hal itu dapat mengakibatkan penyimpangan pemahaman yang lebih parah. Pencampuradukan metode dan doktrin oleh sejumlah antropolog sosial memang beresiko tinggi, mengingat doktrin analisis fungsional bisa memunculkan gambaran tentang fenomena sosial dan kultural tertentu yang sesungguhnya tidak pernah ada di masyarakat nyata. Ini bukan saja merupakan kesalahan fatal, namun juga menyesatkan. Sebenarnya apa kontribusi analisis fungsional untuk memahami mengapa suku Bemba bersifat matrilineal, mengapa orang-orang Tallenzi tidak punya wewenang politik terpusat, mengapa bangsa Nuer punya bentuk monotheisme tersendiri, atau mengapa bangsa Aborigin di Australia memiliki subkultur yang demikian bervariasi? Analisis fungsional telah menjelaskan bahwa ketiadaan wewenang politik terpusat di suku Tallenzi dikarenakan setiap klan atau keluarga dalam suku itu punya tempat dan pengaruh tersendiri yang dibela dan dipertahankan dengan darah; namun hal itu belum cukup untuk mengungkap struktur politik terfragmentasi dalam bangsa itu. Demikian pula dengan penjelasan tentang reproduksi sosial (lazim disebut analisis ekuilibrium) yang meskipun telah memaparkan prosesnya secara garis besar, namun sulit diuji kebenarannya karena doktrin fungsionalis itu sendiri tidak terstruktur secara ilmiah.

Kritik para filsuf dan ilmuwan sosial sejak awal telah mengingatkan terbatasnya penjelasan kaum fungsionalis tentang fenomena sosial, khususnya aspek teleologisnya. Intinya, seperti dikemukakan di atas, penjelasan yang diberikan itu kelewat sederhana sehingga cenderung bersifat mekanis atau organis. Satu-satunya jawaban terhadap kritik-kritik tersebut adalah, sekalipun diliputi keterbatasan- keterbatasan, analisis fungsional tetap penting karena ia dapat menjelaskan aais sebab dan akibat (proses umpan balik) yang menjadi inti mekanisme suatu sistem, sehingga analisis fungsional dapat memberi pemahaman tentang hal-hal menonjol pada waktu dan tempat tertentu. Namun meskipun dalih ini meyakinkan, namun para teorisi tidak melihat sebagai bukti keunggulan atau kegunaan analisis fungsional, karena dalih itu tidak ditunjang oleh konfirmasi empiris, sehingga hal itu sekedar merupakan ilustrasi atas adanya aspek-aspek sosial dan kultural yang dapat dikaji dengan pendekatan “umpan balik sistemik” atau pola-pola sebab-akibat yang terjadi berulang-ulang sehingga bisa diperjelaskan secara intuitif. Kompleksitas sistem kemasyarakatan yang kian pekat lambat laun tidak memungkinkan dipakainya analisis fungsional. Sebagai contoh, sistem pendidikan di berbagai negara industri cenderung mengutamakan anak-anak dari keluarga berada yang lingkungannya tidak hanya memudahkan pencapaian prestasi pendidikan, namun juga memperkuat dan memacu motivasi untuk berhasil. Karena kesenjangan prestasi terstruktur bertentangan dengan prinsip persamaan kesempatan, maka dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan itu memang “berfungsi” bagi kalangan berada, namun tidak demikian bagi yang tak berpunya, yang bahkan acapkali tidak menyadari ketimpangan antara prinsip dan praktek pendidikan itu. Namun kaum fungsionalis tetap ber- siteguh bahwa sistem itu tetap berfungsi bagi semua pihak karena tidak menciptakan motivasi bagi kalangan yang tidak punya banyak peluang untuk maju. Jadi sistem itu benar-benar bekerja, termasuk mempertahankan stabilitas sosial. Simbol-simbol alienasi membuat mereka yang tidak beruntung mau menerima nasib, atau kalaupun mereka tidak puas maka mereka akan mengemukakannya dengan cara-cara yang halus. Lebih jauh, kalau mereka berontak dengan cara-cara agresif, maka sistem yang lebih luas akan menyesuaikan diri. Sesungguhnya untuk apa sistem yang keguna-annya begitu terbatas? Untuk apa pertumbuhan ekonomis yang tinggi namun timpang sehingga mudah memicu gejolak dan akhirnya mengikis hasil-hasil yang sudah dicapai sebelumnya? Tampak jelas bahwa setiap sistem yang terlalu pekat diwarnai kelemahan sulit dikatakan fungsional, apalagi jika unsur-unsur di dalamnya tidak bisa mencapai kata sepakat untuk memperbaikinya. Tafsiran tentang bermanfaat atau tidaknya sesuatu hal sebenarnya tergantung pada keadaan, motif-motif (sadar atau tidak sadar) para aktor sosial yang berkepentingan, serta pola praktek/ tindakan tertentu yang juga mempengaruhi motif untuk mempertahankan atau menggusur suatu sistem. Namun kalau pun bisa dipertahankan atau bisa bertahan, itu tidak berarti sistemnya pasti fungsional. Jadi, istilah fungsi itu mengandung kontradiksi serius. Apa yang disebut sebagai analisis fungsional seharusnya dilihat sebagai bagian dari pendekatan-pendekatan sistemik dalam ilmu-ilmu sosial. Kita baru bisa mengatakan suatu sistem itu tidak ada kalau ada proses tertentu yang berdiri sendiri. Untuk melihat kesinambungannya, kita harus menempatkannya dalam sistem yang lebih besar. Untuk mengukur praktek-praktek sosial yang melanggengkannya, maka juga harus memahami motifnya, agar kita bisa menilai fungsinya.

Incoming search terms:

  • analisis fungsional
  • pengertian analisis fungsional
  • analisis fungsional adalah
  • contoh analisis fungsional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *