Advertisement

Amirul-Haj adalah kepala rombongan jemaah haji ke tanah suci, Mekah. Jabatan ini pertama kali diberikan Rasulullah ke­pada Abu Bakar as-Siddiq, untuk memim­pin kaum muslimin dalam mengerjakan haji 630 (9 H). Setelah 60 tahun kemu­dian 688 (68 H), pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan 685-705 (65­86 H), jabatan ini tidak lagi hanya diberi­kan kepada satu orang, tetapi diberikan kepada masing-masing: Muhammad bin Hanafiyah, Ibnu Zubeir, Najdah bin Amir dan Marwan, ketika mereka ditugaskan pemerintah Umayyah untuk mengepalai rombongan haji dari masing-masing golo­ngannya.

Pada masa pemerintah Abbasiyah upaca­ra pelepasan jemaah haji diadakan secara besar-besaran. Bagdad sebagai ibu kota adalah pusat pemberangkatan, di mana je­maah haji dari seluruh daerah berkumpul, Ikut bersama mereka sejumlah angkatan bersenjata untuk menjaga keamanan sela­ma dalam perjalanan. Mulai waktu berang­kat mereka telah terdiri dari beberapa rombongan, sesuai dengan daerah masing­masing. Tiap-tiap rombongan dipimpin oleh seorang Amirul-Haj.

Advertisement

Imam Mawardi (450 H) dalam bukunya alAham asSultaniyah menyebut dua kelompok tugas pemimpin rombongan haji, yang ringkasnya adalah sebagai beri­kut:

  1. Mengatur dan mengawasi rombongan selama dalam perjalanan, seperti men­jaga keamanan, mengatur persiapan air, mendamaikan pertengkaran antara ang­gota jemaah, mengawasi keluar masuk jemaah dari asrama atau kemah, ter­utama bagi yang lemah, memperhatikan waktu agar jemaah terjamin dalam me­laksanakan ibadat dalam waktunya, dan lain-lain yang dapat menjamin ke­lancaran perjalanan dan tujuannya.
  2. Bimbingan pelaksanaan haji, seperti bimbingan manasik, memperhatikan miqat, agar jemaah terjamin dapat me­laksanakan ihram pada waktu dan tern­patnya, memperhatikan batas-batas tempat ibadat, agar jemaah terjamin dapat melaksanakan ibadat pada tern­patnya, dan lain-lain yang menyangkut pelaksanaan ibadat haji.

Advertisement