Advertisement

Aligarh merupakan gerakan intelektual keagamaan yang melanjutkan dan me­ngembangkan ide-ide pembaharuan yang dicetuskan Sayid Ahmad Khan di India. Gerakan intelektual keagamaan ini dipe­rankan oleh para pengikut dan pendukung pikiran-pikiran Ahmad Khan. Pusat gerak­an ini adalah sekolah Muhammedan Ang­lo Oriental College (MAOC) yang didiri­kan Ahmad Khan pada 1878 di Aligarh. Sepeninggal pendirinya, Ahmad Khan, lembaga pendidikan ini dikembangkan menjadi sebuah lembaga pendidikan ting­gi, Universitas Islam Aligarh, pada 1920. Sejak itu, lembaga pendidikan tinggi ini semakin memperkokoh kedudukannya se­bagai pusat gerakan pembaharuan Islam di India.

Tanpa gerakan intelektual yang dikem­bangkan Aligarh ini, ide-ide pembaharuan pemikiran keislaman di India akan sulit berkembang, termasuk ide-ide pembaharu­an yang dicetuskan kemudian oleh para tokoh pembaharu India lainnya, seperti Amir Ali, Muhammad Iqbal, Abul Kalam Azad, dan sebagainya. Gerakan Aligarh, sesuai dengan orientasinya yang bersifat intelektual, sangat besar dan mengakar pengaruhnya di kalangan kaum cendikia­wan Islam India. Dari lapisan elit intelek­tual keagamaan ini, ide-ide pembaharuan kemudian tersebarluaskan kepada kalang­an-kalangan Islam lainnya.

Advertisement

Di antara para pengikut pandangan Sa­yid Ahmad Khan, kemudian dikenal de­ngan para penggerak Aligarh ini, adalah Nawab Muhsin al-Mulk (1837-1907), Vigar al-Mulk (1841-1917), Altaf Husain Hali (1837-1914), dan lain-lainnya. bagai akibat tuntutan dinamika sejarah umat Islam dalam persoalan kehidupan so­sial politik. Sedangkan corak dan sistem pemerintahan sangat bersifat duniawi, ti­dak termasuk persoalan agama. Karena­nya, bentuk negara dan sistem pemerin­tahan dapat disesuaikan dengan ‘dinamika perkembangan sosial budaya suatu masya­rakat. Atas dasar ini, apa yang dilakukan Mustafa Kemal, penghapusan sistem khali­fah dari Kerajaan Usmani, Turki, tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Pandangan Ali Abdur-Raziq yang di­pandang liberal pada waktu itu mendapat tantangan hebat dan kecaman keras dari berbagai kalangan, termasuk murid terde­kat Muhammad Abduh, Rasyid Rida. Me­nurut Rida pendapat Abdur-Raziq akan memperlemah sistem sosial politik umat Islam. Di samping itu, sudah barangten­tu, tantangan paling keras datang dari al­Azhar sendiri.

Rapat Majlis Ulama Besar al-Azhar me­mutuskan bahwa buku Ali Abdur-Razik,

wa Ustil al-Hukm, bertentangan dengan ajaran Islam. Akibatnya, Ali Ab­dur-Raziq tidak diakui lagi sebagai ulama, dan namanya dihapus dari daftar ulama al-Azhar.

 

Advertisement