Advertisement

Akhirat secara harfiah berarti yang kemudian. Dalam arti luas, term akhirat mengacu kepada fase, tempat, atau perihal kehidupan seseorang setelah selesai menjalani kehidupan di dunia ini, dan dalam arti sempit term itu mengacu kepada fase, tempat, atau perihal kehidup­an manusia, sejak terjadinya kehancuran total manusia dan alam semesta ini.

Berdasarkan keterangan-keterangan yang terdapat dalam al-Quran dan Hadis Nabi, umat Islam pada umumnya memiliki pola gambaran tentang akhirat, yang m eliputi sejumlah fase :

Advertisement

Pertama, fase kehancuran total alam se­mesta ini. Bintang-bintang di langit bergu­guran atau hancur berantakan. Bumi han­cur digoncang oleh ledakan-ledakan hebat; isinya berhamburan keluar seperti debu yang beterbangan, air laut mendidih dan meluap-luap, sedang manusia terombang­ambing seperti orang mabuk. Dengan de­mikian musnah segenap alam semesta ini, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.

Kedua, fase kebangkitan. Segenap ma­nusia yang pernah dilahirkan di dunia ini, mulai dari manusia pertama sampai manu­sia terakhir, dibangkitkan atau dihidupkan kembali dari kematian mereka. Mereka se­muanya dihimpun di sebuah padang, yang disebut dengan padang Mahsyar.

Ketiga, fase memperlihatkan, menghi­tung, atau menimbang amal perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia. Kepada manusia diperlihatkan dokumen amal perjuangan dan tingkah laku mereka. Semua rahasia menjadi terbuka. Betapa pun kecilnya suatu perbuatan yang dilaku­kan seseorang dulu, niscaya pada saat itu disadarinya kembali. Semua amal perbuat­an itu dihitung dan ditimbang dengan adil. Tak seorang pun akan mengalami perla­kuan tidak adil, atau merasa dirugikan da­lam perhitungan itu. Baik dinilai baik dan buruk dinilai buruk.

Keempat, fase pembalasan amal dengan surga atau neraka. Kebaikan dibalas de­ngan kebaikan dan keburukan dibalas de­ngan keburukan. Siapa yang kebaikannya lebih banyak dari keburukannya niscaya masuk surga; kebahagiaan yang dirasakan di sana berbeda-beda, sesuai dengan perbe­daan kuantitas dan kualitas perbuatan baik yang dilakukan manusia. Siapa yang lebih banyak kejahatannya dari kebaikan­nya, niscaya masuk neraka; penderitaan di sana juga berbeda-beda, sesuai dengan ber­bedanya kuantitas dan kualitas perbuatan jahat yang dilakukan manusia.

Ada sejumlah nama bagi Akhirat; ma­sing-masingnya mengingatkan pada aspek tertentu dari Akhirat itu, Nama-nama itu antara lain adalah: as-S7rat (Saat Kehan­curan);al-Qffil’at (Malapetaka yang Meng­getarkan), al-W5qUat (Peristiwa Besar), al­Haqqat (Yang Pasti Terjadi), Yaum

(Hari Berbangkit), Yaum al-Qiymat (Hari Kebangunan), Yaum al-Jam Hari Menghimpun), Yaum at-Tagdbun (Hari Tersingkapnya Aib), Yaum al-Hasrat (Hari Penyesalan), Yaum (Hari Perhi­tungan), Yaum al-Fasl (Hari Keputusan), Yaum ad-Din (Hari Pembalasan), al-Yaum

(Hari Kemudian), dan Yaum al­Khurad (Hari Kekekalan). Yang paling ba­nyak dijumpai dalam al-Quran adalah term al-Akhirat (lebih 100 kali), Yaum al-Qiyiimat (70 kali), dan as-STat (40 ka­li).

Lukisan-lukisan al-Quran atau pun Ha­dis Nabi jelas “memperlihatkan” alam akhirat itu sebagai alam inderawi atau fi­sik. Di antara lukisan itu adalah sebagai berikut: “Apabila terjadi kiamat, tak se­orang pun berdusta tentang kejadiannya. la merendahkan (satu pihak) dan mening­gikan (pihak lain). Apabila bumi digon­cangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gu­nung-gunung dihancurluluhkan sehancur­hancumya, maka jadilah ia debu yang be­terbangan, dan kamu menjadi tiga golong­an. Maka alangkah mulianya Golongan Kanan . . . , berada dalam taman-taman kenikmatan, . . . berada di atas dipan yang berhiaskan emas dan permata, dikelilingi oleh anak-anak muda yang selathanya awet muda, yang membawa gelas, cerek, dan minuman yang terambil dari air yang mengalir; mereka tidak pusing karenanya dan tidak pula mabuk; dan membawa bu­ah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung yang mereka inginkan; ber­ada di antara orang suci yang matanya ber­cahaya, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mende­ngar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbul­kan dosa; mereka hanyalah mendengar ucapan salam. . . . Dan siapakah Golongan Kiri? Mereka berada dalam siksaan angin yang amat panas dan air yang mendidih, dalam naungan asap yang hitam, tidak se­juk dan tidak menyenangkan. . . . Mereka akan memakan pohon zaqqum, dan memi­num air yang sangat panas, seperti unta kehausan. Itulah hidangan untuk mereka pada Hari Pembalasan.” (al-Quran 56: 1— 57).

Berdasarkan lukisan-lukisan al-Quran dan Hadis Nabi itu, umat Islam umumnya percaya bahwa alam akhirat itu bersifat materi atau fisik, dengan pengertian bah­wa materi akhirat lain dari materi dunia. Benda-benda dunia ini dan benda-benda di akhirat hanya sama dalam nama dan se­butan, tapi hakikatnya berbeda, karena yang tersedia di akhirat itu adalah sesuatu yang tidak pernah terlihat, terdengar atau terlintas dalam pikiran manusia. Kalangan terpelajar memahami lukisan-lukisan itu sebagai upaya mematerialisasikan hal-hal yang bersifat spiritual, agar akhirat itu di­pahami dan iman kepadanya dapat menja­di dorongan kuat untuk tekun beramal sa­leh di dunia ini.

Advertisement