Advertisement

Ahmadiyah adalah jemaah yang dige­larkan kepada nama akhir pendirinya, Mirza Gulam Ahmad (lahir di Qadian, Punjab, India pada 1835 dan wafat juga di sana pada 1908). Jemaah ini pada mula­nya terdiri dari orang-orang yang dapat menerima pengakuan pendirinya bahwa ia adalah Imam Mandi dan al-Masih yang di­janjikan Tuhan, serta seorang rasul Tuhan, yang bertugas untuk menegakkan ajaran­ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dengan pemahaman yang lebih benar. Sete­lah dipimpin oleh Mirza Gulam Ahmad sendiri sampai 1908, dan kemudian oleh Hakim Nuruddin sampai 1914, jemaah ini terpecah menjadi dua golongan: pertama, Ahrnadiyah Qadian, yakni Ahmadiyah yang berpusat di Qadian dan dipimpin oleh Basyiruddin Mahmud Ahmad; dan kedua, Ahmadiyah Lahore, yakni Ahma­diyah yang berpusat di Lahore, dan dipim­pin oleh Maulana Muhammad Ali. Sejak terbentuknya negara India dan Pakistan pada 1947, Ahmadiyah Oadian memin­dahkan markasnya dari Qadian ke Rab­wah (di Pakistan), sedangkan Ahmadiyah Lahore tetap bermarkas di Lahore (juga di Pakistan).

Perbedaan antara kedua golongan terse­but adalah bahwa Ahmadiyah Qadian te­tap percaya akan status Mirza Gulam Ah­mad sebagai Nabi atau Rasul, Imam Mah­di, dan al-Masih yang dijanjikan Tuhan (sejak ia memproklamirkan status itu pada 1890), sedangkan Ahmadiyah Lahore

Advertisement

mempercayai status tersebut, tapi da­pat menghormatinya sebagai mujaddid (pembaharu). Dengan pendirian demikian, Ahmadiyah Lahore tidaklah memiliki aki­dah-akidah dasar yang bertentangan de­ngan pendirian umumnya umat Islam, ke­cuali dalam hal memandang Mirza Gulam Ahmad itu sebagai mujaddid. Sebaliknya antara Ahmadiyah Qadian dan kalangan ulama Islam, terjadi pertentangan keras yang sampai kepada tingkat saling meng­kafirkan. Ahmadiyah Qadian menganggap umat Islam yang tidak percaya atau tidak mengakui status Mirza Gulam Ahmad se­bagai Nabi atau Rasul, Imam Mandi, dan al-Masih itu, sebagai kaum kafir, seperti halnya kaum ahlul kitab yang dikafirkan karena tidak mengakui kerasulan Nabi Muhammad. Sebaliknya para ulama Islam memandang Ahmadiyah Qadian sebagai kaum murtad yang percaya pada nabi pal­su, seperti halnya para pengikut Musaila­mah al-Kazzab, yang dihancurkan oleh Khalifah Abu Bakar.

Kendati kedua golongan Ahmadiyah itu sangat giat melancarkan dakwah mereka ke seluruh penjuru dunia, baik ke negara­negara berpenduduk Islam atau bukan, mereka hanya mampu mendirikan cabang­cabang dengan pengikut-pengikut yang amat terbatas. Anggapan pokok bahwa Mirza Gulam Ahmad itu Rasul atau Nabi, Imam Mandi, al-Masih, abu Mujaddid, me­rupakan penghalang besar, yang menye­babkan mereka tidak memperoleh peng­ikut yang banyak.

Sebenarnya kedua golongan Ahmadi­yah itu tetap percava penuh dengan kitab suci al-Quran al-Karim dan Sunnah Nabi Muhammad. Mereka beriman pada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhirat, dan Takdir-Nya, serta berpegang kepada rukun Islam yang lima: mengakui dua kalimat syahadat, mendirikan salat, membayarkan zakat, puasa pada bulan Ramadan, dan naik haji. Pendeknya kitab al-Quran dan Sunnah Nabi yang mereka pegang tidak berbeda dengan yang dipegang oleh umat Islam. Mereka yakin bahwa Nabi Muhammad adalah khfftam al-anbiy’5; hanya saja me­reka (Qadian) mentakhsiskan atau me­nyempitkan artinya menjadi penutup na­bi-nabi yang membawa syariat. Nabi-nabi yang tidak membawa syariat masih dibu­tuhkan kehadirannya pada masa-masa se­sudah Nabi Muhammad. Mereka juga per­caya pada hadis Nabi yang berbunyi: “rd nabiyya ba`dr (tidak ada nabi sesudahku)”, tapi mereka sempitkan artinya menjadi: tidak ada nabi yang menyalahi atau me­nentangku. Dengan demikian tidak dinafi­kan adanya nabi-nabi yang akan mendu­kung ajaran Nabi Muhammad, sebagaima­na adanya banyak nabi-nabi sesudah Nabi Musa, yang bertugas untuk menegakkan syariat Musa.

Kaum Ahmadiyah memahami ayat al­Quran tentang tidak terbunuh dan tidak tersalibnya Nabi Isa, dengan pemahaman bahwa para pembunuhnya atau penyalib Nabi Isa, tidaklah berhasil membunuh atau menyalibnya sampai mati. Nabi Isa, menurut mereka, memang mengalami pe­nyaliban, tapi ia tidak disalib sampai ma­ti. Ia hanya pingsan dan tampak seperti mati (syubbiha lahum). Setelah diturun­kan dari salib oleh seseorang yang diam­diam telah menjadi pengikutnya, ia dira­wat dan disembunyikan sampai sembuh. Selanjutnya ia diam-diam menemui para muridnya, kemudian meninggalkan Palestina, dan mengembara sampai ke Kasymir. Setelah beristri dan mempunyai turunan, Nabi Isa ini wafat di Kasymir (India) itu. Adanya hadis-hadis yang tidak mutawatir, yang menyatakan akan datangnya kelak Isa al-Masih, diyakini oleh Ahmadiyah Qa­dian, sebagai akan datangnya seseorang yang berfungsi seperti Nabi Isa terhadap Nabi Musa. Orang itu dalam keyakinan mereka, tidak lain dari Mirza Gulam Ah­mad, yang sekaligus berstatus sebagai Imam Mandi, yang dipercayai adanya oleh sebagian umat Islam berdasarkan hadis-ha­dis juga.

Seandainya pada jemaah Ahmadiyah ti­dak ada lagi paham bahwa Mirza Gulam Ahmad itu Rasul atau Nabi, Imam Mandi, al-Masih, dan Mujaddid, agaknya pema­haman-pemahaman tentang ajaran Islam, seperti yang ditampilkan oleh penulis-pe­nulis mereka, tidak akan diabaikan oleh umat Islam. Pembelaan mereka terhadap Islam dari serangan orientalis, pertimbang­an-pertirnbangan ilmiah mereka, dan ra­sionalitas penafsiran mereka berbobot dan mengesankan bagi kaum terpelajar.

Advertisement