Advertisement

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berarti pengikut sunnah dan golongan mayoritas.
Maksudnya tidak lain dari mayoritas ulama dan umat Islam yang berpegang pada sunnah (perkataan, perbuatan, dan perse­tujuan) Nabi Muhammad, di samping ber­pegang kepada kitab suci al-Quran.

Tidak begitu jelas bagaimana bentuk dan frekuensi pemakaian ungkapan Ahlus Sunnah wal Jama`ah itu pada tiga abad pertama Hijrah, namun dapat diketahui bahwa sejak abad ke-10 (4 H) ungkapan tersebut sudah banyak dipakai. Para teo­log Asy`ariyah dan Maturidiyah yang muncul pada abad itu, serta ulama-ulama Hambaliyah (yang mengaku Salafiyah) yang bangkit sejak abad itu, banyak me­makai ungkapan itu dan mengacukannya kepada mayoritas ulama dan umat yang hidup pada tiga abad pertama Hijrah, yang mereka nilai berpendidikan sesuai dengan petunjuk sunnah Nabi Muhammad. Ma­sing-masing dari ketiga golongan teologi Islam itu, selain mengaku sebagai pengikut setia mayoritas ulama yang hidup pada tiga abad pertama Hijrah itu, juga menga­ku sebagai bagian atau eksponen kaum Ahlus Sunnah wal Jama`ah.

Advertisement

Menurut mereka (yang mengaku seba­gai eksponen Ahlus Sunnah wal Jama`ah), sejak timbulnya perselisihan-perselisihan di kalangan kaum muslimin setelah wafat­nya Nabi Muhammad, senantiasa mayori­tas ulama dan umat berpegang pada sun­nah Nabi. Ketika muncul paham Khawa­rij, yang menyatakan bahwa mukmin yang melakukan dosa besar jatuh statusnya menjadi kafir dan kekal kelak di neraka kalau tidak tobat sebelum meninggal du­nia, maka mayoritas ulama dan umat me­nilai paham tersebut menyalahi sunnah Nabi, dan karena itu menolaknya. Menu­rut mereka, Nabi tidak pernah mengkafir­kan pelaku dosa besar, seperti pezina, pen­curi, dan lain-lain; kendati Nabi menghu­kumnya, namun Nabi tetap memandang­nya sebagai mukmin, yakni mukmin yang fasik (berdosa). Karena itulah mereka ber­pendapat bahwa mukmin yang menjadi pelaku dosa besar, tidak jatuh menjadi ka­fir, tapi disebut mukmin yang berdosa, yang nasibnya kelak di akhirat terserah pada Tuhan. Bila Tuhan mengampuni, mukmin berdosa itu langsung masuk sur­ga, tapi bila tidak diampuni, ia tidak akan kekal di neraka. Pendirian mayoritas umat ini dinilai .sebagai pendirian yang meng­ikuti sunah Nabi.

Ketika timbul pula paham Syi`ah yang menyatakan bahwa sebenarnya jabatan khalifah (pengganti Nabi) haruslah dari se­mula diserahkan kepada Ali bin Abi Talib, dengan alasan adanya wasiat Nabi bagi pe­nunjukan Ali itu, maka mayoritas ulama dan umat pada waktu itu menilai bahwa alasan tersebut adalah alasan yang dibuat­buat. Mereka yakin bahwa sekiranya be­nar adanya wasiat itu, niscaya sahabat­sahabat utama, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan lain-lain tidak akan berani mengabaikan wasiat itu. Oleh karena itu mereka membenarkan kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, yang diang­kat berdasarkan musyawarah, Pendirian mayoritas ulama dan umat, yang membe­narkan pengangkatan khalifah berdasar­kan musyawarah itu, dinilai oleh eksp6- nen Ahlus Sunnah wal. Jama`ah, sebagai pendirian yang mengikuti sunnah Nabi, karena Nabi sering mencontohkan praktek bermusyawarah.

Begitu pula ketika di perempatan ter­akhir abad pertama dan berlanjut dengan abad .ke-2 Hijrah muncul para teolog yang memperbincangkan atau memperdebatkan banyak masalah dalam lapangan akidah, yang sebelum itu tidak pernah diperbin­cangkan baik oleh generasi sahabat mau­pun tablin, seperti memperbincangkan takdir, kalamullah, sifat-sifat Tuhan, dan lain-lain, maka mayoritas ulama, yang ter­diri dari ahli fikih dan hadis, tidak menyu­kai perbincangan tersebut, dan meman­dang bahwa perbuatan tersebut sebagai perbuatan bid’ah yang menyesatkan dan para pelakunya sebagai ahlul bid’ah. Mem­persoalkan bagaimana Tuhan bersemayam di atas arasy misalnya, adalah bid’ah, kata mereka. Mereka menjauhkan diri dari per­bincangan seperti itu, demi mengikuti sun­nah para sahabat dan tabiin yang tidak pernah memperbincangkan masalah aki­dah terse but. ,Eksponen Allius I Sunnah Jama`ah memandang bahwa sikap mayori­tas ulama tersebut sesuai dengan petunjuk sunnah Nabi.

Bersamaan .dengan itu, Mu`tazilah, yang

lahir pada awal abad ke-8 (2 H), memper­lihatkan pula kecenderun.gan banyak mengabaikan sunnah-sunnah yang tidak diriw.ayatkan sec.ara mutawatir, atau tidak memakainya. sebagai hujjah atau dalil da­lam lapangan akidah, karena sunnah-sun, nah demikian dipandang tidak pasti ber­asal dari Nabi, rnaka mayoritas ulama me­nyalahkan pendirian Mu`tazilah. Mereka berupaya menghimpun dan membukukan sunnah-sunnah Nabi, Mereka rnemegang sunnah-sunnah yang diabaikan oleh kaum Mulazilah • itu. Mereka merasa sebagai pembela sunnah dan Mulazilah dinilai se­bagai pengabai sunnah. Mereka menghu, bungkan diri mereka kepada sunnah dan memandang diri mereka sebagai ahlul hak (pengikut kebenaran), sedangkan minori­tas-minoritas muslim lainnya.sebagai ahlul bid’ah a.tau pengikut kesesatan.

Atas dasar itu semua, baik kaum Asy­`ariyah, maupun kaum Maturidiyah dan kaum Salafiyah, sejak abad ke-4 H itu, menegaskan predikat Ahlus Sunnah wal Jama`ah untuk mayoritas ulama atau umat Islam yang hidup pada tiga abad pertama Hijrah, dan juga menegaskan bahwa mere­ka adalah pengikut setia dan pantas pula menyandang predikat tersebut. •

Dewasa ini lazim muncul istilah kaum Sunni, yang maksudnya tidak lain dari kaum Ahlus Sunnah wal Jama`ah.

 

Advertisement