Advertisement

Ahlus Suffah secara harfiah berarti orang-orang beranda. Sebutan ini diberi­kan kepada sekelompok sahabat Nabi Mu­hammad (baik Muhajirin maupun Ansar), yang menjadi penghuni beranda Mesjid Nabi di Madinah. Mereka adalah para fakir miskin yang tidak memiliki keluarga, har­ta, rumah, dan mata pencaharian; karena itulah dibangunkan suffah (beranda) pada bagian belakang Mesjid Nabi, sebagai tem­pat tinggal atau asrama bagi mereka. Me­reka bukanlah orang-orang yang malas atau tidak mau bekerja, tapi sebenarnya adalah orang-orang yang berhati mulia; ke­terbatasan mata pencaharianlah yang me­nyebabkan mereka tidak memiliki • apa­apa.

Mereka tidaklah bersedih dengan kefa­kiran itu, bahkan berbahagia, karena da­pat memusatkan seluruh perhatian mereka untuk beribadat kepada Allah. Mereka se­panjang .siang dan malam berzikir, salat, menghafal al-Quran, memperhatikan su­nah-sunah Nabi, dan banyak berpuasa. Pendeknya mereka bertekun dalam iba­dat. Perhatian mereka penuh kepada Tu­han. Mereka tidak hirau dengan lapar atau – pun urusan harta. Memang kehidupan me­reka ditanggung ,oleh para sahabat Nabi yang berharta dan mempunyai mata pen­caharian, namun kebutuhan mereka kepa­da makan itu hanya sekedarnya saja, kare­na mereka sering berpuasa, dan kalau ma­kan, maka mereka berhenti sebelum ke­nyang. Mereka tidak mau meminta-minta.

Advertisement

Nabi Muhammad, selain mendorong pa­ra sahabatnya, juga memberi contoh ba­gaimana menenggang hati, memuliakan, dan mengakui keutamaan rohani yang di­miliki oleh kaum Ahlus Suffah. Digambar­kan oleh berbagai riwayat bahwa Nabi se­ring memperhatikan mereka dan sering makan bersama mereka. Bila berjabat­tangan dengan mereka, maka Nabi tidak­lah melepaskan jabat-tangan itu, sebelum mereka sendiri lebih dulu melepaskannya. Bila duduk bersama mereka, maka Nabi baru bangkit setelah mereka lebih dulu bangkit mohon diri. Para sahabat Nabi yang lain juga bersungguh-sungguh memu­liakan dan m.enghargai kebulatan hati me­reka untuk beribadat. Sikap Nabi dan para sahabat terhadap mereka adalah sejalan dengan peringatan Tuhan agar jangan ber­paling dari mereka, karena hendak mem­perhatikan pihak lain yang akan diajak ke jalan Islam: “Dan bersabarlah kamu bersa­ma mereka yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan sore demi mengharapkan rida-Nya. Dan janganlah kamu berpaling dari mereka; karena mengharapkan per­hiasan hidup duniawi. Janganlah kamu ikuti orang yang hatinya telah Kami lalai­kan dari mengingat Kami, serta telah me­nuruti hawa nafsunya, dan adalah keada­annya melewati batas.” (18:27)

Adanya suffah dan para penghuninya pada masa hidup Rasulullah, telah menja­di dasar percontohan bagi para sufi beberapa- abad kemudian. Mereka mendirikan asrama khusus bagi murid-murid mereka yang hendak membulatkan hati beribadat kepada Tuhan. Asrama yang menyerupai kedudukan suffah itu disebut •ibat, se­dang para penghuninya dikenal dengan na­ma ahl ar-ribat. Karena kedudukan suffah itu pulalah maka muncul pendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata suffah, tapi pendapat ini tidaklah benar.

Menurut at-Tusi dalam bukunya, al­Luma’ fr at-Tapwwuf, jumlah Ahlus Suf­fah itu lebih dari 300 orang, tapi al-Hujwi­ri dalam kitabnya, Kasyf tidak menyebutkan jumlah mereka. Hujwiri me­ngatakan bahwa di antara Ahlus Suffah itu adalah Bilal bin Rabah, Salman al-Fa­risi, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Abu al­Yaqzan, Ammar bin Yasir, Abdullah bin Mas`ud al-Huzali, Utbah bin Mas`ud, Miq­dad bin al-Aswad, Khabbab bin al-Art, Su­haib bin Sinan, Utbah bin Gazwan, Zaid bin al-Khattab, Abu Kabsyah, Abu al-Mar­sad Kinanah bin al-Husein al-Adawi, Salim maula Huzaifah al-Yamani, Ukkasyah bin Mihsan, Mas`ud bin Rabi al-Farisi, Abu Zar al-Giffari, Abdullah bin Umar, Safwan bin Baida, Abu Darda, Abu Lubabah, dan Abdullah bin Badr al-Juhani. Al-Hujwiri juga mencatatkan 12 nama lagi, yang ber­asal dari keterangan as-Sulami; Abu Hurai­rah, seorang perawi hadis, tercatat di anta­ra 12 nama tersebut.

Perlu pula ditanibahkan bahwa para Ahlus Suffah itu juga ikut berperang demi membela Islam, dan menjadi pengajar al­Quran dan sunnah Nabi, tatkala orang te­lah berbondong-bondong memasuki Islam dan butuh kepada penjelasan tentang ajar­an Islam. Salman al-Farisi misalnya adalah ahli strategi-perang, yang mengusulkan penggalian parit, sebagai alat pertahanan menghadapi pengepungan dalam Perang Khandak (5 H); Abu Ubaidah bin al-Jar­rah adalah panglima tertinggi yang diang­kat Khalifah Umar untuk menaklukkan Syam; dan Abdullah bin Mas`ud pernah menjadi hakim di Kufah.

 

Incoming search terms:

  • sebutkan nama masjid yang pertama kali dibangun oleh Rosululloh saw

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • sebutkan nama masjid yang pertama kali dibangun oleh Rosululloh saw