Advertisement

Ahlul Makrifah se­cara harfiah berarti orang-orang yang ber­pengetahuan, Dengan arti umum, term ini mengacu kepada mereka yang menguasai pengetahuan yang banyak, luas atau men­dalam, dalam salah satu (atau lebih) dari sekian banyak cabang pengetahuan yang ada. Penguasaan mereka sedemikian rupa, sehingga mereka dapat dengan mudah memfungsikannya untuk menjawab atau memecahkan persoalan-persoalan dalam cabang pengetahuan yang mereka kuasai itu. Wibawa dan fungsionalitas pengetahu­an mereka diakui dan dihargai orang. Pe­mahaman akal mereka dalam cabang pe­ngetahuan itu tajam dan kritis. Dengan ar­ti umum ini, ahlul Makrifah mencakup ulama-ulama dalam lapangan agama, se­perti ulama fikih, ulama tafsir, ulama ha­dis, ulama kalam, dan lain-lain, serta ahli­ahli dalam lapangan lain, seperti ahli ke­dokteran, ahli falsafat, ahli ekonomi, ahli fisika, ahli matematika, dan lain sebagai­nya. Ahlul Makrifah dengan pengertian umum ini dapat pula disebut dengan Ah­lul Ilmi (ahl al-71m).

Dengan arti khusus, Ahlul Makrifah mengacu kepada orang-orang yang memi­liki pengetahuan hakiki tentang Tuhan dan segenap alam metafisik. Para filosof dan teolog rasional muslim percaya bahwa pengetahuan hakiki dapat ditangkap oleh daya akal teoritis manusia, terutama sete­lah akal itu memiliki pengetahuan yang mendalam tentang dunia empiris, dan menjadi tajam serta terlatih berfikir ten tang dunia empiris, dan menjadi tajam ser­ta terlatih berfikir tentang hal-hal yang abstrak. Ahlul Makrifah -dengan arti khu­sus ini mereka sebut juga Ahlul-Hikmah (ahl al-hikmat). Sebaliknya kaum sufi ti­dak percaya pada kemampuan akal. Me­nurut mereka, pengetahuan hakiki tentang Tuhan dan alam metafisik, hanya diper­oleh lewat penyaksian langsung hati-nura­ni yang suci terhadap Tuhan dan alam me­tafisik tersebut. Tanpa penyaksian lang­sung oleh mata hati nurani, kemantapan hati untuk menerima kesimpulan-kesim­pulan akal tentang Tuhan dan alam meta­fisik masih saja dalam taraf yang dapat di­goyahkan; dengan kata lain hati masih da­pat dibolak-balik ,antara membenarkan atau menolak kesimpulan-kesimpulan akal tersebut. Bila dinding yang membatasi hati nurani dengan Tuhan dan alam meta­fisik telah dapat disingkirkan, dan mata hati nurani telah menyaksikan langsung wilayah metafisik, maka kemantapan hati untuk meyakini hakikinya pengetahuan tentang Tuhan dan alam metafisik itu, ti­dak mungkin lagi dapat digoyahkan, se­perti tak akan tergoyahkannya keyakinan hati tentang benarnya pengetahuan bahwa sepuluh lebih banyak dar.i lima. Menurut kaum sufi, selain nabi, hanya para sufi sa­jalah yang telah beroleh pengetahuan ha­kiki, dan mereka sajalah yang dimaksud­kan dengan Ahlul Mfficrifah itu. Mereka ju­ga bisa disebut Ahlul Hakikah.

Advertisement

 

Advertisement