Advertisement

Ahliah (Ahliyat) berarti kebolehan atau kecakapan bertindak. Ada dua bentuk ah­liah yang dikenal dalam hukum Islam, ahliyat alwuffib dan ahliyat al-ada”.

Ahliyat al-wujith ialah kelayakan atau kebolehan seseorang untuk menerima hak dan memiliki sesuatu. Tempat terpaut ke­bolehan ini ialah adanya suatu potensi da­lam diri manusia. Dengan potensi itu ia la­yak untuk menerima hak dan memiliki se­suatu. Potensi ini akan selalu ada pada diri manusia selama ia masih hidup, baik telah balig berakal, maupun tidak atau belum berakal, karena tempat bertautnya adalah kedudukan seseorang sebagai manusia yang bernyawa. Selama ia masih hidup di dunia potensi itu akan selalu terpaut pada dirinya.

Advertisement

Ada dua periode yang dilalui manusia dalam kaitannya dengan ahliyat al-wujrcb:

Pertama periode janin (anak yang masih dalam perut ibunya). Janin hidupnya be­lum dianggap sempurna, karena masih ter­kait dengan hidup ibunya. Sebab itu po­tensinya untuk menerima hak dan memi­liki sesuatu walaupun telah ada tetapi ma­sih belum sempurna. Oleh karena hak me­miliki sesuatu itu belum sempurna, maka terhadap harta yang diperuntukkan kepa­danya belum dikenakan kewajiban-kewa­jiban seperti zakat dan sebagainya.

Kedua periode dari waktu lahir sampai wafat. Pada periode ini seseorang telah memiliki ahliyat secara sempur­na. Artinya ia telah mempunyai keboleh­an secara sempurna untuk menerima hak dan secara utuh mempunyai potensi un­tuk memiliki sesuatu. Oleh karena hak mi­liknya terhadap sesuatu telah dianggap sempurna, maka terhadap hartanya dike­nakan kewajiban-kewajiban seperti zakat, nafkah orang yang wajib dinafkahinya dan lain sebagainya. Dalam hal seseorang itu belum atau tidak mernpunyai ahliyat al­ada’ (kecakapan bertindak), maka atas na­manya kewajiban-kewajiban tersebut di­laksanakan oleh penanggung jawab harta­nya. Segala tindakan penanggung jawab hartanya yang menyangkut pembayaran kewajiban-kewajiban hartanya tersebut, mengikatnya setelah ia dewasa atau mem­punyai ahliyat Dalam bidang tak­lif kewajiban seperti ibadat, secara poten­sial ia telah mempunyai kelayakan meneri­ma kewajiban-kewajiban itu, tetapi belum atau tidak dituntut untuk melaksanakan­nya selama ia belum mempunyai ahliyat

Ahliyat al-adr ialah kecakapan sese­orang untuk menunaikan ibadat dan un­tuk bertindak. Dengan adanya kecakapan ini seseorang disebut mukallaf, artinya ia dituntut untuk melaksanakan segala ben­tuk taklif (kewajiban), dan segala tindak­annya diperhitungkan oleh hukum Islam. ,

Tempat berpaut ahliyat-aladr ini ialah akal. Oleh sebab itu kesempurnaannya ter­gantung pada kesempurnaan akal sese­orang. BerdaSarkan itu ahli hukum mem­bagi periode yang dilalui manusia dalam kaitannya dengan ahliah ini kepada tiga tahap:

Pertama, periode anak-anak sebelum mumayyiz. (dapat membedakan yang me­rugikan dan .menguntungkan bagi dirinya). Pada periode ini karena belum mempunyai akal sama sekali, walaupun ia telah mem­punyai ahliyat al-wujrib, belum mempu­nyai ahliyat Oleh sebab itu segala tindakannya belum diperhitungkan di ha­dapan hukum Islam, kecuali tindakan yang merugikan orang lain, ia hanya dihu­kum dengan denda harta, tidak dengan hukuman badaniah, Terhadap hartanya di­kenakan kewajiban-kewajiban_ seperti za­kat, karena hal itu menyangkut pembiaya­an harta. Tetapi ia -belum terkena taklif ibadat karena belum mempunyai akal.

Kedua, periode setelah mumayyiz, umur tujuh tahun, sampai balig berakal. Pada periode ini seseorang, karena sudah mempunyai pertimbangan tetapi belum selayaknya seperti yang dipunyai seseorang yang telah sempurna berakal, ia telah mempunyai ahliyat al-adr (kecakapan menunaikan kewajiban dan bertindak) te­tapi belum sempurna. Ia hanya mempu­nyai wewenang untuk bertindak tanpa izin penanggung jawabnya dalam hal-hal yang. menguntungkannya, seperti meneri­ma pemberian, menerima harta wasiat, menerima wakaf dan sebagainya. Adapun tindakan-tindakan yang merugikan tidak­lah dianggap sah, seperti menghibahkan, berwasiat, jual beli dengan kerugian yang mencolok, dan memberikan sumbangan. Dalam hal-hal yang boleh jadi mengun­tungkan dan .boleh jadi merugikan seperti jual beli baru dianggap sah apabila menda­pat izin dari penanggung jawabnya. Dalam hal ibadat yang bersifat rutin seperti salat, puasa dan sebagainya, ia belum dituntut untuk melaksanakannya, artinya belum berdosa jika meninggalkannya, walaupun orang tuanya berkewajiban untuk melatih­nya. .Adapun ibadat yang bukan bersifat rutin, seperti haji yang hanya wajib satu kali selama hidup, bila dikerjakannya pada periode ini, walaupun dianggap sah, tetapi setelah dewasa wajib diulangi lagi.

Ketiga, periode setelah balig berakal. Pada periode ini seseorang telah dituntut mengerjakan segala suruhan dan menjauhi segala larangan. Segala tindakannya telah dianggap dan diperhitungkan di muka hu­kum. Akan tetapi mengenai harta, wewe­nangnya baru dianggap sah apabila ada rusyd, yaitu kemampuan mengendalikan harta. Seseorang yang telah balig tetapi ti­dak tahu menggunakan hartanya seperti mubazir, tidak dianggap cakap memegang hartanya. Oleh sebab itu penanggung ja­wab hartanya belum boleh menyerahkan hartanya dan berkewajiban membimbing­nya.

Advertisement