Advertisement

Agama adalah kata Sangskerta, yang pada mulanya masuk ke Indonesia sebagai nama kitab suci golongan Hindu Syiwa (kitab suci mereka bernama Agama). Kata itu kemudian menjadi dikenal luas dalam masyarakat lndonesia. Akan tetapi dalam penggunaannya sekarang, ia tidak menga­cu kepada kitab suci tersebut. Ia dipahami sebagai nama jenis bagi keyakinan hidup tertentu yang dianut oleh suatu masyara­kat, sebagaimana kata dharma (juga dari bahasa Sangskerta), din (dari bahasa Arab), dan religi (dari bahasa Latin) dipahami.

Ada tiga pendapat yang dapat dijumpai berkenaan dengan arti harfi kata agama itu. Pertama mengartikan tidak kacau, ke­dua tidak pergi (maksudnya diwarisi turun temurun), dan ketiga jalan bepergian (mak­sudnya jalan hidup). Lepas dari masalah pendapat mana yang benar, masyarakat beragama pada umumnya memang me­mandang agama itu sebagai jalan hidup yang dipegang dan diwarisi turun temurun oleh masyarakat manusia, agar hidup me­reka menjadi tertib, damai, dan tidak ka­cau.

Advertisement

Para ahli agama sulit menyepakati apa yang menjadi unsur esensial agama. Na­mun hampir semua agama diketahui me­ngandung empat unsur penting berikut:

  • Pengakuan bahwa ada kekuatan gaib yang menguasai atau mempengaruhi kehi­dupan manusia.
  • Keyakinan bahwa keselamatan hidup manusia tergantung pada adanya hubung­an baik antara manusia dengan kekuatan gaib itu.
  • Sikap emosional pada hati manusia terhadap kekuatan gaib itu, seperti sikap takut, hormat, cinta, penuh harap, pasrah, dan lain-lain.
  • Tingkah laku tertentu yang dapat di­amati, seperti salat (sembahyang), doa, puasa, suka menolong, tidak korupsi dan lain-lain, sebagai buah dari tiga unsur per­tama.

Tiga unsur pertama itu merupakan jiwa agama, sedangkan unsur keempat merupa­kan bentuk lahiriahnya.

Keyakinan atau pengakuan adanya ke­kuatan gaib, merupakan keyakinan pokok dalam semua agama, kecuali dalam agama Buddha Hinayana. Masyarakat primitif umumnya meyakini adanya tiga macam kekuatan gaib, yaitu: kekuatan sakti (ma­na), roh-roh (terutama roh-roh manusia yang telah wafat), dan dewa-dewa atau Tuhan. Mereka dapat sekaligus berpaham dinamisme, yakni mempercayai bahwa tiap-tiap benda dapat ditempati oleh ke­kuatan sakti, yang bisa memberikan man­faat atau malapetaka kepada manusia; ber­paham animisme, yakni mempercayai bah­wa tiap-tiap benda dapat ditempati oleh roh-roh, terutama roh-roh manusia, yang dapat menolong atau mengganggu manu­sia; dan berpaham politeisme, yakni mem­percayai dan menyembah banyak dewa yang mereka anggap mempunyai kekuatan lebih besar dari roh-roh; atau berpaham henoteisme, yakni menyembah satu dewa atau satu tuhan, tapi tidak mengingkari adanya para dewa atau tuhan-tuhan lain yang menjadi: saingan bagi dewa atau tuhan yang mereka sembah. Pada masya­rakat primitif sebenarnya juga terdapat keyakinan tentang adanya Dewa atau Tu­han Tertinggi, yang menciptakan para de­wa dan alam semesta semuanya; akan teta­pi sebagian mereka cenderung menyem­bahnya dan sekaligus menyembah dewa­dewa yang lain, bahkan sebagian lagi cen­derung tidak menyembahnya, karena di­anggap terlalu jauh untuk disembah, se­perti perlakuan masyarakat Arab Jahiliyah terhadap Allah.

Masyarakat maju atau modern yang beragama, pada umumnya cenderung pada paham monoteisme, yakni meyakini ha­nya ada satu Tuhan, yang menciptakan se­genap alam; tidak ada Tuhan selain Dia, seperti rumusan syahadat umat Islam: 10c7Fia illa All7i (tidak ada Tuhan selain Allah). Umat Islam, Yahudi, Kristen, Hin­du, Buddha Mahayana, mengaku bahwa agama masing-masing adalah agama mono­teisme.

Secara teologis, ulama Islam membagi agama-gama yang ada di dunia ini menjadi dua kelompok.

Pertama adalah agama wahyu, yakni agama yang diwahyukan Tuhan kepada para rasul-Nya yang banyak, seperti kepa­da Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Isa, dan terakhir kepada Nabi Muhammad. Keyakinan sentral da­ lam agama wahyu, yang diajarkan para ra­sul Tuhan itu, pada masa hidup masing­masing, tidak lain dari tauhidult5h (meng­esakan Allah), yakni mengakui tidak ada Tuhan selain Allah, dan hanya kepada­Nya saja ubudiah serta ketaatan ditujukan secara langsung. Tidak ada perobahan da­lam ajaran agama wahyu berkenaan de­ngan aspek akidah (keyakinan), tapi boleh saja, bahkan perlu terjadi perobahan ajar­annya mengenai syariat, yang mengatur muamalat dengan Tuhan dan dengan sesa­ma manusia.

Kedua adalah agama bukan wahyu, yakni agama-agama yang muncul sebagai hasil budaya khayal, perasaan, atau pikir­an manusia. Tidak semua yang dihasilkan oleh budaya manusia mesti bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh wahyu. Namun agama-agama yang mempunyai akidah yang bertentangan dengan akidah tauhidullah dapat ditegaskan sebagai aga­ma bukan wahyu.

Kehadiran agama wahyu pada hakikat­nya adalah untuk membimbing umat ma­nusia, agar memiliki akidah-akidah yang benar, yang bersih dari khurafat-khurafat yang batil, dan memiliki peraturan-per­aturan hidup yang luhur, demi kemasla­hatan mereka. Agama wahyu telah berpe­ranan mendorong umat manusia untuk berjuang keras demi mewujudkan kemas­lahatan mereka di dunia dan di akhirat. Ia telah mendorong bagi kemajuan ilmu dan peradaban manusia. Kemajuan ilmu dan peradaban ini niscaya tidak akan mengan­cam eksistensi agama wahyu, tapi sebalik­nya dapat membantu agama wahyu yang terakhir, Islam, dalam upayanya mencapai cita-cita luhur, termasuk mengikis khura­fat yang batil dari hati manusia.

Advertisement