Advertisement

Agama, Selain isu suku yang di sebutkan di atas, ada isu lain dalam politik Indonesia: yaitu dimensi agama yang dihubungkan dengan kesukuan. Agama-agama yang ada di Indonesia: Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada zaman Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia, sedangkan kelima agama lainnya diakui secara resmi oleh pemerintahan Orde Baru. Pada zaman pemerintahan Gus Dur, istilah agama resmi dan tidak resmi dihapuskan. Menurut Gus Dur yang mengetahui apakah suatu agama dapat dikatakan sebuah agama atau bukan, bukanlah negara tapi adalah penganutnya sendiri (Kompas,18 dan 19 Maret 2000).

Dari agama-agama yang disebutkan di atas, agama Islam memiliki penganut yang terbanyak. Tidak kurang dari 90 % dari penduduk Indonesia menganut agama Islam. Tapi menurut Geertz (1959 : 126 — 130) dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu: kelompok abangan (kejawen atau agami jawi) dan santri. Kelompok yang pertama disebut bersifat sinkretis dalam kepercayaannya dan sering juga disebut sebagai Muslim nominal. Kuatnya pengaruh unsur-unsur agama Hindu dan Jawa sering membedakan mereka dari yang lebih Islam dalam kepercayaan dan praktek-praktek agama mereka. Kaum abangan percaya kepada Allah, tetapi mereka juga menyembah dewa/dewi Hindu seperti Batara Kala (Dewa kematian dan waktu) dan Dewi Sri (Dewi Padi). Mereka juga mempercayai makhluk halus dan kekuatan gaib, misalnya pohon beringin yang mereka anggap sebagai tempat tinggal dari makhluk halus, sedangkan keris dan gamelan (alat musik orang Jawa) sering memiliki kekuatan adi kodrati.

Advertisement

Meskipun kategori abangan dan santri pada awalnya belaku untuk orang Jawa, namun kategori ini sekarang juga dapat dipakai untuk membedakan populasi Indonesia secara keseluruhan; mereka yang merupakan Muslim nominal dan mereka yang merupakan Muslim yang kuat. Rakyat yang tinggal di daerah pesisiran cenderung lebih islami, sedangkan mereka yang tinggal di daerah pedalaman cenderung lebih “pribumi” (Geertz, 1959: 126)

Kaum muslimin di Indonesia tidak hanya terbagi dalam kelompok abangan dan santri, tapi mereka juga terbagi dalam aliran modern dan tradisional. Di samping kaum muslimin, banyak di antara orang Jawa dan Manado yang beragama Katolik, orang Batak dan Ambon beragama Protestan dan Hindu Bali. Meskipun mereka warga minoritas, namun mereka sangat berpengaruh dalam masyarakat Indonesia. Beberapa posisi penting di pemerintahan banyak diwakili oleh golongan minoritas ini.

Kebijaksanaan integrasi nasional ba’ tampak diterapkan oleh pemerintah Indonesia ketika hendak mengatur masyarakatnya yang plural. Untuk tujuan pembicaraan ini, integrasi nasional didefinisikan dalam rangka menciptakan identitas nasional. l’enciptaan identitas kebudayaan Indonesia adalah salah satu tujuan integrasi nasional.

Karena Indonesia merupakan negara yang multi agama, maka Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang rawan terhadap disintegrasi bangsa. Banyak gejala disintegrasi bangsa yang terjadi akhir-akhir ini melibatkan agama sebagai faktor penyebabnya. Kasus Ambon yang sudah memakan waktu lebih dari satu tahun, seringkali

isukan sebagai pertikaian antara dua kelompok agama meskipun isu ini belum tentu benar. Akan tetapi, isu agama adalah salah satu isu yang mudah menciptakan konflik.

Salah satu jalan yang dapat mengurangi resiko konflik antar agama adalah perlunya diciptakan tradisi saling menghormati antara agama-agama yang ada (Franz Magniz Suseno, 1995:174). Mcnghormati berarti mengakui secara positif dalam agama dan kepercayaan orang lain. Berarti mampu juga belajar satu sama lain.

Sikap saling menghormati dan menghargai, dapat memungkinkan orang dari agama-agama yang berbeda bersama-sama berjuang demi pembangunan yang sesuai dengan martabat yang diterima manusia dari Tuhan. Solidaritas dengan orang-orang kecil, iniskin, lemah dan menderita, keadilan sosial, pembebasan dari pen indasan, perkosaan dan perwujudan kehidupan yang lebih demokratis, adalah hal-hal yang dapat dilakukan oleh agama-agama secara bersama-sama, untuk tujuan pembangunan bangsa.

Yang dipikirkan sekarang adalah bagaimana menciptakan dialog antar agama. Barangkali dapat dikatakan bahwa obyek dialog antara agama bukan langsung menyentuh keyakinan agama. Sebab ?myak orang beranggapan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah obyck untuk diperdebatkan. Yang mungkin kita dialogkan adalah bagaimana memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi ditengah¬tengah masyarakat, membongkar kesalahpahaman yang selalu terjadi dalam hubungan agama sealama ini, serta usaha untuk mewujudkan kehidupan masyarakat dengan cara yang lebih positif, lebih sesuai dengan kaedah-kaedah moral keagamaan.

Advertisement