Advertisement

Adabiyah School didirikan menjelang akhir 1908 di Padang, Sumatra Barat. Pa­da tahun permulaan kegiatannya, 1909, muridnya diperkirakan tidak melebihi jumlah dua puluhan. Sebagian besar mu­rid-muridnya datang dari anak-anak para pedagang. setempat Sekolah Adabiyah ini, sesungguhnya, merupakan sekolah dasar yang hampir tidak berbeda dengan seko­lah .HIS (Hollandseh Inlandsche School). Kecuali itu, di Sekolah Adabiyah ini mata pelajaran agama dan al-Quran termasuk mata pelajaran yang diwajibkan.

Rupanya, sekolah ini sejak awal didiri­kannya tidak, luput dari pengawasan pe­merintah Belanda.. Untuk lebih memudah­kan memantau dan mengendalikan proses teaching and learning, dengan alasan ban­tuan dana demi kelangsungan sekolah ter­sebut, pemerintah menawarkan subsidi­nya. Akhimya, pada 1915 Sekolah Ada­biyah tidak dapat menolak, kecuali harus menerima subsidi dari pemerintah. Sudah barang tentu, menerima subsidi berarti menerima segala konsekuensi politisnya. Konsekuensi pertama adalah bahwa seko­lah Adabiyah harus mengubah nama de­ngan Hollandsch Maleische School Adabi­yah (HMSA). Konsekuensi selanjutnya adalah kepala sekolahnya harus seorang Belanda.

Advertisement

Sejak itu, Sekolah Adabiyah yang telah berganti nama kehilangan kebebasannya. Lebih dari.itu, bukan saja sekolah ini yang sejak semula diharapkan dapat menum­buhkan kecerdasan dan kesadaran baru keagamaan telah terlepas dari genggaman masyarakat, melainkan juga porsi pelajar­an agamanya semakin dikurangi. Sejak semula, pentingnya kehadiran sekolah ini terletak pada kenyataan bahwa ia, selain lembaga pendidikan perintis yang berusa­ha. merombak sistem p.endidikan tradisio­nal, juga merupakan lembaga pendidikan modern yang diprakarsai dan diasuh lang­sung oleh kalangan Islam, khususnya yang mempunyai orientasi pembaharuan.

Advertisement