Advertisement

Ad (‘Ad) adalah nama suatu kaum. In­formasi tentang mereka dapat dijumpai dalam al-Quran. Disebutkan dalam kitab suci ini bahwa mereka adalah generasi se­sudah Nabi Nuh (7:70), tinggal di Ahqaf (46:21), dan kepada mereka Tuhan meng­utus rasul-Nya, Hud (11:51). Mereka, yang juga disebut Ad Pertama (53:50) atau Ad Iram (89:6,7), telah dikaruniai Tuhan dengan karunia yang banyak, beru­pa turunan binatang-binatang ternak, ta­nah-tanah perkebunan, dan sumber-sumber mata air (26: 134,135). Mereka mampu membangun benteng-benteng kuat dan monumen-monumen menjulang di tem­pat-tempat yang tinggi, rnenunjukkan ke­hebatan diri mereka (26: 128, 129). Me­reka merasa sebagai kaum yang paling ku­at, sehingga menjadi sombong dan cen­derung bertindak kejam seperti penguasa tirani (41:15).

Lebih lanjut dapat dipahami dari infor­masi al-Quran bahwa mereka menganut kepercayaan kepada banyak dewa atau mempersekutukan Allah dengan dewa-de­wa tersebut. Karena itulah Nabi Hud yang lahir di kalangan mereka diutus Allah un­tuk menasihati dan mengajak mereka agar kembali kepada akidah yang benar, yakni akidah tauhid: menyembah Allah semata. Terjadilah dialog-dialog antara Nabi Hud dengan kaum Ad, yang di dalam al-Quran dilukiskan antara lain sebagai berikut:

Advertisement

Hud berkata, “Hai kaumku, sembah­lah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu, Tu­han selain Dia; kamu hanyalah mengada­ada saja. Hai kaumku, aku tidaklah me­minta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku; tidakkah ka­mu memikirkannya? Hai kaumku, mohon­lah keampunan kepada Tuhanmu lalu ber­tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menu­runkan hujan yang lebat atasmu dan Dia akan menambah kekuatan kamu, dan ja­nganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (11:50-52)

Kaum Ad menjawab, “Hai Hud, kamu tidaklah mendatangkan kepada kami sua­tu bukti nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami ka­rena pembicaraanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayaimu. Kami hanya dapat mengatakan bahwa sebagian dari tu­han-tuhan kami akan menimpakan keja­hatan (penyakit gila) kepadamu.” (11:53- 54)

Hud berkata, “Sesungguhnya aku ber­saksi kepada Allah dan saksikanlah oleh kamu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu perseku­tukan dari selain-Nya; oleh sebab itu jalan­kanlah tipu dayamu semuanya terhadap­ku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu. Tidak ada suatu binatang melata pun me­lainkan Dia-lah yang memegang ubun­ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, ma­ka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikannya) kepadamu. Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; kamu tidak akan dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (11:54-57)

Dialog-dialog yang lain antara kaum Ad dan Hud dapat dijumpai pada ayat­.ayat 26:124-138 dan 7:6571. Selain telah menolak seruan Nabi Hud, mereka (teru­tama para pemuka yang kafir) menghina NaW Hud sebagai pendusta dan orang yang kurang akal. Mereka bahkan membe­rikan tantangan kepada Hud dengan me­ngatakan, “Datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu terma­suk orang-orang yang benar.”

Selanjutnya menurtrt al-Quran, kaum Ad diazab Tuhan dengaii bencana badai kencang dan dingin terus-menerus selama tujuh malam dan delapan hari. Mereka yang kafir itu mati bergelimpangan, seper­ti pohon kurma yang •tumbangan karena tunggul-tunggulnya yang keropos (54:19, 20; 69:6,7). Yang selamat dari azab itu hanyalah Nabi Rud bersama sejumlah me­reka yang mengikuti seruannya (7:72).

Para ahli, setelah membandingkan in­formasi al-Quran dengan informasi-infor­masi lain (dari kitab Kejadian, penulis-pe­nulis klasik, eksplorasi arkeologis) keba­nyakan menyatakan bahwa kaum Ad yang dibicarakan oleh al-Quran itu adalah satu dari sejumlah suku Arab yang punah (bWat); diperkirakan bahwa kaum Ad itu hidup lebih kurang 30 abad sebelum Masehi. Mereka merupakan suku Arab yang terkuat, yang menguasai kawasan Arabia Selatan, yang meliputi Yaman, Ha­dramaut, dan Oman; bahkan ada ahli yang berteori bahwa mereka juga menguasai ba­gian timur Arabia, yang menghadap ke te­luk Persia. Para ahli tradisi Arab kuno me­nunjukkan bahwa tokoh (pribadi) Ad sendiri adalah generasi keempat sesudah Nuh; Ad itu menurut mereka adalah pu­tra Aus, putra Iram, putra Sam, putra Nuh. Nabi Hud sendiri sebagai anggota ka­um Ad, berada dalam generasi ketiga se­sudah Ad. Menurut mereka, Hud adalah putra Rabah, putra Khulud, putra Ad.

Menurut para ahli, golongan beriman bersama Nabi Hud menyingkir ke Hijaz, sebelum datangnya bencana badai yang memunahkan kaum Ad yang kafir. Bila mereka yang ptinah itu dapat disebut ka­um Ad! Pertama, maka mereka yang sela­mat bersama Nabi Hud, kemudian mela­hirkan generasi-generasi penerus yang da­pat disebut sebagai kaum Ad Kedua, ter­masuk di dalamnya kaum Samud dan Na­bi Salih, yang mendiami kawasan barat laut jazirah Arabia.

Advertisement