Advertisement

Abd berasal dari kata `abada yang berarti menyembah atau menghambakan diri. Ka­ta `abd itu sendiri berarti hamba. Aktivitas pengabdian diri kepada Allah disebut iba­dat. Ibadat adalah suatu yang amat mulia dalam kehidupan manusia, karena untuk itulah ia dijadikan Allah. Allah menyebut Rasulullah dengan panggilan `abd (lihat surat al-Baqarah ayat 23), karena pada diri Rasulullah terdapat puncak pengabdian kepada-Nya. Dan pengabdian tersebut, se­orang hamba sahaya disebut `abd. Kata `abd dalam istilah fikih berarti seorang hamba sahaya. Istilah lain yang searti de­ngannya ialah ar-ragiq, dan ka­ta al-amat yang khusus bagi hamba sahaya wanita.

Islam datang empat belas abad yang lampau, di saat perbudakan manusia oleh manusia menjadi ciri khas kalangan ma­syarakat waktu itu. perbudakan diakui oleh peraturan masyarakat, dan dengan perbudakan itu kebebasan seseorang seba­gai manusia dirampas. Seorang abd (bu­dak) tidak berhak melakukan suatu akad transaksi atau suatu tindakan yang akan menimbulkan suatu tanggungjawab, kare­na mereka dianggap tidak cakap untuk itu semua. Bahkan seorang hamba tidak berhak untuk memiliki, dan justru diri mereka sendiri adalah milik orang lain yang bisa berbuat sekehendak hati terha­dapnya, sampai bisa memperjualbelikan­nya.

Advertisement

Ada beberapa hal yang menyebahkan seseorang bisa dimiliki atau diperbudak orang lain sebelum muncul agama Islam, yaitu:

  1. Menjual dirinya sendiri atau anak dan istrinya, sehingga ia menjadi budak dari si pembelinya. Penjualan diri bisa teija­di disebabkan karena didesak kemiskin­an, atau disebabkan tidak mampu menutupi hutang yang menumpuk.
  2. Menculik orang-orang merdeka dan merampas segala hartanya sedangkan orang­nya dijadikan hamba sahaya. Hal itu bisa terjadi pada orang-orang yang tidak mempunyai kabilah (kelompok) yang mampu mempertahankannya.
  3. Melakukan suatu tindakan pidana, se­perti berzina, mencuri dan membunuh. Sanksi hukumnya, seseorang yang mela­kukan tindakan-tindakan tersebut, bisa dijadikan hamba sahaya oleh pihak yang dirugikan.
  4. Ditawan dalam suatu peperangan antara suku atau antara bangsa, baik peperang­an yang bertujuan untuk menaklukkan suatu kabilah atau satu bangsa lain, maupun suatu serangan balas dendam. Dalam kondisi yang demflcianlah agama Islam datang.

Sebab-sebab perbudakan tersebut, tidak satu pun yang dipraktekkan dalam Islany. Dalam al-Quran tidak didapati satu ayat pun yang mendukung praktek perbudak­an. Yang ada justru anjuran untuk mele­paskan seseorang dan belenggu perbudak­an. Rasulullah sendiri, seperti dicatat oleh Said Sabiq dalam Fikih Sunnah-nya, tidak pernah menjadikan tawanan perang seba­gai budak, bahkan sebaliknya begitu ia memenangkan kota Mekah, ia banyak membebaskan hamba sahaya yang .acla di sana. Demikian pula dilakukannya terha­dap hamba sahaya Bani Mustaliq dan per­kampungan Hunain, di waktu kedua nege­ri tersebut dapat ditaklukkan oleh umat Islam. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah memerdekakan setiap hamba sahaya yang kebetulan dihadiah­kan kepadanya.

Apa yang dilakukan dalam Islam tidak lain dari al-mu ‘amalah bi al-misl (tindakan seimbang), yaitu menjadikan budak ta­wanan perang yang dilakukan secara syari.

Advertisement