Advertisement

Abbasiyah, nama dinasti kekhalifahan yang memerintah mulai 749 hingga 1258 (132 H-656 H) ini diambil dari nenek­moyangnya al-Abbas bin ‘Abdul Mutalib bin Hasyim, paman Rasulullah.

Walaupun timbulnya khalifah `Abbasi­yah ini sering dihubungkan dengan keja­tuhan dinasti Umayyah yang Arab dan semakin menonjolnya peranan orang­orang non-Arab atau mawali, tak benar bahwa pemerintahan `Abbasiyah berada di bawah dominasi non-Arab. Memang pe­luang yang tersedia buat seluruh penghuni wilayah Abbasiyah tampak lebih besar dalam hampir semua lapangan hidup. De­ngan sendirinya corak dan pola hubungan sosial ini tidak lepas dari dasar dan alasan dikorbankannya gerakan Abbasiyah (al­da`wah al-Abbasiyah). Slogan gerakan Abbasiyah yang menggambarkan usaha­nya sebagai penghancur kezaliman dan tirani serta penegak keadilan dan kesejah­teraan memang menarik bagi golongan­golongan tertindas dan terabaikan, terma­suk tentunya mawali.

Advertisement

Keluarga Abbasiyah, di bawah imam­imamnya, mampu menarik pengikut dan mengerahkan pasukan yang tangguh ber­dasarkan landasan idealnya yang umum, strategis dan berbau Syi`ah ar-rida min al Muhammad (yang diterima dari keluarga Muhammad). Memang gerakan ini me­manfaatkan simbol-simbol perlawanan ter­utama yang dikobarkan oleh keluarga Nabi seperti Husein bin Ali, Zaid bin Ali Zainal Abidin dan lain-lain. Abu Muslim sebagai wakil imam dan keluarga Abbasi­yah di Khurasan secara gemilang meme­nangkan dukungan setempat untuk ke­mudian mengirimkan tentara yang menga­lahkan kekuatan Umayyah di Iraq dan Siria.

Abu-Abbas as-Saffah, anak dan pendiri dakwah A bbasiyah ditabalkan menjadi khalifah di Kufah pada 749 (132 H) di muka tentaranya yang menang. Memang mulai saat itu sampai hancurnya Bagdad di tangan Hulagu Khan pada 1258, kursi kekhalifahan tetap dipegang Bani Abbas. Tetapi hanya seabad setelah didirikan ter­lihat bahwa nasib khalifah banyak diten­tukan oleh panglima-panglima tentara.

Kekuasaan teritorial Abbasiyah me­mang lebih kecil jika dibandingkan dengan Umayyah, tetapi di segi lain termasuk so­sial, ekonomi dan ilmu pengetahuan, masa Abbasiyah cukup mengalami masa peme­karan. Dengan partisipasi mawali yang le­bih besar timbullah pengembangan kehi­dupan yang lebih terbuka di lapangan ad­ministrasi, kemiliteran, mobilitas, perda­gangan, industri, dan tatanan masyarakat. Terlihat orang-orang non-Arab berperan di hampir semua lapangan kegiatan umpama­nya Ibnul-Mugaffa, Sibawaih, Barmak, al­Farabi, al-Gazali dan lain-lain. Namun yang menarik, bahasa Arab tetap menjadi lingua franca serta bahasa administrasi dan ilmiah. Karya tulis besar pun kebanyakan dihasilkan pada periode Abbasiyah.

Pada masa ini, dilakukan penedemahan secara besar-besaran, terutama buku-buku falsafat Yunani, ke dalam bahasa Arab.

Akibatnya muncullah pemikir-pernikir losof) baru di kalangan kaum Muslimin, di samping berkembangnya teologi rasio­nal di tangan kaum Mulazilah. Pandangan yang identik antara penguasa dan teolog rasional ini malahan pernah menjadikan Vtizal sebagai faham resmi regim politik. Reaksi yang pantang mundur datang dari apa yang disebut ahl al-hadis yang meno­kohkan Ahmad bin Hanbal (w. 855/238 H). Rupanya pemaksaan faham ini punya akibat yang dalam terhadap dinamika per­kembangan pemikiran dalam Islam, de­ngan dominasi aliran ahl-al-hadis.

Erosi kekuasaan riil Abbasiyah yang berpusat di Bagdad semakin meningkat dengan munculnya penguasa-penguasa po­litik otonom (sultan) di hampir seluruh kawasan kekhalifahan. Ini terlihat dengan berdirinya dinasti-dinasti seperti Aglabi­yah di Tunisia. Hamdaniyah di Mesopota­mia, Tahiriyah dan Samaniyah di Asia Te­ngah serta Buwaih dan Saljuk di Irak dan sekitarnya. Namun tantangan serius ada­lah yang ditimbulkan oleh gerakan Syi`ah Fatimiyah di Afrika Utara. Berlainan de­ngan dinasti-dinasti yang disebut terdahu­lu Fatimiyah mengetengahkan sistem po­litik yang secara terbuka dan teoritis me­nandingi kekhalifahan Abbasiyah. Yang juga menarik dalam kaitan ini adalah tim­bulnya karya-karya tentang pemerintahan yang bisa dikategorikan sebagai pengesah­an struktur politik yang ada dan usaha mengkompromikannya dengan ideal poli­tik yang berkembang di antara golongan ulama dan juga birolcrat.

Semenjak dibunuhnya al-Mutawakkil pada 861 (247 H) oleh para pengawal Turki atas usahanya mengkokohkan kern­bali kekuasaannya, tak seorang khalifah pun berhasil menerapkan ide dan kebijak­sanaan mereka sendiri, terbebas dari para pemimpin tentara atau pun kemudian sul­tan-sultan Buwaih dan Saljuk. Namun beberapa dasawarsa sebelum datangnya serangan Mongol, an-Nasir (w. 1225/622 H) berusaha secara gigih untuk mengem­balikan kekuasaan riil khalifah walaupun tak seluas kekuasaan sebelumnya. Usaha­nya cukup berhasil terutama karena talc adanya rival politik yang efektif (kevaku-man kekuatan) akibat melemahnya Saljuk. Tetapi para penggantinya tidak mengikuti jejaknya apalagi mengantisipasi datangnya serangan Mongol yang luar biasa dan Asia Tengah. Sebenarnya gerakan Mongol bu­kanlah langsung ditujukan ke Bagdad, se­hingga memungkinkan buat khalifah un­tuk mengkonsolidasikan kekuatan. Me­mang tak banyaklah yang bisa diharapkan dari khalifah-khalifah Bagdad yang sudah begitu lemah dan sempit kekuasaannya; kedatangan tentara Tatar ke Bagdad pada 1258 (656 H) hanyalah ibarat “menjatuh­kan daun yang sudah menguning”. Khali-fah Bagdad terakhir, al-Mustesim, sendiri ditawan dan tak lama kemudian dibunuh.

Advertisement