Advertisement

Abangan adalah istilah Jawa guna meng­kategorikan kelompok atau individu yang tidak mengikuti paham keagamaan resmi secara penuh. Karenanya istilah yang ber­arti “kelompok merah” serta mengandung nada mengejek dan mendiskreditkan ada­lah tidak populer. Lawan istilah itu adalah putihan, dan kemudian juga sering dikon­traskan dengan santri.

Pada zaman modern karena Islam telah menjadi agama mayoritas orang Jawa dan agama penguasa pribumi semenjak zaman Mataram, maka istilah abangan mempu­nyai konotasi “orang-orang Jawa yang ti­dak secara penuh dan sungguh-sungguh menjalankan syariat yang utuh”. Dikoto­mi abangan dan putihan akhirnya menga­cu kepada perbedaan intensitas penjiwaan ajaran Islam, dan juga pada tingkat terten­tu, perbedaan pendekatan ajaran Islam. Sebenarnya fenomena beragama yang de­mikian tidaklah unik dalam kehidupan manusia kapan pun dan dimana pun. Na­mun timbulnya pemakaian istilah-istilah domestik tersebut memang mencermin­kan, pada tahap tertentu, kesenjangan yang serius antara dua kutub persepsi ke­agamaan yang dianut orang-orang Islam di Jawa. Ternyata pembedaan yang tegas dan ekspresif demikian tidak ditemui di antara kelompok-kelompok yang hidup berte­tangga dengan masyarakat Jawa, seperti Madura, Sunda dan Betawi. Beberapa ahli karenanya berkesimpulan bahwa kecen­derungan tersebut ditopang adanya dok­trin dan jalan alternatif yang relevan dan mempribumi bagi sementara masyarakat Jawa. Di pihak lain. termasuk pendapat para pemimpin Islam, kecenderungan abangan di kalangan orang Jawa adalah bersumber pada kurangnya informasi dan pengajaran mengenai Islam yang komplit dan benar. Karenanya, menurut mereka, penggunaan istilah tersebut adalah tidak tepat sebab proses beragama adalah tidak mesti sekaligus dan menyeluruh, tetapi merupakan pendekatan yang bertahap, kondisional dan terus-menerus.

Advertisement

Bagaimanapun penggunaan istilah aba­ngan dan santri atau putihan menjadi po­puler sebenarnya hanya sebagai konsep analisa di kalangan pengamat mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagama­an di Jawa. Pada periode tertentu sewaktu ekspresi keagamaan kaum Muslim terde­sak dan dibatasi bisa saja konsep dikotomi tersebut menjadi relevan, representatif dan tepat guna meneropong corak keaga­maan (baca: Islam) di Jawa. Namun se­bagai agama dakwah, Islam menaruh per­hatian utama terhadap upaya Islamisasi dalam artian pendalaman keagamaan. Dan kelompok yang disebut abangan adalah otomatis terkait dalam upaya tersebut, sebab mereka pada dasarnya sudah mema­suki gerbang utama Islam dan menjadi bagian umat. Walaupun istilah abangan tetap ada dan disebut dalam karya ilmiah, is tidak lazim dipakai untuk mengkatego­rikan masyarakat Jawa dalam kehidupan nyata, apalagi sebagai istilah dan sebutail diri sendiri yang baku.

Advertisement