Advertisement

Ababil berarti yang datang berbondong-­bondong. Ungkapan ini dijumpai sekali saja dalam al-Quran, yakni dalam surat ke­105 (al-Fil). Dalam surat itu disebutkan bahwa burung yang. datang berbondona­bondone, yang dikirim Allah, telah mem­perlakukan pasukan bergajah sedemikian rupa. sehingga pasukan itu hancur seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Menurut para ahli, peristiwa yang dise­butkan dalam surat al-Fil itu adalah peris­tiwa penyerangan pasukan Abrahah —gu­bernur Habsyi (Etiopia) yang berkuasa di Yaman ke kota Mekah pada 571, untuk menghancurkan Ka’bah. Namun pasukan yang sudah mendekati kota Mekah itu hancur sebelum dapat melaksa­nakan maksudnya.

Advertisement

 

Mengenai burung yang datang berbon­dong-bondong (thairababil) itu, ada ber­macam pemahaman di kalangan para ahli, yang dapat disederhanakan menjadi tiga pemahaman.

  1. Ababil itu burung buas, yang datang berbondong-bondong membawa batu­batu kecil yang mengandung kuman cacar atau penyakit ganas lainnya. Burung­burung tersebut melempari pasukan yang sebagian mengendarai gajah de­ngan batu-batu tadi, sehingga mereka semua dilanda oleh penyakit yang ga­nas, yang menghancurkan mereka se­perti daun-daun yang dimakan ulat.
  2. Ababil itu kuman penyakit cacar atau penyakit ganas lainnya, yang beterbang­an dibawa hembusan angin. Kuman-ku­man itulah yang menyerang pasukan bergajah itu, sehingga mereka dilanda oleh wabah penyakit yang menghancurkan mereka seperti daun-daun yang di­makan ulat.
  3. Ababil itu burung buas pemakan bang­kai, yang datang berbondong-bondong, segera setelah pasukan bergajah itu mati bergelimpangan akibat terserang penya­kit cacar atau penyakit ganas lainnya. Burung-burung itu berpesta pora men.- cabik-cabik tubuh mayat-mayat yang bergelimpangan dengan paruh dan cakar-cakar kaki mereka, menghempas­hempaskan daging yang sudah terkoyak­koyak itu ke atas batu, agar lebih ter­cerai-berai dan dapat dimakan. Dalam pemahaman ini, ungkapan tarniThirn bi higtrat ditangkap dengan pengertian bahwa burung itu melemparkan, memu­kulkan, atau menghempaskan bagian­bagian tubuh mayat pasukan itu ke atas batu-batu, bukan dengan pengertian melempari mereka dengan batu-batu (bi tidak diartikan “dengan”, tapi diartikan ‘ala, “ke atas”).

Advertisement