Advertisement

Seperti telah diuraikan di atas, perkembangan psikologi sosial tercermin juga dalam penelitian-penelitiannya. Berikut ini akan dikemukakan secara singkat beberapa penelitian yang oleh beberapa literatur dianggap sebagai penelitian penting dalam psikologi sosial.

Norman Triplett (1898)mengamati bahwa anak-anak yang bersepeda beramai-ramai ternyata lebih cepat daripada yang bersepeda sendirian. Penelitian yang dianggap sebagai cikalbakal penelitian psikologi sosial ini membuktikan adanya pengaruh kehadiran orang lain terhadap peningkatan prestasi (Lindgren, 1969).

Advertisement

Akhir tahun 1920-an sampai awal 1930-an Western Electric Plan di Hawthorne, Illinois, AS mengadakan penelitian terhadap karyawannya. Hasilnya adalah bahwa motivasi sosial karyawan sama besar atau bahkan lebih besar daripada motivasi ekonominya. Yang menarik adalah bahwa temuan ini baru diterapkan secara meluas di berbagai perusahaan 20-30 tahun kemudian (Lindgren, 1969).

Sherif (1936)mengadakan penelitian tentang pembentukan norma kelompok, .Eksperimennya dilakukan di dalam ruangan yang gelap gulita. Dalam ruangan itu hanya ada sqtitik cahaya yang statis. Akan tetapi, orang akan selalu melihat titik cahaya itu seakan-akan bergerak yang sebenarnya disebabkan oleh gerak pupil mata. Dalam eksperimennya, Sherif meminta sejumlah orang untuk masuk ke ruang gelap itu satu per satu dan menyampaikan kepada peneliti seberapa besar (berapa sentimeter) gerakan titik cahaya yang tampak olehnya. Ternyata jawaban yang diberikan oleh orangorang itu sangat bervariasi, yaitu dari gerak yang sangat kecil sampai sangat besar. Pada tahap berikutnya, semua peserta diminta masuk dan bersama-sama diminta untuk menilai seberapa besar gerakan itu. Setelah kelompok mencapai kesepakatan, sekali lagi mereka diminta masuk satu per satu untuk mengulangi eksperimen tahap pertama. Hasil eksperimen tahap ketiga ini adalah bahwa variasi antarindividu menjadi sangat berkurang. Semua peserta memberikan jawaban bahwa besarnya gerakan titik cahaya itu tidak jauh berbeda dengan yang telah mereka sepakati dalam kelompok (Shaver, 1977).

K.Lewin (1947)meminta sejumlah orang untuk makan (isi perut) sapi dengan alasan bahwa dagingnya diperlukan untuk para prajurit di medan perang. Seperti diketahui, orang Amerika tidak biasa makan jeroan karena bagian itu diperuntukkan bagi makanan hewan (anjing dan lain-lain). Lewin membagi peserta penelitian menjadi dua kelompok. Kelompok I diberi ceramah tentang manfaat jeroan bagi kesehatan sedangkan kelompok II diminta untuk mendiskusikan sendiri tentang manfaat atau tidak manfaatnya jeroan itu. Hasilnya adalah bahwa dalam kelompok I lebih banyak yang sependapat dengan penceramah, sedangkan dalam kelompok II lebih banyak yang menentang manfaat jeroan. Akan tetapi, dalam praktiknya justru lebih banyak anggota kelompok II yang sungguhsungguh mempraktikkan makan jeroan daripada kelompok 1. Penelitian ini membuktikan bahwa pengaruh kelompok lebih kuat daripada pengaruh seorang penceramah (Shaver, 1977).

E.E.Smith (1961)mengadakan eksperimen dengan sejumlah anggota tentara Amerika Serikat. Mereka diminta untuk makan belalang goreng, Kelompok Idiberi seorang instruktut yang ramah dan bersahabat,. kelompok.II diberi instruktur yarig.dingin dan lugas. Hasilnya adalah kelompok II lebih mau melaksanakan makan daging belalang ketimbang kelompok I. Penjelasannya adalah dengan teori disonansi Pada kelompok.II digambarkan bahwa makan belalang merupakan satu-satunya pilihan dalam keadaan darurat di pertempuran. Di sini tidak terjadi disonansi kognitif(pertentangan antara elemen-elemen kesadaran). Pada kelompok I digambarkan bahwa lebih baik makan belalang jika tidak ada pilihan lain. Karena anggota kelompok tidak biasa makan belalang (bersikap negatif terhadap belalang sebagai makanan), keharusan makan belalang menimbulkan disonansi kognitif dan selama ada peluang untuk makan yang lain, mereka masih akan mencari kemungkinan lain daripada makan belalang (Lindgren, 1969).

Milgram (1963)melakukan eksperimen yang sangat terkenal tentang otoritas. Ia meminta sejumlah mahasiswa untuk ikut dalam eksperimennya dan berperan sebagai guru. Tugas “guru” itu adalah memberi pelajaran bahasa kepada seorang murid. “Murid” itu diperankan oleh anak buah Milgram sendiri yang sudah mengerti jalannya eksperimen dan sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Dalam eksperimen itu “guru” harus memberi pertanyaan kepada murid dan kalau murid memberikan jawaban yang salah “guru” harus menghukumnya dengan memberikan kejutan listrik. Mula-mula kejutan listrik itu, hanya sebesar 15 volt. “Akan tetapi, setiap kali murid membuat kesalahan “guru” harus meningkatkan kejutan listrik itu sebesar 15 volt lagi. Setelah sepuluh kali kesalahan, kejutan listrik itu sudah mencapai 150 volt dan membahayakan murid. Akan tetapi, Milgram yang berdiri di belakang “guru” tidak menyuruh menghentikan eksperimen itu. Ternyata sebagian besar “guru” itu tetap meneruskan eksperimennya sampai mencapai 450 V yang mematikan. Tefitu saja “murid” tidak sungguh-sungguh kesakitan karena listriknya juga tidak ada. Akan tetapi, “murid” itu sudah terlatih untuk berperan kesakitan sesuai dengan kekuatan kejutan listrik yang diberikan. Penelitian ini membuktikan bahwa orang dapat bertindak di luar ‘batas jika ada otoritas. yang mendukung di belakangnya (dalam penelitian ini Milgram sendirian) (Shaver, 1973).

Advertisement