Advertisement

pembuahan dan Pembentukan Biji, Ketika tabung serbuk sari akhirnya sampai pada arkegonium setahun setelah penyerbukan, garnet jantan dan sel telur siap untuk pembuahan. Ujung tabung serbuk sari memasuki arkegonium dan menumpahkan keempat sel yang ada di dalamnya (yaitu semua gametofit jantan dikurangi dua sel protalus) ke dalam sitoplasma telur. Sebuah garnet jantan bergerak ke arah inti telur dan berfusi dengannya membentuk satu zigot, tiga sel lainnya berdegenerasi di dalam sitoplasma telur.

Segera setelah pembuahan zigot mulai berkembang menjadi pra-embrio, yaitu nama yang diberikan kepada tahap terawal pada perkembangan embrio sporofit. Karena ada dua atau lebih arkegonium di dalam sebutir bakal biji (poliembrioni sederhana), dan karena setiap pra-embrio berkembang sedemikian rupa (perinciannya tidak akan diuraikan di sini) sehingga keempat embrio potensial terbentuk dari setiap zigot (poliembrioni sigaran), lebih dari satu embrio mungkin dapat mulai berkembang (5.12a—d). Walaupun begitu, hanya satu embrio yang matang dalam setiap bakal biji. Setiap pra-embrio tumbuh menembus pangkal arkegonium ke jaringan steril protalus betina, yang sementara itu telah melanjutkan pertumbuhannya dengan bantuan nuselus yang ada di sekelilingnya. Pada waktu embrio fungsional telah tumbuh menjadi biji masak, protalus betina membengkak sedemikian rupa sehingga nuselusnya hanya berupa sebuah lapisan setipis kertas pada ujung mikropil bakal biji. Embrio terkubur dalam protalus betina (sekarang disebut endosperma), tumbuh cepat menjadi tumbuhan sporofit muda dengan akar, batang dan keping biji yang jelas. Selama embrio berkembang, sel integumen mengeras membentuk testa atau kulit biji (5.12e).

Advertisement

Jika embrio matang, sisik runjungnya merekah sehingga memungkinkan biji yang masak melepaskan diri. Pada setiap oiji masak terikatlah sebuah sayap tipis menyelaput yang sebetulnya bukan bagian dari biji, sebab sayap ini terbentuk dari seserpih jaringan yang robek dari sisik pendukung bakal biji, tetapi tetap terikat kepada biji (5.12f,g). Sayap inilah yang menyebabkan biji berputar waktu jatuh, sehingga dengan memperlambat kecepatan jatuh biji, sayap ini membantu pemencaran oleh angin. Biji-biji yang jatuh pada tanah yang lembap akan berkecambah menjadi semai tusam. Perkecambahan biji tusam tidak jelas bedanya dengan perkecambahan biji-biji angiosperma yang dibahas pada Bab 7, walaupun semainya aneh tampaknya (5.12h), yaitu mempunyai beberapa keping biji, bukan satu atau dua seperti pada angiosperma. Daur hidup Pinus diringkas pada 5.13.

 

 

Advertisement