Advertisement

Yang meletus tahun 1674 di Madura, dilakukan oleh Pangeran Trunojoyo untuk melepaskan Madura dari kekuasaan Kerajaan Mataram. Pemberontakan ini muncul karena ketidakpuasan Pangeran Trunojoyo melihat pamannya, Pangeran Cakraningrat II, yang memerintah di Madura. Sebagai bupati yang ditetapkan oleh Amangkurat I, Pangeran Cakraningrat II tidak pernah memerintah Madura secara nyata. Rakyat Madura diperas dan ditindas untuk mencukupi kebutuhannya di Kerto (ibu kota Mataram). Pada saat itu, terdapat sekelompok kaum penentang Amangkurat I yang bekerja sama dengan Adipati Anom. Trunojoyo mengajak Adipati Anom untuk menggulingkan kekuasaan ayahnya. Adipati Anom menyetujui ajakan Trunojoyo itu dengan perjanjian jika pemberontakan sudah selesai ia diangkat menjadi raja Mataram.

Pemberontakan yang dimulai di Madura dengan segera menjalar di seluruh wilayah pesisir pantai utara Jawa sehingga melumpuhkan kekuatan laut Mataram. Dalam keadaan demikian Trunojoyo segera menerangkan bahwa ia sesungguhnya keturunan Majapahit dan berhak atas Madura. Ia menjatuhkan bupati Madura Cakraningrat II dan mengangkat dirinya menjadi panembahan. Sementara itu rakyat pesisir sudah memberontak di bawah pimpinan Pangeran Giri (keturunan Sunan Giri). Atas permintaan Pangeran Giri, Trunojoyo segera melangkah ke Jawa untuk memimpin pemberontakan selanjutnya. Tentara Trunojoyo ; menyapu bersih pesisir utara Jawa dari sisa-sisa tentara Mataram dan hanya Jepara yang masih memihak kepada Amangkurat I. Tentara Trunojoyo dibantu oleh rakyat Makasar yang dipimpin oleh Kraeng Galesung. Mereka segera melakukan pembajakan di mana-mana dan membantu pemberontakan ini. Kraeng Galesung dengan kapal-kapalnya dapat mengacaukan pengiriman beras dari Mataram ke Batavia.

Advertisement

Dalam perkembangan selanjutnya, Adipati Anom melihat bahwa pemberontakan tersebut lebih hebat daripada yang diperkirakan semula. Ia khawatir pemberontakan ini akan menyebabkan ia kehilangan kedut ukannya sebagai pengganti raja Mataram. Oleh sebab itu, ia berubah sikap dan mulai berpihak pada Amangkurat I. Karena pengiriman beras ke Batavia dikacaukan oleh tentara pemberontak, Belanda segera mengirimkan angkatan lautnya untuk membantu tentara Mataram. Tentara Mataram yang menyerang bersama-sama dengan tentara Belanda dapat dipukul i mundur oleh tentara Kraeng Galesung yang bersatu dengan tentara Trunojoyo.

Belanda mengajak Trunojoyo dan Kraeng Gaie sung berunding, tetapi ajakan ini tidak berhasil. Dengan bantuan rakyat mereka terus menuju Kerto. Setelah pasukan Mataram tercerai berai, seluruh pantai utara Pulau Jawa, dari Semarang sampai Pasuruan, jatuh ke tangan kaum pemberontak.

Dalam situasi pertempuran yang sangat genting pihak VOC mencari kesempatan untuk keuntungan dirinya. Belanda berusaha mengadakan perundingan untuk menawarkan bantuan bersyarat kepada berba-gai pihak, antara lain kepada bupati Jepara dengan perjanjian yang isinya sebagai berikut: (1) Mataram 1 diharuskan membayar 250.000 real dan 3.000 pikul bei is dalam waktu tiga tahun; (2) semua pelabuhan Jawa terbuka bagi VOC; (3) VOC mendapatkan dae-rah Krawang dan Priangan; (4) biaya + perang yang ditaksir berjumlah 20.000 real harus dibayar oleh Mataram. Mataram menyatakan bersedia menandatangani perjanjian itu dengan syarat tidak melepaskan daerah Krawang dan Priangan.

Karena tuntutan itu tidak disetujui oleh Mataram, Belanda mulai berpaling dan mengadakan perundingan dengan Trunojoyo. Dalam perjanjian ini Belanda menyatakan tidak keberatan mengangkat Trunojoyo sebagai raja asalkan ia sanggug menjual tanah airnya kepada Belanda. Tetapi Trunrgjoyo menolak keras ajakan itu. Pada saat tawaran perundingan ini diajukan, tentara Trunojoyo sudah mendesak sampai ke Kerto dan menduduki Keraton Plered. Tanda-tanda kebesaran keraton jatuh ke tangan Trunojoyo dan segera dibawa ke Kediri.

Setelah Mataram jatuh, muncullah beberapa pemberontak yang bermaksud mengenyahkan Belanda, di antaranya bupati Banten dan Priangan. Sebelum Kerto jatuh, Amangkurat I sudah meninggalkan keraton dan mengembara dari desa ke desa. Ia meninggal di rantau dan dimakamkan di desa Tegal Arum dekat Tegal. Sebelum meninggal ia menunjuk Adipati Anom sebagai penggantinya, dengan gelar Amangkurat II. Ia juga menasihati Adipati Anom agar segera mengadakan hubungan dengan Belanda di Batavia. Tetapi Amangkurat II tjdak pergi ke Batavia, dan hanya menemui Cornelis Speelman, panglima tentara Kompeni, di Jepara. Amangkurat II sudah terdesak, dan Mataram hanya bisa dipertahankan dengan kekuatan Belanda. Dalam suasana yang demikian ini, ia menandatangani perjanjian yang sangat merugikan Mataram, yaitu: (1) semua pelabuhan di pesisir pulau Jawa dari Krawang sampai ke ujung Jawa paling Timur digadaikan kepada VOC; (2) pelabuhan-pelabuhan ini akan segera dikembalikan kepada Susuhunan bila semua utang sudah terbayar; (3) semua daerah sebelah barat garis Kali Pemanukan hingga Laut Kidul diakui termasuk daerah Belanda; (4) VOC memegang pemasukan monopoli kain dari India dan Persia serta seluruh beras Mataram; (5) Kartasura (kota istana yang baru) diberi tentara pengawal Belanda.

Bupati Jepara tidak menerima perjanjian itu, terutama pasal yang pertama, karena merasa terhina dan disudutkan. Setelah persetujuan antara VOC dan Mataram ditandatangani, Belanda mulai bergerak untuk menepati janjinya. Tentara Belanda di bawah pimpinan Kapitan Tack bersama-sama dengan tentara Mataram terus menuju ke Kediri untuk memukul mundur pasukan pemberontak. Akhirnya tentara Trunojoyo bersama tentara Makasar di bawah Kraeng Galesung terdesak dan bertahan di Bangil.

Pada tahun 1679 Kraeng Galesung dan anak buahnya gugur dalam pertempuran dekat Porong. Pada tahun itu pula, atas bantuan Kapten Jonker, Trunojoyo diserahkan kepada Amangkurat II. Pada tahun 1680 Trunojoyo dibunuh oleh Amangkurat II. Pangeran Giri dihukum mati oleh Belanda, hingga patahlah kekuatan pesisir yang melawan Belanda. Ibu kota Mataram yang didirikan oleh Sultan Agung ditinggalkan dan diganti dengan Kartacuia. Sejak saat itu dimulailah sejarah baru, yakni sejarah penyerahan kepada Belanda, yang ditandai dengan hilangnya kekuatan pesisir yang beralih ke daerah pedalaman.

Advertisement