Advertisement

Pembaharuan dalam Islam adalah ungkapan yang dalam garis besarnya me­ngandung arti upaya atau aktivitas untuk merobah kehidupan umat Islam dari keadaan-keadaan yang sedang berlangsung kepada keadaan yang baru yang hendak diwujudkan; is juga mengandung arti bah­wa upaya itu adalah demi kemaslahatan hidup mereka (baik di dunia ini maupun di akhirat), dikehendaki oleh Islam, seja­lan dengan cita-citanya, atau minimal ber­ada dalam garis-garis yang tidak melanggar ajaran dasar yang disepakati oleh para ula­ma Islam. Upaya pembaharuan kehidupan umat Islam, tapi melanggar ajaran dasar ter§ebut, tidak bisa disebut pembaharuan dalam Islam; itu berarti pembaharuan di luar Islam.

Bahwa pembaharuan kehidupan umat Islam, dikehendaki oleh Tuhan, dapat di­pahami antara lain dari ungkapan hadis Nabi, yang berbunyi sebagai berikut: “Se­sungguhnya Allah akan membangkitkan bagi umat Islam — pada setiap seratus tahun — orang yang memperbaharui ke­beragamaan mereka.” Menurut hadis ini, pada setiap abad akan selalu ada orang (ulama) yang berupaya memperbaharui keberagarnaan umat, dengan pengertian memperbaharui kehidupan mereka sehing­ga lebih sesuai dengan ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi, baik dalam pemahaman maupun dalam pengamalan ajaran itu da­lam aspek tertentu atau dalam segala as­pek kehidupan mereka.

Advertisement

Dilihat dari sudut waktu, pembaharuan dalam Islam dapat dibagi kepada pemba­haruan dalam Islam yang berlangsung se­belum periode modern, dan pembaharuan dalam Islam yang berlangsung pada perio­de modern (periode modern dihitung dari awal abad 19 M sampai sekarang). Pemba­haruan dalam Islam sebelum periode mo­dern adalah seperti yang diupayakan oleh Ibnu Taimiyah di Siria dan Mesir pada abad ke 13–14 (7-8 H), atau oleh Mu­hammad bin Abdul Wahhab di Jazirah Arabia pada abad ke-18 (12 H) atau oleh Syah Waliyullah di India, juga pada abad ke-18 (12 H). Sedangkan pembaharuan dalam Islam pada periode modern adalah seperti yang diupayakan oleh Muhammad Abduh dan para muridnya di Mesir, atau oleh Nemik Kemal, Zia Gokalp, dan lain-lain di Turki, atau oleh Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Mohammad Iqbal, dan lain-lain di India, atau oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan, Haji Agus Salim, dan lain-lain di Indonesia.

Bila pembaharuan yang dilancarkan oleh tokoh pembaharu (mujaddid) sebe­lum periode modern, mengambil bentuk memurnikan kehidupan umat, agar sesuai dengan corak kehidupan sederhana yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan generasi salaf (pendahulu) umat Islam, maka tidak demikian pembaharuan yang dilancarkan pada periode modern. Pada periode modern ini umat Islam, karena terancam eksistensi mereka oleh bangsa­bangsa Barat yang telah berobah menjadi bangsa-bangsa yang amat maju dan kuat, ditantang untuk segera melakukan pem­baharuan sedemikian rupa, agar berobah pula menjadi maju dan kuat seperti Barat, tapi tetap berada dalam jalan Islam. Para pembaharu dalam Islam di masa ini tidak dapat tidak — dalam rangka melancarkan upaya pembaharuan itu — harus lebih mengkaji dan mempertanyakan mengapa umat Islam menjadi lemah dan sebaliknya mengapa bangsa-bangsa Barat demikian maju dan kuat, sehinggga mereka mudah sekali menaklukkan (menjajah) bagian demi bagian dari dunia Islam.

Menurut para pembaharu di masa mo­dern ini, sebab-sebab terpenting kelemah­an umat Islam antara lain: bercampurnya Islam yang mereka anut atau amalkan dengan berbagai macam bid’ah yang me­rugikan, tidak berkembangnya pemikiran di kalangan para ulama karena adanya anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertu­tup, berkembangnya ajaran zuhud (me­ninggalkan hidup duniawi dan mementing­kan hidup rohani) sedemikian rupa, se­hingga perhatian umat beralih kepada ke­hidupan alam gaib; berkembangnya sikap pasif dan statis di kalangan umat sebagai akibat buruk dari ajaran tawakal dan pa-ham jabariyah; sifat pemerintahan yang absolut dan orientasinya yang bukan ke­pada kepentingan dan kemaslahatan rak­yat, tapi demi kehidupan bermewah-me­wah pihak penguasa. dan terhentinya pengembangan ilmu serta falsafat di ka­langan ulama atau umat. Adapun sebab kemajuan dan kekuatan Barat itu intinya terletak pada pengembangan ilmu dan teknologi demikian pesat, serta sikap di­namis dan pemikiran-pemikiran yang kritis konstruktif, yang berorientasi bagi kepentingan bangsa dalam aspek kehidup­an.

Berdasarkan penilaian di atas, para pembaharu dalam Islam berupaya keras menyadarkan dan mengajak umat, agar mereka (umat) berusaha kembali kepa­da ajaran-ajaran Islam yang sebenamya, yakni seperti yang diamalkan umat Islam di masa klasik yang maju; membuang se-gala macam bid’ah yang membawa kepada kelemahan; meninggalkan sikap taklid ke­pada pendapat dan benafsiran ulama masa lalu serta membuka pintu ijtihad lebar­lebar; menjadikan hanya al-Quran dan Su­nah Nabi saja sebagai pegangan yang pa­ling menentukan dalam berijtihad; meng­hidupkan kembali sikap dinamis (giat be­kerja) baik untuk kepentingan hidup di dunia maupun akhirat, serta menjauhi sikap tawakal dan jabariyah yang mem­bawa kepada sikap statis; menyeimbang­kan orientasi keakhiratan dengan orien­tasi keduniaan dan orientasi hubungan baik dengan Tuhan (ibadat) dengan hu­ bungan baik sesama manusia (muamalat); menciptakan pemerintahan yang demo­kratis, yang berorientasi pada kepenting­an dan kemaslahatan rakyat; dan yang amat penting merobah pendidikan tradi­sional menjadi pendidikan yang selain untuk menguasai ilmu agama juga untuk menguasai ilmu dan teknologi modern.

Tujuan pembaharuan di masa modern ini tidak lain dari terciptanya umat Islam yang maju dan kuat (kalau bisa paling maju dan paling kuat di dunia) tanpa me­langgar ajaran al-Quran dan Sunnah.

 

 

 

 

 

Advertisement
Filed under : Review,