Advertisement

Hubungan antara bentuk rumah, lingkungan dan kebudayaan merupakan sebuah tema yang sejak lama digali oleh para arsitek, arkeolog, dan antropolog (Guidoni 1979; Rapoport 1969; Wilson 1988). Fokus antropologi adalah pada arti penting rumah dalam kebudayaan tertentu, sebagai konstruksi material, sebagai wadah kelompok sosial, dan sebagai subyek elaborasi simbolis. Sebagai misal, dalam banyak masyarakat, prinsip-prinsip klasifikasi sosial, seperti umur dan gender, diwujudkan dalam pengaturan internal ruang dalam rumah. Rumah, dengan demikian menjadi wahana yang menyediakan dan menekankan perpedaan-perbedaan sosial. Rumah juga bertahan lama dan menjadi titik acuan tetap dalam kehidupan sehari-hari. Para antropolog yang tidak mengikuti model-model klasik teori kekerabatan pada akhirnya menoleh kepada rumah sebagai sebuah wahana sosialisasi yang komprehensif. Masyarakat-masyarakat semacam ini tidak mesti memiliki turunan atau fungsi sebagaimana diuraikan dalam etnografi klasik. Salah satu cara mempelajari masyarakat serupa ini adalah dengan melihatnya sebagai kumpulan dari rumah-rumah yang relatif tidak berubah dalam waktu cukup lama, sehingga hasil analisis bisa lebih dekat dengan kategori-kategori aslinya.

Konsep Levi Strauss (1983a; 1983b; 1987) mengenai societies a maison, masyarakat yang didasarkan pada rumah, adalah salah satu usaha seperti itu, yang menyatukan aspek-aspek material, sosial dan simbolik dari rumah. Argumen Levi Strauss pada dasarnya berkaitan dengan numayma Kwakiult, rumah agung abad pertengahan di Eropa; rumah-rumah abad delapan-belas di Jepang; dan beberapa suku bangsa di Indonesia. Rumah ‘menyatukan kembali atau ‘mentransendensikan’ (1983a) sederetan prinsip yang berlawanan, seperti keturunan/pendatang, kerabat matrilineal/patrilineal, atau pernikahan dekat/jauh. Biasanya, hubungan keturunan dan perkawinan sama pentingnya dan dapat saling mengisi (1983b; 1224). Levi-Strauss (1987) menekankan betapa ‘ikatan’ (alliance) bertindak sebagai prinsip kesatuan dan antagonisme dalam masyarakat yang didasarkan pada rumah di mana anak-keturunan, harta keluarga, sikap terhadap pendatang, dan sebagainya, masing-masing merupakan kriteria yang membentuk kelompok-kelompok. Pasangan yang menikah seketika itu menjadi pusat perhatian keluarga dan sekaligus sumber ketegangan antar-keluarga apalagi jika salah satunya adalah pendatang. Dengan demikian rumah menjadi ‘obyektivikasi’ dari hubungan aliansi yang tak stabil, yang memberi ilusi akan adanya keadaan solid dalam masyarakat. Dalam hal ini Levi Strauss telah menerapkan pemikiran fetishisme terhadap rumah dengan menggunakan contoh-contoh kebudayaan Indonesia tertentu yang amat mengelaborasi arsitektur. Akan tetapi dalam lain hal, Levi-Strauss tidak begitu memperhatikan properti-properti material dari rumah yang ia teliti. Tulisan-tulisan Levi-Strauss telah mengilhami studi-studi lain mengenai rumah dalam pengertian- pengertian ini. Para antropolog mencoba menerapkan modelnya untuk menganalisis pola hidup berbagai masyarakat Asia Selatan-Timur. Pada akhirnya hal ini mendorong munculnya kritik terhadap paradigma dasarnya, yang tampak mengabaikan kategori-kategori pokok dari analisis kekerabatan dan mengganti-nya dengan kategori lain yang sama kakunya, Jika fokus terhadap rumah adalah untuk menyediakan jalan keluar dari keterbatasan-keterbatasan teori kekerabatan, hal itu hanya bisa dilakukan dengan pendekatan yang lebih luwes, dengan memberi perhatian mendalam kepada apa yang dilakukan orang-orang dengan rumah dan bagaimana mereka memadangnya dalam konteks budaya mereka. Ini perlu disertai dengan studi arsitektur dan studi kekerabatan, agama dan ekonomi, dan harus didasarkan pada pemahaman mengenai rumah dan para penghuninya, yang terlibat dalam proses kehidupan yang tunggal dan dinamis.

Advertisement

Advertisement