Advertisement

Intinya adalah behaviorisme dari J. B. Watson yang meluncurkan pandangannya untuk pertama kalinya pada tahun 1913; “Manusia bereaksi terhadap lingkungan (environment). Karena itu, manusia belajar dari lingkungannya.” (Sarwono, 1991).

Watson selanjutnya berpendapat bahwa perilaku sosial (berjabat tangan, tersenyum ramah, hormat kepada orang tua, mudik Lebaran, taat kepada perintah atasan, agresif pada musuh, takut kepada Tuhan, berdoa, dan sebagainya) dikembangkan manusia ber- dasarkan proses-proses kondisioning klasik ini. Dengan demikian, menurut Watson, jika kita ingin menghasilkan seorang anak yang ramah atau penakut, kita tinggal memberinya rangsang-rangsang yang sesuai selama proses pendidikan anak itu. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang selalu ramah akan menjadi anak yang ramah, sedangkan anak yang selalu ditakut-takuti akan menjadi anak yang penakut (Sarwono, 1991).

Advertisement

Advertisement