METODE PENELITIAN PSIKOLOGI SOSIAL

adsense-fallback

Penelitian dalam psikologi sosial menggunakan metode-metode yang tidak jauhberbeda dari yang digunakan dalam psikologi umum atau cabang Psikologi lainnya. Intinya adalah untuk menggali faktorfaktor psikologik (motivasi, sikap, pendapat, minat, kepribadian, dan sebagainya) yang mendasari suatu perilaku sosial, sehingga perilaku itu bisa dijelaskari, dianalisis, dan dimengerti, kemudian dipelajari lebih lanjut, dan dibuatkan suatu teori atau dimanfaatkan sebagai ilmu terapan.

adsense-fallback

Metode pengumpulan data dan analisis

Menurut Bonner (1953) tiga metode utama yang biasa digunakan dalam penelitian psikologi sosial adalah sebagai berikut.

1. Teknik investigasi umum,yaitu cara-cara yang dilakukan untuk menggali informasi umum yang digunakan dalam psikologi umum dan cabang-cabang psikologi lainnya. Teknik ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu sebagai berikut.

Teknik sejarah kasus.

Teknik ini dilakukan dengan cara otobiografi (latar belakang Icehidupan baik diwawanearalangsung-dari subjek (auto-a,namnesis) maupun dari orang lain (allo-anamnesis), surat-surat, buku harian, daftar pertanyaan (angket, kuesioner), catatan pelayanan sosial (biasanya ada di negara-negara maju), catatan pengadilan atau penjara  atau rumah sakit jiwa (jika ada), catatan sekolah, dan sebagainya. Kerugian dari teknik ini adalah kurang tepat dan kurang cermatnya data yang diperoleh karena adanya keterbatasan atau gangguan daya ingat dari pihak-pihak yang memberi informasi karena waktu yang terlalu lama. Kelemahan lain adalah adanya kecenderungan untuk membesarbesarkan atau justru mengurangi atau rnenyembunyikan fakta.

Teknik  statistik.

Dasar dari teknik ini adalah mengkuantitatifkan semua data (pendapat, pandangan, perasaan, latar belakang kehidupan, dan sebagainya) kemudian diolah dengan cara matematik (menghitung rerata, variasi, hubungan antarfaktor, dan sebagainya) untuk mengambil simpulan dan kecenderungan umum yang kuantitatif pula. Untuk menginterprestasikan data-data hasil olahan statistik ini diperlukan kemampuan untuk menerjemahkannya kembali ke dalam analisis kualitatif. Keuntungannya adalah diperoleh hasil yang berlaku umum yang dapat digeneralisasikan kepada populasi yang lebih besar. Kerugian dari teknik ini adalah sangat tidak memperhatikan kekhususankekhusuan individual.

Metode diagnostik.

Teknik ini sangat individual sifatnya. Tujuannya adalah untuk memeriksa kepribadian seseorang. Yang termasuk dalam teknik ini adalah wawancara psikoanalitik (wawancara mendalam untuk mengetahui keadaan bawah sadar dan ketidaksadaran seseorang) dan wawancara         client centered (wawancara terpusatpada pikiran

dan perasaan klien sedangkan pewawahcara hartya membantu klien mengungkapkan pikiran dan perasaannya). Yang juga termasuk dalam metode diagnostik ini adalah apa yang oieh masyarakat awam dikenal dengan nama “Psikotes”, yaitu serangkaian tes (pertanyaan) untuk menguji atau mengukur kemampuan, kecerdasan (IQ = Intelligence Quotient atau Tingkat Kecerdasan), atau kreativitas (CQ = Creativity atau kebutuhan atau minat seseorang (biasanya menggunakan alat tes yang dinamakan inventory test di mana subjek diminta menja wab pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya sendiri untuk mengetahui berbagai aspek mengenai kepribadiannya).

Teknik  proyeksi.

Teknik ini dinamakan proyeksi karena subjek diminta untuk memproyeksikan kepribadiannya pada alat tes yang disediakan. Alat tes itu sengaja dibuat untuk memancing gambaran kepribadian seseorang tanpa orang itu sendiri menyadarinya. Dari jawaban-jawaban yang diberikan pada alat itu, pemeriksa atau peneliti dapat menganalisis kepribadian orang yang bersangkutan.

Salah satu alat itu adalah tes Ror yang berupa cipratan-cipratan tinta yang bentuknya simetris (kanan sama dengan kiri) tetapi tidak beraturan. Semuanya ada 10 gambar, sebagian berwarna-warni sebagian hitam putih. Subjek diminta menjelaskan menurut pandangannya setiap gambar itu merupakan gambar apa. Jawaban-jawaban itulah yang dianggap sebagai cerminan (proyeksi) dari kepribadiannya.

Tes yang lain adalah TAT (Thematic Apperception Test), yang terdiri atas beberapa buah gambar yang mencerminkan suatu situasi (orang memanjat tali, orang berbaring dengan sebuah pistol di sisinya, seorang gadis mengintip beberapa wanita yang sedang lewat, dan sebagainya). Dalam tes ini subjek diminta untuk menyampaikan kesan-kesannya dan jawabanjawabannya itu dianalisis sebagai cerminan dari kepribadianvnya

Teknik Pengukuran sikap.

Teknik ini adalah yang paling banyak digunakan dalam psikologi sosial. Bahkan, dapat juga dikatakan, lima bahwa teknik ini adalah khas psikologi sosial (walaupun dapat saja digunakan dalam cabang psikologi yang lain). Intinya adalah untuk mengukur sikap (attitude) seseorang terhadap suatu objek (orang, kelompok, situasi, nilai, norma, benda, dan sebagainya). Dengan menggunakan teknik ini peneliti dapat mengetahui bagaimana sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap objek tertentu: positif (menyukai, ingin memiliki, ingin mendekati, dan sebagainya), negatif (tidak menyukai, membenci, ingin menghindari, dan sebagainya), atau netral. Semula teknik ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan biasa (kuesioner), tetapi Likert (1957) dan Thurstone (1929) telah mengembangkan teknik yang dinamakan “Skala Sikap” yang mampu mengukur sikap secara lebih akurat dan kuantitatif (Oppenheim, 1973). Skala yang terdiri atas 5-7 pilihan jawaban (mulai dari sangat setuju sampai sangat .tidak. setuju). ini berisi sejumlah pernyataan tentang objek sikap tertentu. Pertanyaan-pertanyaan itu untuk mengukur pengetahuan (aspek kognitif), perasaan (aspek afektif) dan kecenderungan perilaku (aspek konatif), dari orang yang bersangkutan terhadap objek sikap dimaksud. Dengan cara ini dapat diketahui, misalnya bagaimana sikap ibu-ibu terhadap program keluarga berencana, bagaimana sikap pengendara mobil terhadap peraturan lalu lintas yang baru, atau bagaimana sikap calon pemilih terhadap organisasi politik kontestan pemilu.

Teknik pengukuran sikap ini dapat juga dilakukan dengan metode “interpretif”, yaitu peneliti masih harus menafsirkan sikap subjek yang diteliti dari respons-responsnya. Yang termasuk metode interpretif ini adalah teknik proyektif (tidak sama dengan teknik proyektif untuk menganalisis kepribadian) yang khusus untuk mengukur sikap. Caranya adalah dengan memberi garis-garis atau titik-titik di belakang sebuah pernyataan dan subjek (atau responden) diminta meneruskan sesuai dengan sikapnya terhadap objek yang bersangkutan (misalnya; makin panjang titik-titik atau garisgaris yang dibuat oleh responden, makin positif sikapnya). Metode interpretif yang lain adalah teknik ekspresif (tanpa stimulus), yaitu dengan memberi sebuah kertas kepada subjek dan diminta menggambar apa saja mengenai objek sikap yang sedang diteliti, atau subjek sekadar disuruh berceritera (bebas) tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan objek sikap yang sedang diteliti.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback