Advertisement

Ziya Gokalp, pemikir dan penulis Tur­ki terkenal karena ide orisinilnya tentang nasionalisme Turki. Lahir di Diyar Bakr (Mesopotamia) pada 1876 dengan nama Mehmed Ziya (Dhiya’), tetapi menjadi le­bih dikenal dengan nama samarannya Go­kalp. Kehidupan pribadi dan visi pemikir­an awalnya banyak dipengaruhi oleh keluarganya, terutama ayah dan pamannya. Dari ayahnya ia mewarisi pandangan pro­gresif seperti jiwa patriotik dan tatanan hukum konstitusi; sedangkan dari paman­nya ia memperoleh ilmu agama, sufisme dan falsafat.

Semenjak masa sekolahnya Ziya telah aktif dalam gerakan politik. Sewaktu mengikuti pelajaran di Sekolah Kedokter­an Hewan Istambul, Ziya ikut mengorga­nisir gerakan bawah tanah Komite Persa­tuan dan Kemajuan. Ia pun ditangkap pa­da 1897, dipenjarakan selama setahun ke­mudian dibuang ke Diyar Bakr. Sampai dengan kemenangan kelompok Turki Mu­da pada 1908, Ziya telah menikmati po­sisi penting di Diyar Bakr. Memang ia te­lah menjadi penulis dan pembicara paling menonjol dalam konteks Usmanisme li­beral. Popularitas dan ide-idenya telah membawanya ke Salonika pada 1909 se­bagai delegasi ke muktamar Komite Per­satuan dan Kemajuan. Ia akhirnya terpilih sebagai anggota komite pusat. Sejak itu ia bergabung dengan para penulis berbakat yang mengisi majalah nasionalis seperti “Pena Muda” (Gene Kalemler) dan “Ulas­an Falsafat Baru” (Y eni Felsefe Mej­mu’asi). Kelompok ini mengumandangkan demokratisasi bahasa dan sastra dengan mengangkat corak yang merakyat dan Turki, serta mempopulerkan ideologi baru bagi masyarakat yang mengalami perubah-sosial akibat revolusi 1908. Ziya sangat berperan dalam penggarapan konsep-kon­sep yang nasionalis dan idealis. Di samping itu ia bekeria sebagai guru falsafat dan so­siologi di Salonika.

Advertisement

Pada 1912 Ziya diangkat menjadi dosen sosiologi di Universitas Istambul. Aktivitas ilmiah dan kemasyarakatannya di universi­tas selama 7 tahun dapat dianggap sebagai yang paling penting dalam proses pema­tangan pikiran-pikiran nasionalismenya. Kesempatan bertemu dan berdiskusi de­ngan para pelarian aktifis dari Asia Tengah ikut mewarnai corak nasionalisme yang diidamkan Ziya,.kendati ia menolak sama sekali konsep yang cenderung racist seper­ti Pan-Turanisme (Pan-Turkisme). Bagai­manapun kebangkitan kaum nasionalis di berbagai wilayah Usmani telah menjadi katalis bagi evolusi nasionalisme Ziya. la tetap berpegang kepada prinsip nasionalis­me Turki dalam wilayah Usmani. Penda­pat dan ide Ziya akhirnya dikembangkan secara eksplisit dan konkrit oleh pemikir­pemilcir Turki tahun 1920an, terutama Halide Edib yang mendapat dukungan pe­nuh dari Ataturk. Memang sebagai so­sioloe Ziya banyak mengembangkan pen­dapat-pendapat sarjana Prancis Emile Durkheim. sebagaimana terlihat umpama­nya dari konsepnya tentang “peradaban” dan “budaya”. Bagi Ziya bangsa Turki (Timur) harus maju dengan merombak diri guna memasuki dunia Barat yang mo­dern.

Untuk mencapai tujuan tersebut Ziya mengajukan berbagai syarat dan cars. Ia yakin bahwa Islam dalam keadaan apapun akan tetap menjadi kekuatan spiritual yang dinamis bagi bangsa Turki. Hal ini di­kemukakan kelihatannya, sebagai garansi atas kritikan yang ditujukan kepada Islam yang sementara itu dianut. Umpamanya Ziya nlenginginkan digalakkannya inter­pretasi baru terhadap ajaran Islam dan ju­ga dihapuskannya berbagai lembaga ke­islaman yang telah lapuk dan tercemar. Sebagai sosiolog Ziya melihat bahwa ma­syarakat itu dinamis. Dalam Islam, kata­nya, terdapat dua porsi besar: keagamaan (diyanet) termasuk akidah dan ibadat, serta muamalat, termasuk adat. Lapangan yang jelas terbuka lebar adalah muamalat. Bagi Ziya masyarakat harus diberi otono­mi untuk mengembangkan tatanan hidup dan adatnya. Sewaktu Islam diperkenal­kan, adat Arablah yang menjadi dominan dalam menata kehidupan umat. Setelah berkembang, khustisnya dalam dunia mo­dern, maka bcrhaklah orang-orang Islam termasuk bangsa Turki mengenyamping­kan hal-hal muamalat yang sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman. Pertanya­an mendasar yang diajukan Ziya dalam hal ini menyangkut masalah penilaian ter­hadap karya-karya fikih. Menurut penda­patnya karya fikih merupakan pencam­puradukan antara ibadat dan muamalat. Disinilah tugas negara untuk berperan da­lam merevisi dan menangani masalah-ma­salah yang berkait dengan muamalat. Se­ dangkan ulama boleh melanjutkan peran­an mereka dalam bidang ibadat. Berangkat dari dasar pemikiran demikian, Ziya mengusulkan pembatasan peranan syekh al-Islam dalam berbagai bidang, khusus­nya yudikatif, legislatif dan pendidikan.

Pada 1919 seusai Perang Dunia I Ziya ditangkap bersama para aktifis dan inte­lektual Turki oleh penguasa Inggris dan diasingkan ke Malta. Setelah dibebaskan pada 1921 ia bergabung dengan gerakan nasionalis di bawah Mustafa Kamal. Ke­mudian ia bekerja pada Kementerian Pen­didikan di Ankara. Mungkin karena kedu­dukan formalnya ini, kelihatannya Ziya tidak terlibat langsung dengan penyusun­an ideologi Kemalisme yang radikal, ken­dati ia tetap dianggap sebagai pemikir yang telah menyiapkan keberangkatan Turki menjadi negara nasionalis yang se­kuler. Pada 1923 ia diangkat menjadi ang­gota Majelis Agung Nasional tetapi tidak beberapa lama (1924) ia pun meninggal dunia. Buku yang sedang disusunnya “Sejarah Peradaban Turki” talc berhasil di­selesaikan; namun ia telah meninggalkan sejumlah artikel dan kumpulan syair.

 

Advertisement