Advertisement

Umar Khayam lengkapnya Giyatuddin Abul Fath Umar bin Ibrahim al-Khayya­mi, adalah nama seorang pujangga, sufi dan filosof yang juga ahli dalam bidang Astronomi dan Ilmu Pasti. Ia hidup pada masa kesultanan Saljuk (sekitar abad ke­11 dan 12). Riwayat hidup, jenjang pen­didikan dan perjalanan karirnya tidak ba­nyak diketahui. Ia mengaku sebagai peng­ikut Ibnu Sina, karena beberapa karya filosof tersebut, terutama buku asy-Syi­•d, ia pelajari.

Dalam anekdot Chaddr Maqdla atau Four Discourses atau Nizam `Arud, dr- gambarkan hubungan yang sangat akrab antara Sultan Saljuk Maliksyah dengan Umar Khayam. Bahkan, Umar Khayam pernah dipercaya sebagai guru privat sul­tan tersebut, terutama dalam bidang Falsafat dan Astronomi. Selain itu, bersama sa­habatnya, Umar Khayam ditugaskan oleh sultan untuk membuat penanggalan baru.

Advertisement

Edward G. Brown, dalam salah satu bu­kunya A Literary History of Persia jilid II, menuturkan bahwa Umar Khayam terma­suk penulis yang cukup produktif, karya­nya tidak kurang dari sepuluh buku, di an­taranya: Rubnyydt (Kuatrein) dalam ba­hasa Persia, Zij-i Malikshahi (Daftar Astro­nomi), Treatise on Algebra, The Nauraz Ntima, dan beberapa Essay Metafisika.

Dibanding dengan para sufi dan penyair Persi lainnya, seperti Anwari, Khaqani atau Dahir Faryabi, Umar Khayam lebih terkenal di Eropa dan Amerika. Terutama setelah kuatreinnya diterjemahkan secara brilyan oleh Edward Fitz Gerald’s pada 1859, yang telah mengalami beberapa kali cetak ulang dalam berbagai bahasa.

Sajak-sajak yang terdapat dalam kutre­in Umar Khayam banyak menggambarkan kerendahan hatinya di hadapan Allah. Kadang-kadang juga berupa penyesalan dan penentangan, penuh dengan harap­an dan pasrah diri. Ia pun sering memper­olok-olokkan orang-orang muslim yang ortodoks, mungkin untuk membangkitkan mereka. Diduga sikap inilah yang menye­babkan ia ditakuti dan dibenci para peng­anut tasawuf sezamannya dan yang datang berikutnya. Sebenarnya Umar Khayam sendiri arif dan paham ajaran-ajaran tasa­wuf, karena masa kecilnya ia dididik dan dibesarkan dalam lingkungan sufi.

Kuatrein Umar Khayam didasari oleh suatu pandangan falsafat, bahwa manusia dapat mencapai dan menikmati keindahan dan keagungan kehidupan di dunia ini, te­tapi buta sama sekali terhadap kehidupan setelah kematian.

Umar Khayam telah tiada, tetapi keha­ruman namanya menjadi buah bibir para peminat tasawuf dan sastra di berbagai ne­geri, karena sajak-sajak kuatreinnya yang sarat dengan ajaran-ajaran tasawuf. Ia ter­masuk dalam deretan pujangga terbesar Persi.

 

Advertisement