Advertisement

Tuanku Imam Bonjol, dilahirkan pa­da 1772 di Alahan Panjang, Sumatra Ba­rat. Nama kecilnya Mohammad Syuhab, putra Tuanku Raja Nuruddin. Pada usia sekitar 7 tahun, sebagaimana layaknya ke­luarga yang taat beragama, ia belajar al­Quran kepada ayahnya. Menjelang dewa­sa, sekitar usia 20 tahun, ia belajar penge­tahuan keislaman kepada Tuanku Koto Tuo selama 8 tahun, 1792-1800. Pada rentang usia ini, setelah pandai mengaji, ia diberi gelar “Peto Syarif”. Kemudian, un­tuk selama dua tahun, 1800-1802, ia melanjutkan belajar ke Aceh. Ketika kern­bali ke kampung-halaman, karena penge­tahuan keagamaannya yang semakin luas, ia memperoleh gelar “Malim Basa” (Mua­lirn Besar). Setahun kemudian, 1803, be­lajar kepada Tuanku Nan Renceh, pence­tus dan pemimpin gerakan kaum Paderi. Kepada Tuanku Nan Renceh, terutama, ia belajar tentang strategi perang.

Beberapa tahun kemudian, ia mulai ter­libat dalam kegiatan gerakan kaum Paderi. Pada 1807, ia mendirikan benteng perta­hanan di kaki bukit Tajadi, kawasan Bon­jol. Benteng tersebut kemudian menjadi basis kekuatan pertahanan kaum Paderi. Tahun berilcutnya, 1808, karena keberha­silannya menyusun strategi pertahanan, ia diangkat menjadi Tuanku Imam Bonjol oleh pemimpin kaum Paderi. Setelah Tuanku Nan Renceh meninggal pada 1820, Tuanku Imam Bonjol diangkat se­bagai penggantinya. Sekitar dua tahun ke­mudian, 1822, Perang Paderi meletus.

Advertisement

Selama lebih dari 15 tahun, 1822­1837, dalam peperangan Paderi, Tuanku Imam Bonjol merupakan pimpinan utamanya. Akhirnya, setelah Bonjol jatuh, pada 28 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol berhasil ditangkap Belanda dengan dalih perundingan. Karena kharisma. dan pengaruhnya yang tetap begitu besar di kalangan masyarakat, tempat pengasing­annya berpindah-pindah. Mulanya ia di­asingkan ke Bukittinggi, kemudian dialih­kan ke Padang. Kemudian, dari Padang, ia diberangkatkan ke Jakarta dan ditempat­kan di Kampung Bali, kawasan Tanah­abang sekarang. Dari Jakarta, pada 20 Ja­nuari 1838, ia dipindahkan ke Cianjur, Jawa Barat. Selama di Cianjur, Tuanku Imam Bonjol diperkenankan mengajar pc­ngetahuan agama. Dalam waktu yang rela­tif singkat, ia berhasil menyerap murid yang cukup banyak. Hal ini sempat me­nimbulkan kekhawatiran politik bagi Be­landa. Karena itulah, kemudian, ia dipin­dahkan ke Ambon. Dari sana, untuk yang terakhir kali, ia dipindahkan ke Manado sampai akhir hayatnya. Tuanku Imam Bonjol, seorang pejuang yang terkenal sa­ngat gigih dan ulama yang berwibawa, me­ninggal-dunia pada 8 November 1864.

 

Advertisement