Advertisement

Pahlawan besar dalam Perang Aceh (1873-1891) yang dilahirkan di Krueng Tiro. Ayahnya, Tengku Syekh Abdullah bin Tengku Syekh Ubaidi 11 ah dan ibunya, Siti Aisyah, terkenal taat menjalankan syariat agama Islam.

Sewaktu berusia lima belas tahun, ia mempelajari beberapa cabang agama Islam, sejarah, dan tasawuf dari kitab-kitab karya Imam al-Ghazali di bawah bimbingan pamannya, Tengku Tjik Dayah Tjut Di Tiro. Di samping itu, ia berguru kepada Tengku Muhammad Arsjad, Tengku Abdullah Dajah, dan kemudian Tengku Tanjung Bungong Tjik. Setelah beberapa tahun mendalami ilmu agama, ia pun menjadi guru.

Advertisement

Atas saran pamannya, ia bermaksud menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah agar ilmu agama yang dimilikinya lebih sempurna. Namun, rencana ini tertunda. Sebelum ia berangkat ke Mekah, teman- temannya memintanya bergabung dalam pasukan perlawanan terhadap pasukan Belanda di daerah Lam Krak. Tjik Di Tiro kemudian terjun dalam suatu pertempuran sengit yang menimbulkan kerugian besar di pihak Belanda namun juga mendatangkan penderitaan berat di kalangan rakyat. Ia lalu meminta teman- temannya menarik diri dan kembali ke Tiro.

Sekembalinya di daerah Lam Krak, Tjik Di Tiro kemudian berangkat ke Mekah atas desakan paman-nya. Di Mekah, selain menunaikan ibadah haji, ia mengadakan pertemuan dengan para tokoh pejuang dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi yang juga tengah menunaikan ibadah haji.

Setibanya kembali di Aceh, ia menggalang pasukan dan kemudian diangkat sebagai panglima oleh para ulama dan rakyat (6 April 1881). Pihak yang tidak menyukai pengangkatan itu melecehkannya karena postur tubuhnya tidak tegap sebagaimana lazimnya panglima. Tengku Tjik Di Tiro kemudian menuju markas Gunung Biram untuk menyusun pasukannya. Ternyata, rakyat setempat mendukung perjuangannya. Banyak di antara mereka lalu bergabung sampai akhirnya satu pasukan besar terbentuk. Di antara tokoh-tokoh Aceh yang mendukung perjuangannya adalah Panglima Polem, Tengku Anjer Alang, Pang Lampeh, Tengku Haji Muhammad Pante Kulu, Tengku Abas, Tengku Umar di Lam U Bangian Sagi XXII.

dan Tengku Umar di Meulaboh. Dengan dukungan tokoh-tokoh itu, perjuangannya semakin diperhitungkan Belanda. Tjik Di Tiro menyatakan perangnya kepada Belanda sebagai perang sabil atau perang suci. Rakyat Aceh mendukung perang ini.

Dengan pertimbangan strategis, Belanda memusatkan kekuatan militernya di Gle Tarem. Pada pertengahan tahun 1882 pasukan Tjik Di Tiro berhasil merebut daerah ini. Pasukannya juga berhasil merebut beberapa daerah yang dikuasai Belanda seperti Bukit Seubun dan Bleng Pulo.

Pada akhir tahun 1885 Tengku Tjik Di Tiro melancarkan serangan beruntun di sekitar Pulau Beras dan Kuala Tjangkul. Serangan ini membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Pasukan Tengku Tjik Di Tiro juga mengepung Belanda di Aceh Besar dan pelabuhan- pelabuhan yang dikuasai Belanda di Aceh. Serangan terhadap pos Belanda di Pantai Aceh dilakukan pada tahun 1886. Serangan gencar yang lain dilancarkan dari daerah Lampager pada bulan November 1887 sehingga posisi Belanda terdesak.

Pada 1888-1889 perlawanan terhadap Belanda mulai menurun karena adanya desas-desus mengenai akan diadakannya perdamaian antara pasukan Belanda dan pasukan Tengku Tjik Di Tiro. Tengku Tjik Di Tiro menghapuskan desas-desus tersebut dengan menyatakan tekadnya untuk bertempur sampai tercapainya kemenangan penuh.

Oleh karena pasukan Belanda menemui kesulitan dalam mengatasi perlawanan pasukan Tengku Tjik Di Tiro, mereka menempuh langkah pintas. Nyak Ubit, seorang wanita pembantu yang disuap Belanda, meracuni Tjik Di Tiro lewat makanan.

Ia meninggal dunia bulan Januari 1891 dan dimakamkan di benteng Mureu. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 217 tahun 1957 almarhum ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Advertisement