Advertisement

Teuku Umar, (1859-1899), yang men­dapat gelar Johan Pahlawan, adalah salah seorang pahlawan Perang Aceh (1873—1912) yang sejak muda sudah berjuang melawan Belanda sampai ia gugur sebagai pahlawan. Menurut Abdul Karim Ms., ayahnya bernama Datuk Songsong Buluh dari Minangkabau, dan ibunya adalah pu­tri dari raja Meulaboh, Teuku Cik Raja. (Menurut Nyonya M.H. Szekely-Lulofs, ayah Umar bernama Mahmud dari Aceh Besar). Pendidikannya diperoleh dan abang sulung ibunya, Teuku Kejuruan Mu­da, berupa pelajaran al-Quran dan hukum­hukum agama dan itu dipelajarinya sambil lalu karena dalam suasana perang. Tulisan latin tidak dikenalnya, tetapi berkat ke­cemerlangan otaknya, berita-berita yang ia dapat dan sekretaris pribadinya, diguna­kannya untuk menentukan setiap langkah dalam perjuangannya.

Tahun 1876, Meulaboh jatuh ke tangan Belanda, dan Teuku Cik Raja terpaksa me­nandatangani perjanjian damai, tetapi pu­tra-putranya meneruskan perlawanan, ter­masuk cucunya, Umar, yang dibawa oleh pak tuanya, Teuku Kejuruan Muda, ke hutan dalam rangka memimpin perlawan­an. Bahkan ketika Teuku Cik Raja wafat, Teuku Kejuruan Muda memilih tinggal di hutan daripada menggantikan ayahnya se­bagai raja tetapi harus berdamai dengan Belanda. Perlawanan semula dipusatkan di kampung Darat. Meskipun diblokade Be­landa, persenjataan masih diperoleh me­lalui tipu muslihat atau merampas senjata musuh. Ketika Darat dikuasai Belanda 1878, Umar pindah ke Aceh Besar, dan pada pertengahan Juli tahun itu juga ia pergi ke Muntasik kira-kira sebulan sete­lah Ibrahim Lamnga, suami Cut Nyak Din, gugur dalam pertempuran. Ia kemu­dian kawin dengan Cut Nyak Din (meski­pun ia sudah beristrikan Cut Mahligai, putri Panglima Sagi XXV), kemudian me­neruskan perlawanan bersama istri baru­nya itu di Aceh Barat. Ketika Belanda pa­da 1881 menyerbu Patih (Pate), serbuan itu digagalkan oleh Teuku Umar. Setelah itu, Umar pergi ke Rigas (Rigaih) untuk menetralisir daerah tersebut yang semula sudah dikuasai Belanda. 1882, di Aceh Besar, Umar berhasil mengusir Belanda dan Krueng Raba, sehingga terpaksa mengurung din dalam “lini konsentrasi” mereka di Kutaraja dan Ulehleh.

Advertisement

Tahun 1883, terjadi peristiwa “Nise­ro”, nama Kapal Inggris yang kandas di pantai Pongah. Yang umum berlaku wak­tu itu, kapal yang kandas seisinya men­jadi milik penguasa daerah tempat kapal itu kandas, yang dalam kasus ini adalah Teuku Imam Muda, raja Teunom. Itulah sebabnya, raja Teunom minta tebusan 100.000 gulden kepada Belanda apabila kapal itu akan dikembalikan kepada Ing­gris. Umar yang bertindak sebagai peran­tara, secara rahasia memberitahukan ke­pada raja Teunom agar jangan mengu­rangi jumlah tuntutan, dan untuk perca­.yanya, Umar pura-pura menyerah, tetapi Belanda terpaksa mengantarkan Umar beserta anak buahnya ke Lambusi di Aceh Barat. Di samping tuntutan raja Teunom dipenuhi, Umar sesampainya di Lambusi menyerang Belanda yang mengantarkannya sehingga semuanya te­was dan senjatanya dilucuti. Karena peris­tiwa itu, Belanda mengumumkan pada 1885, barangsiapa yang berhasil mencu­lik Umar dan membawanya ke Kutaraja hidup atau mati, akan diberi hadiah 25.000 gulden, dan ini menyebabkan ter­jadinya peristiwa “Hok Canton” (1886). Kapten kapal Hok Canton yang berben­dera Inggris itu minta agar Umar sendiri yang naik ke kapalnya untuk menerima pembayaran harga lada, tetapi tujuannya adalah untuk membawa lari Umar ke Kutaraja guna mendapatkan hadiah 25.000 gulden tersebut. Karena Umar juga siaga, di kapal terjadi pertempuran, kap­tennya akhirnya tewas, dan istrinya Ny. Hansen dan salah seorang anak buahnya, John Fay ditawan, dan bane dibebaskan setelah Umar mendapat tebusan 25.000 gulden.

Sekitar Agustus 1893 (waktu itu perla­wanan laskar Aceh sudah lemah), Umar menghubungi Deykerhoff, gubemur mili­ter Belanda untuk Aceh waktu itu, untuk bekerja sama mengembalikan keamanan di Aceh. Ajakan ini diterima oleh Dey­kerhoff yang berpendapat bahwa orang Aceh harus dilawan oleh orang Aceh pula. Untuk membuktikan kesungguhan hati­nya, Umar mengamankan Mukim XXV dan mempersembahkannya kepada Belan­da. Pada 30 September 1893, ia bersama 15 panglimanya yang masing-masing de­ngan anak buahnya disumpah untuk setia kepada Belanda dan ia diangkat sebagai Panglima Perang Besar Hindia Belanda de­ngan mendapat gelar Teuku Johan Pah­lawan. Tugasnya adalah mengamankan seluruh wilayah Aceh Besar dan berhak membentuk legiun berkekuatan 250 pra­jurit lengkap dengan senjatanya. Setelah kira-kira 3 tahun, seluruh Mukim XXV, XXVI dan sebagian Mukim XXII dapat diamankan, tetapi Umar menghadapi 3 masalah sulit: (1) Ia dicurigai oleh pe­juang Aceh, (2) Iri hati dari mereka yang sudah lebih lama kerja sama dengan Be­landa, dan (3) Kecurigaan pihak Belanda tetap besar.

Ketika terjadi pertempuran dengan pi­hak pejuang (7-3-1889) dan Belanda mendapat kekalahan dan juga kekalahan­kekalahan sebelumnya, Umar menolak untuk bertanggungjawab karena bukan daerah wewenangnya. Meski demikian, hubungan sudah renggang dan Umar mem­punyai watak pantang disalahkan. Maka pada 30 Maret 1896, dengan resmi Umar menyatakan tidak dapat mengikuti lagi kebijakan yang diambil oleh Belanda. Jendral Deykerhoff digantikan oleh Vet­ter yang dengan segera mengumumkan pemecatan terhadap Umar dan menyata­kannya sebagai musuh besar Belanda. Pertempuran berkobar antara Teuku Umar dengan laskarnya melawan Belan­da. Perang yang paling sengit adalah di Anew Galung (28 Juni 1896) yang dime­nangkan oleh Belanda yang dipimpin oleh Van Heutz meskipun persenjataan Umar lengkap pula. Umar menyingkir ke Pidie dan terjadi pula pertempuran. Berkali­kali Umar terdesak, tetapi selalu dapat menyelamatkan diri. Namun, ketika ia di­beritakan berada di Meulabaoh, oleh Van Heutz segera dikirim mata-mata untuk mengintainya. Pada 11 Februari 1899, ia tertembak karena pengkhianatan.

Advertisement