Advertisement

Teuku Cik Di Tiro, sesungguhnya ber­nama Muhammad Saman. la dilahirkan di Tiro, Pidie, Aceh, pada sekitar 1836 (1251 H). Latar belakang kehidupan ke­luarga dan masa kecilnya tidak tercatat se­cara baik. Teuku Cik Di Tiro tercatat da­lam sejarah sebagai ulama dan pejuang kemerdekaan dalam perang Aceh, 1873­1904. Teuku Cik Di Tiro, sesungguhnya, sangat banyak terlibat dalam pertempuran melawan penjajahan Belanda. Bahkan, bu­kan saja ia banyak terlibat dalam pepe­rangan Aceh, tetapi juga, sekaligus, me­mimpin berbagai serangan. Misalnya, pada 1878, ia memimpin serangan terhadap benteng-benteng pertahanan Belanda di daerah Gigieng, Sigh, dan Montasie.

Di samping itu, Cik Di Tiro pun terke­nal sebagai seorang ahli strategi. Untuk mempertahankan kubu-kubu pertahanan rakyat Aceh yang tersebar di daerah Pidie dari serangan pasukan Belanda, ia yang mengatur strateginya. Misalnya, ia meng­atur strategi dalam menghadapi pengirim­an pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor W.A. Coblijn dan pasukan yang di­komandani Jenderal Van der Heyden. Ka­rena kecakapan dalam menyusun strategi ini, pasukan Cik Di Tiro sering dapat me­matahkan dan, sekaligus, merebut bebera­pa benteng pertahanan Belanda.

Advertisement

Penyerangan Belanda terhadap kubu pertahanan rakyat Aceh di Garat dapat di­patahkan pasukan Cik Di Tiro. Pada Mei 1881, benteng pertahanan Belanda di In­drapuri dapat direbut. Begitu pula ben­teng pertahanan Belanda di Lambarts,

Aneuk Galang, dan lain-lain jatuh ke ta­ngan pasukan Cik Di Tiro. Selanjutnya, pada Juli 1889, pasukan Cik Di Tiro me­nyerang kedudukan Belanda dekat Kuta Pohama, daerah Kutaraja. Dua tahun ber­ikutnya, 1891, Cik Di Tiro wafat karena ulah licik Belanda. la diracuni. Kemudian, kedudukannya digantikan Teungku Mu­hammad Amin Tiro, perjuangannya dilan­jutkan oleh kedua anaknya.

Advertisement