MENGENAL TEORI HOBBES

12 views

The history of medicine, dalam P.J. Durbin, (ed.) A Guide to the Culture of Science, Technology and Medicine, New York. (1993) The historiography of medicine , dalam W.F. Bynum dan R. Porter (eds) Companion Encyclopedia of the History of Medicine, London. mengenai manusia sebagai suatu pandangan yang mengabaikan jiwa; ilmuwan hukum menyerang doktrin absolutismenya telah menempatkan kedaulatan di atas hukum sipil; bahkan raja, yang kekuasaannya dibela Hobbes, was-was menerima ajarannya bahwa otoritas politik dilandaskan pada kekuasaan nyata ketimbang hak suci surgawi (Mintz 1962). Di abad delapan-belas dan sembilanbelas, pembelaannya terhadap absolutisme dan kekuasaan arbitrer beradu dengan tuntutan umum akan adanya pemerintahan yang konstitusional. Hobbes lebih diterima pada abad duapuluh ketimbang sebelumnya. Kendati sejumlah ilmuwan melihat kesejajaran antara negara Leviathan Hobbes dengan tiran-tiran abad duapuluh, hampir semuanya mengakui bahwa Hobbes telah mencerahkan analisis despotisme, yang tujuan utamanya adalah menjamin keamanan sipil, dan ini tentu saja berbeda dengan negara-negara totaliter yang brutal dan dikuasai oleh orang-orang yang fanatik. Studi-studi semacam itu dapat dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing mencerminkan mahzab filsafat mutakhir dalam melacak asal-usul modernitas, Pertama, dibimbing oleh minat terhadap filsafat kontemporer analitis, satu kelompok membela keutamaan metode dan logika formal sistem dan pandangan politik Hobbes sebagai aturan-aturan formal yang berfungsi sebagai pedoman sistem kenegaraan. Kelompok kedua menguji teori Hobbes mengenai kewajiban politik dari sudut pandang Kant. Menurut penafsiran ini, argumen Hobbes atas kepatuhan politik masyarakat melebihi kalkulasi-kalkulasi utilitas dengan pengertian kewajiban moral dalam menjaga kontrak sosial, dan dengan mengharuskan warga negara untuk tunduk pada kekuatan, ada kesan Hobbes justru mengingkari kedaulatan rakyat yang sangat diagung-agungkan.

Oleh para cendekiawan Marxis, penafsiran ketiga ini memanipulasi pemikiran Hobbes untuk memahami asal-usul ideologis masyarakat borjuis dan untuk menyusun perspektif kritis Marxis terhadap liberalisme borjuis dengan mengekspos akar-akar Hobbesiannya. Penafsiran keempat mencerminkan perhatian pada mazhab hukum kodrati. Menurut ilmuwan dari mazhab ini, Hobbes adalah tokoh yang menentukan dalam transformasi tradisi hukum kodrat dari hak-hak kodrati klasik menuju hak-hak’ kodrat yang modern; Hobbes menyempurnakan revolusi ini dengan menegaskan bahwa hak untuk mempertahankan kelangsungan hidup, yang didasarkan pada rasa takut terhadap kematian yang kejam, adalah satu-satunya klaim moral yang dapat dibenarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *