MENGENAL TB SIMATUPANG (1920-1990)

adsense-fallback

Cendekiawan, pemikir, pemuka gereja, dan mantan Kepala Staf Angkatan Perang Indonesia.

adsense-fallback

T.B. Simatupang yang akrab dengan panggilan Pak Sim lahir di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Ayahnya, Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, adalah intelektual yang bekerja di Jawatan Pos dan Telegraf dan pendiri Persatuan Kristen Indonesia, yang kemudian berkembang menjadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

Setamat dari MULO di Tarutung, Tapanuli Utara, Simatupang bersama kakaknya melanjutkan sekolah di Jakarta (1937). Setamat dari AMS pada awal tahun…, ia diterima di kelas zeni Koninklijke Militaire Academy (KMA). Si-matupang, yang kutu buku sejak anak-anak, ma-suk akademi militer itu dengan tekad untuk

membuktikan ketidak- Tahi Bonar Simatupang benaran mitos yang ditanamkan Belanda bahwa Indonesia tidak akan pernah mampu membangun suatu angkatan perang modern. Di akademi itu ia termasuk taruna terbaik di antara bangsa Indonesia maupun Belanda.

Pendidikan akademi yang baru berjalan bebera; t bulan terhenti dengan masuknya Jepang. Simatupang bersama teman-temannya kemudian ditempatkan oleh Jepang di Resimen Pertama Jakarta dengan pangkat calon perwira. Di situ ia berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Sutan Sjahrir dan Ali Budiardjo. Ia pun mulai aktif dalam diskusi-diskusi tentang makna perjuangan dan kemerdekaan.

Selama revolusi fisik mempertahankan kemerde-kaan, Simatupang bersama Jenderal Sudirman me-mimpin tentara bergerilya di Jawa Tengah. Peng; – laman gerilya dan pemikiran-pemikirannya tentan perjuangan pada masa itu diabadikannya dalam buku Laporan dari Banaran (1980).

Tahun 1949 Simatupang mewakili pihak Angkatan Bersenjata dalam delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar. Misi utamanya adalah mendesak Belanda membubarkan KNIL (tentara boneka ciptaan Belanda) serta mengukuhkan TNI sebagai kekuatan inti bagi Angkatan Perang RI. Tidak lama kemudian, dengan meninggalnya Jenderal Sudirman, Simatupang dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Peran * (KSAP) RI.

Usai perjuangan kemerdekaan dan memper-tahankan kedaulatan yang dinamakan Simatupang sebagai “loncatan pertama”, pemikiran utama Simatupang bersama beberapa intelektual ABRI lain adalah bagaimana memfungsikan ABRI dalam “loncatan kedua”. Setelah berhasil berfungsi sebagai stabilisator di masa perang, ABRI juga harus mampu berfungsi sebagai dinamisator pembangunan di masa damai. Konsep inilah yang kemudian diperkenalkan oleh A i – dul Haris Nasution dengan nama Dwifungsi ABRI.

Usaha rasionalisasi dan profesionalisasi ABRI yang dilaksanakan T.B. Simatupang – dengan tujuan meningkatkan mutu tentara – mengundang kritik para politikus. Para politikus ini mendapat dukungan dari Presiden Sukarno. Perbedaan pendapat yang tajam antara Simatupang dan Bung Karno, yang dipanas- panaskan oleh kaum politikus, berakhir dengan dihapuskannya jabatan KSAP (1954) dan ditunjuknya Simatupang sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan. Sebelum itu ia ditawari jabatan duta besar tetapi ditolaknya. Simatupang memanfaatkan waktunya selama lima tahun sesudah itu dengan mengajar di Sekolah Staf Angkatan Darat (sekarang Seskoad) dan di Akademi Hukum Militer. Sebagian bahan pelajaran itu dituliskannya kembali dalam bentuk buku berjudul Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Da-mai (1981).

Pada tanggal 21 Juli 1959, dalam usia 39 tahun. Simatupang mengundurkan diri dari jabatan KSAP. Sejak itu ia menjadi ketua umum Dewan Gereja Indonesia. Ia pun pernah mengetuai Dewan Gereja se-Asia dan Dewan Gereja Sedunia.

Ketika Dr.A.M. Kadarman, SJ melontarkan gagasan mendirikan sebuah sekolah manajemen bagi generasi muda Indonesia, Dr.T.B. Simatupang mendukungnya. Tanggal 3 Juli 1967 diresmikan Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen

(YPPM). Bertindak sebagai pendiri adalah Profesor Bahder Djohan mewakili golongan Islam, Dr. A.M. Tambunan mewakili golongan Kristen, dan I.J. Kasi- —cwakili golongan Katolik. Simatupang lalu >at ketua yayasan yang membawahkan Institut dikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM).

Dr T.B. Simatupang memperoleh gelar doktor ho-noris causa dari Universitas Tulsa, Amerika Serikat, untuk pemikiran-pemikiran ilmiahnya (1969). Karya- karyanya yang diterbitkan dalam bentuk buku antara lain Soal-soal Politik Militer di Indonesia (1956), Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969), Laporan dari Banaran (1980), Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun (1980), Pe- dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981), Kristen dan Pancasila (1984), Keprihatinan dan i ekad; Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya (1985), dan Dari Revolusi ke Pembangunan (1987).

T.B. Simatupang meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1990 dalam usia menjelang 70 tahun. Untuk mengenang jasa-jasanya, sekelompok cendekiawan menerbitkan sebuah buku memoar dengan judul Saya Orang yang Berhutang (1990).

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback