Advertisement

Syekh Ibrahim Musa Parabek, dila­hirkan pada 1882 (12 Syawal 1301 H) di Parabek, Banuhampu, Agam, Sumatra Ba­rat. Ia seorang putra tunggal dari keluarga, suami istri, Musa bin Abdul-Malik dengan Maryam. Sampai usia 13 tahun, ia belajar mengaji dan pengetahuan dasar agama di lingkungan keluarga. Kemudian, untuk se-lama satu tahun, ia diserahkan keluarga­nya mengaji kepada Syekh Mata-air di Pa­kandangan, Pariaman, dalam bidang baha­sa Arab. Bersamaan dengan itu, ia belajar pula kepada Tuanku Angin, seorang ulama Batipuh Baruh, Padang Panjang, untuk bi­dang fikih. Kemudian, ia pindah ke La­dang Lawas, Banuhampu, belajar kepada Syekh Abbas, juga, selama satu tahun. Pa­da 1897, ketika berusia sekitar 16 tahun, ia pindah ke Biaro Empat Angkat, Can-dung. Di sini ia belajar kepada Syekh Ab­dus-Shamad dalam bidang tafsir al-Quran. Di samping itu, ia masih melakukan dua kali perpindahan guru dan tempat untuk melanjutkan pelajarannya, sampai usia 20 tahun.

Pada sekitar (Rajab 1321 H) 1902, ia berangkat ke Mekah. Selama di sana ia be­lajar kepada Syekh Ahmad Khatib, Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Mukh­tar al-Jawy, Syekh All Husen, dan Syekh Yusuf al-Hayat. Tidak kurang dari enam setengah tahun lamanya, ia belajar di sa­na. Pada 1908 (1327 H), ia kembali ke kampung Parabek. Sekembali dari Mekah, ia mulai mengadakan pengajian-pengajian. Sekitar enam tahun kemudian, 1914 (1333 H), ia berangkat kembali ke Mekah; kali ini, ia ditemani istri dan anaknya, Syarifah Ghani dan Thaher Ibrahim. Dua tahun berikutnya, 1917 (1335 H), ia su­dah tiba kembali di kampung-halamannya, Parabek.

Advertisement

Kegiatan pengajian yang pernah diada­kannya dua tahun sebelumnya diselengga­ rakan kembali. Bahkan, kali ini, ia berte­kad untuk mendirikan sebuah p.erguruan Islam. Pada 1918, sebagai langkah perta­ma, ia .mendirikan Mudzakarat al-Ikhwan. Nama tersebut diambil dan kegiatan per­temuan berkala, sekali seminggu, yang di­selenggarakan oleh Para murid lembaga tersebut. Lembaga pendidikan ini sempat menerbitkan majalah al-Bayan pada 1919.

Sebagaimana diketahui, pada 1918, di Padang Panjang telah didirikan lembaga pendidikan Sumatra Thawalib. Kemudian, Mudzakarat-al-lkhwan, sebagai lembaga yang memiliki orientasi yang sama, beru­saha menjalin kerjasama dengan Sumatra Thawalib. Untuk kepentingan ini, kedua lembaga pendidikan tersebut, masing-ma­sing di bawah pimpinan Ibrahim Musa dan Jalaluddin Thaib, mengadakan pertemuan di surau Inyik Jambek. Pertemuan terse-but mencapai kata-sepakat, pada 15 Feb­ruari 1920, untuk menjalin kerjasama da­lam bidang pendidikan.

Ibrahim Musa, selain aktif dalam bidang pengembangan sosial keagamaan dan pen­didikan agama, juga aktif dalam perjuang­an kemerdekaan RI. Terbukti, misalnya, ia pernah menjadi pengurus besar Pem­bangun Laskar Rakyat Sumatra Barat (1943). Pada 1946, ia menjadi Imam Ji­had Hizbullah-Sabilillah kabupaten Agam untuk front Padang. Selain itu, agaknya, Ibrahim Musa pun adalah ulama yang me­naruh perhatian dalam bidang politik. Mi­salnya, pada Juli 1953, ia sempat me­nyampaikan kertas-kerja mengenai garis­garis pokok pemilihan umum dalam muk­tamar Ulama dan Mubalig se Indonesia di Medan.

Ibrahim Musa Parabek, sebagai ulama yang aktif dalam berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, pendidikan, perjuangan kemerdekaan RI, dan politik, wafat pada 23 Juli 1963 (1382 H) di Parabek.

 

Advertisement