Advertisement

Syekh Bosar, atau Abdul Halim Hasi­buan, dilahirkan di kampung Sihijuk, Ke­cam.= Sipirok, Tapanuli Selatan. Gelar Bosar, yang berarti besar, diberikan oleh masyarakat atas kebesarannya serta ke­alimannya dalam agama. Ayahnya berna­ma Haji Muhammad Nurhakim, seorang kadi di zaman pemerintahan Belanda.

Pendidikan Syekh Bosar diawali dari Sekolah Rakyat di desanya. Kemudian se­telah ia berusia 12 tahun ia dikirim oleh ayahnya ke Mekah untuk belajar agama. Di Mekah ia bermukim selama 30 tahun. Kesempatan yang panjang itu membuat Syekh Bosar dapat menimba ilmu seba­nyak-banyaknya dari beberapa orang guru besar di Mekah. Guru-gurunya disebutkan antara lain Syekh Umar Hamdan, Syekh Asy`ari Bawean, Syekh Kendi dan Syekh Daud Fatani. Ia belajar dengan tekun ten-tang fikih, hadis, tafsir Quran dan tasawuf, dan ia dikenal penganut tarekat Naqsya­bandiyah.

Advertisement

Pada 1900 ia kembali ke tanah air dan mulai mengajar dengan mendirikan sebuah surau di kota Padang Sidempuan. Banyak murid yang berdatangan ke surau ini un­tuk menuntut ilmu kepada Syekh Bosar. Lama kelamaan surau itu dipugar sedikit demi sedikit sehingga akhirnya menjadi Mesjid Ray a Padang Sidempuan.

Di samping mengajar, Syekh Bosar juga pernah menjadi Hakim (Kadi) di zaman Belanda. Tidak ada karya tulis yang diwa­riskan oleh Syekh Bosar kepada generasi sesudahnya. Murid-muridnya tercatat, an­tara lain Syekh Kadir dari Aek Pining Ba­tang Toru, Syekh Abdurrahman dari Sia­logo, Haji Daud dari Mompang Julu, Haji Abdul Halim Pardede di Prapat. Akhirnya Syekh Bosar, setelah berdakwah dengan gigih untuk masyarakat Tapanuli Selatan, pada 1920 berpulang ke rahmatullah.

Advertisement