Advertisement

Syekh Ahmad Surkati, dilahirkan di Dunggala, Sudan, pada 1872, dan berasal dari keluarga yang taat beragama. Karena itu tidak mengherankan jika ia sejak kecil telah banyak mengetahui ayat al-Quran. Sebagaimana umumnya diketahui, dalam kehidupan pendidikan agama keluarga muslim yang taat, pelajaran membaca al­Quran merupakan salah satu sendi utama pendidikan keluarga. Menjelang usia dewa­sanya, ia sesungguhnya bercita-cita melan­jutkan pelajarannya ke Mesir. Namun se­belum ia sempat mewujudkan cita-citanya ayahnya telah meninggal dunia. Sungguh­pun demikian, sepeninggal ayahnya, ia masih sempat melanjutkan pelajarannya ke pusat studi Islam yang lain, Arab Saudi.

Di sana, mulanya ia belajar di Madinah selama empat tahun. Kemudian, ia pindah dan memperdalam pelajarannya di Mekah selama sebelas tahun. Salah seorang guru yang ditemuinya di sana adalah Syekh Muhammad bin Yusuf al-Khayyat, se­orang syekh yang kemudian menetap di Malaya dan, bahkan, sering mengunjungi Sumatra Utara. Karena prestasi belajar yang ditunjukkannya, pada 1906, ketika ia berusia sekitar 34 tahun, ia memper­oleh ijazah tertinggi guru agama dari pe­merintah di Istambul. Rupanya, prestasi besar ini telah menempatkannya sebagai seorang pelajar Sudan pertama yang mem­peroleh ijazah tersebut. Bahkan, ia terma­suk salah seorang di antara empat orang guru agama di Arab Saudi yang memper­oleh penghargaan dari prestasi seperti itu. Sejak 1906 itu, sekitar empat sampai lima tahun, ia mengajar di Arab Saudi. Pada masa-masa itu pula ia mulai banyak me­ngenal pikiran Muhammad Abduh melalui majalah al-Man5r, pimpinan Abduh, yang diterimanya secara berkala.

Advertisement

Adapun proses kedatangan Surkati ke Jakarta, dan kaitannya dengan sejarah ke­lembagaan pendidikan Islam di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari mekanisme

perjalanan ibadat haji pada masa penjajah­an Belanda. Seperti tercatat dalam sejarah, setelah dipergunakannya kapal uap seba­gai alat transportasi laut pada pertengahan abad ke-19 dan terutama setelah terusan Suez dibuka pada 1869, jumlah jemaah haji Indonesia semakin bertambah. Ibadat haji pada masa kolonia1 tersebut bisa ber­fungsi ganda bagi umat Islam, di samping sebagai upaya penunaian rukun Islam keli­ma, juga sebagai media pengaliran ide-ide pembaharuan dari Timur Tengah. Dalam konteks ibadat haji seperti ini, Jamiat

Khair .menjadikannya sebagai media untuk mendatangkan guru-guru agama dari Ti­mur Tengah, khususnya Arab Saudi.

Syekh Ahmad Surkati didatangkan ke Jakarta oleh Jamiat Khair melalui dua syekh pengurus jemaah haji yang datang secara kontinu ke Indonesia. Kedua syekh tersebut diminta untuk mencarikan guru­guru agama di Saudi Arabia yang bersedia mengajar di Jakarta. Dengan demikian, pa­da 1911 Surkati telah tiba di Jakarta, dan langsung mengajar di lembaga pendidikan tersebut. Namun, Surkati hanya mampu bertahan mengajar di lembaga ini selama dua tahun. Hal ini disebabkan oleh perseli­sihan pandangan antara dirinya dengan Ja­miat Khair, terutama, tentang derajat so­sial manusia.

Bagi Surkati yang banyak terpengaruh pikiran rasional Abduh, semua manusia mempunyai derajat sosial yang sama, baik Arab maupun bukan Arab, begitupun, baik sayid maupun bukan sayid. Tetapi bagi or­ganisasi Jamiat Khair yang sebagian besar anggotanya kelompok Arab sayid, ke-sa­yid-an merupakan derajat sosial yang cu­kup tinggi. Oleh karena itu mereka tidak dapat menerima pandangan Surkati yang egalitarian tersebut. Sejak itu, 1913, Sur­kati meninggalkan Jamiat Khair. Untuk selanjutnya, di samping membuka sendiri sekolah di tempat kediamannya, juga ke­mudian ia menggabungkan diri ke dalam organisasi pendidikan Islam yang egalita­rian, al-Irsyad. Sampai akhir hayatnya, 1943, ia terus mengajar di al-Irsyad. Ke­cuali pada 1920-1924, ia sempat menco­ba berdagang bersama syekh Ahmad Syah­bal.

 

Advertisement