Advertisement

Syekh Ahmad Khatib, dilahirkan pada 1860 (1276 H) di Kota Gadang, Bu­kittinggi, Sumatra Barat. Ia berasal dari keluarga yang taat beragama dan sekaligus kuat berpegang kepada adat. Sejak berusia Sebelas tahun ia telah dibawa ayahnya. Abdullatif, belajar ke Mekah. Pada usia se­kitar enam belas tahun, ia sempat kembali ke tanah air untuk beberapa bulan lama­nya. Kemudian, pada 1876 ia kembali lagi ke Mekah untuk memperdalam pelajaran agamanya, dan langsung menetap di sana. Ketika ia berusia sekitar dua puluh tahun, atau empat tahun setelah ia kembali ke Mekah, karena kehalusan budi bahasa dan penguasaan pengetahuan agamanya, nama­nya mulai terkenal di masyarakat Mekah. Atas dasar ini, kemudian, ia diambil me­nantu oleh seorang saudagar di Mekah, Syekh Saleh Kurdi, pedagang dan penya­lur kitab-kitab keagamaan. Ia dinikahkan dengan anaknya, Khadijah.

Rupanya, Syekh Saleh Kurdi seorang saudagar yang bermazhab ini, mempunyai hubungan dengan pemerintah kerajaan Arab Saudi di Mekah. Karena­nya, tidak mengherankan, bila Ahmad Kha­tib diperkenalkan kepada keluarga istana. Suatu ketika, Ahmad Khatib dan mertua­nya diundang oleh istana untuk suatu ja­muan berbuka puasa bersama dengan ke­luarga kerajaan. Setelah itu, mereka me­laksanakan salat magrib betjemaah, dan Syarif, raja, menjadi imam. Dalam salah satu bacaan raja terdapat kekeliruan, dan langsung diluruskan oleh Ahmad Khatib. Setelah salat berjemaah itu selesai, raja se­makin mengerti bahwa Ahmad Khatib adalah seorang pemuda yang pandai. La­tar-belakang inilah yang kemudian, me­nempatkan Ahmad Khatib ke dalam jabatan irnarn dan Guru Besar dalam mazhab Syafil di mesjid al-Haram, Mekah. Jabat­an seperti ini merupakan suatu prestasi keagamaan yang tinggi.

Advertisement

Selain memangku jabatan imam dan Guru Besar di mesjid al-Haram, Ahmad Khatib pun terkenal cukup produktif. Ia menulis bukan saja dalam bahasa Arab, melainkan juga dalam bahasa Melayu se­bagai bahasa ibunya. Karya-karyanya ba­nyak diterbitkan dengan bantuan dana da­ri mertuanya selaku distributor kitab-ki­tab keagamaan.

Walaupun Ahmad Khatib tidak sempat lagi kembali ke tanah airnya, ia tetap ter­masuk salah seorang tokoh pembaharu di Sumatra Barat pada dekade akhir abad ke­19 dan dekade awal abad ke-20. Pikiran­pikirannya disebarluaskan ke tanah air, baik melalui buku-bukunya mauiSun rnela­lui mereka yang datang ke Mekah untuk beribadat haji dan kemudian, menyempat­kan diri belajar kepadanya. Setelah mere­ka kembali ke tanah air, mereka menjadi guru di daerah asalnya masing-masing. Mi­salnya, yang berasal dari daerah Minangka­bau adalah Syekh Muhammad Jamil Jam­bek, Haji Abdul Karim Amrullah, dan Haji Abdullah Ahmad. Sedangkan yang berasal dari luar daerah Minangkabau di antara­nya adalah Syekh Muhammad Nur sebagai Mufti Kerajaan Langkat, Syekh Hasan Ma’asum sebagai Mufti Kerajaan Deli, Syekh Muhammad Saleh sebagai Mufti Kerajaan Selangor, dan Syekh Muhammad Zain sebagai Mufti Kerajaan Langkat di Binjai. Adapun yang berasal dari Jawa di antaranya Kiai Haji Hasyim Asy`ari pendi­ri pesantren Tebuireng, dan yang kemu­dian menjadi pemimpin NU. Selain itu, beberapa ulama besar di Kalimantan pun sempat belajar kepadanya.

Khusus mengenai masalah-masalah yang berkernbang di Minangkabau, ia sangat terkenal menolak keras praktek-praktek tarekat Naqsyabandiyah dan hukum waris yang berdasarkan adat. Ulama besar yang termasuk pelopor pembaha.ruan ini me­ninggal pada 1916 (1334 H).

Advertisement