Advertisement

Syekh Abbas Abdullah, dilahirkan pada 1883 di Suluki, Padang Japang, Sumatra Barat. Pada usia tiga belas tahun, 1896, ia berangkat ke Mekah untuk ber­ibadat haji dan melanjutkan studinya. Di­sana ia belajar, di antaranya kepada Syekh Ahmad Khatib; seorang pembaharu dari Minangkabau yang bermukim di Mekah sejak 1876, yang menjadi imam di mesjid al-Harain. Sekitar delapan tahun Abbas Abdullah belajar di Mekah. Pada 1904, ia kembali ke tanah air. Tidak lama ke­mudian bersama dengan kakaknya, Syekh Mustafa, ia mulai mengajar sebagai kelan­jutan dari upaya ayahya, Syekh Abdullah. Setelah beberapa belas tahun ia mengajar, pada 1919 madrasahnya berkembang menjadi Sumatra Tawalib. Untuk me­ngembangkan gagasan dan pikiran-pikiran­nya, agaknya ia merasa belum cukup jika hanya dituangkan melalui lembaga pendi­dikan. Karena itu, kemudian ia pun me­nerbitkan majalah al-Imam. Melalui media massa ini, diharapkan pikiran-pikirannya akan lebih mudah tersebar luas.

Pada 1921, ketika berusia 38 tahun, ia berangkat untuk memperdalam kem­bali pengetahuan agarnanya ke Mekah, dan seterusnya ke al-Azhar, Mesir. Untuk studi pendalaman ini, ia habiskan waktu­nya di sana, sampai 1924. Pada tahun itu juga ia kembali ke tanah air melalui Pales­tina, Libanon, dan Siria. Segera setelah itu, ia kembali mengajar dan mengembang­kan pikiran-pikiran barunya. Enam tahun kemudian, ia merasa perlu mengubah Su­matra Tawalib menjadi Dar al-Funnun al­Abbasiyah, suatu penamaan kelembagaan yang diacukan kepada nama dirinya.

Advertisement

Abbas Abdullah dan saudaranya, Syekh Mustafa, terkenal sebagai orang-orang yang berwatak kukuh, berpendirian tegas, dan berjiwa revolusioner. Abbas Abdullah, khususnya, tidak merasa ragu untuk me­nyebarluaskan pikiran-pikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Rida, baik melalui lembaga pendidikan maupun media massa lainnya. Khusus di lembaga pendidikan­nya selain kitab-kitab karangan Muham­mad Abduh dan Rasyid Rida, kitab-kitab lainnya pun banyak diajarkan, selama ki­tab-kitab tersebut memberikan peluang untuk membuka wawasan dan kebebasan berpikir. Rupanya sepak-terjang pendi­ dikan al-Abbasiyah dalam mengembang­kan gerakan pembaharuan pemilciran timat sempat menimbulkan kekhawatiran peme­rintah Belanda. Karenanya, pada 1934, lembaga pendidikan ini digeledah peme­rintah Belanda. Sebagaimana d:maklumi, pemerintah Belanda sangat menaruh ke­khawatiran politik terhadap tumbuhnya kesadaran baru sikap keagamaan umat Islam yang dilatarbelakangi gerakan pem­baharuan pemikiran.

Pada masa revolusi pisik 1945, Abbas Abdullah beserta kakaknya telah mem­bangkitkan semangat murid-muridnya untuk terlibat langsung dalam revolusi tersebut. Menurut pandangan mereka, keterlibatan dalam revolusi seperti itu ber­arti jihad ft Sabilillah. Untuk kepentingan ini, kemudian Abbas Abdullah diangkat menjadi “imam jihad” oleh Majelis Tinggi Islam. Tiga tahun kemudian 1948, madra­sahnya sendiri dijadikan pusat pertahanan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Sejak itu, untuk beberapa k.ma, lembaga pendidikan Dar al-Funnun al-Ab­basiyah banyak terlibat kegiatan politik praktis, suatu gejala yang agak bersifat umum berlaku di berbagai lembaga pen­didikan Islam di Nusantara pada masa pasca kemerdekaan.

Advertisement