Advertisement

Sunan Muria, adalah salah seorang wa­li yang daerah operasi penyiaran Islamnya berada di sekitar gunung Muria, 18 km di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah bagian timur laut. Namanya Ra­den Umar Said atau Raden Said, dan na­ma kecilnya Raden Prawata. Dikenal de­ngan nama Sunan Muria, karena di cam­ping kegiatannya adalah di sekitar gunung Muria, makamnya pun di gunung tersebut. Sebagai wali-wali yang lain, hari kelahiran dan hari wafatnya tidak diketahui dengan pasti. Diperkirakan ia lahir sekitar perte­ngahan abad ke-15 dan wafat pada awal abad ke-16. Ia, menurut sumber-sumber yang ada, adalah putra Sunan Kalijaga dan ibunya bernama Dewi Saroh. Ia kawin de­ngan Dewi Sujinah, kakak kandung Sunan Kudus. Putranya bernama Pangeran San­tri.

Sunan Muria termasuk wall-wali yang memutuskan untuk memindahkan pesan­tren Ampel Denta (sepeninggal Sunan Ampel) ke Demak di bawah pimpinan Ra­den Patah. Ia dikatakan yang paling rajin berdakwah ke pelosok-pelosok desa dan gunung-gunung, dan sejalan dengan itu, sa­rana dakwah yang dipakainya adalah me­lalui gamelan dan wayang serta kesenian Jawa lainnya.. Sejalan dengan itu Pula, ia menciptakan tembang Sinom dan Kinanti, dua dari sekian jenis tern bang macapat. Yang pertama (Sinom) umumnya untuk melukiskan suasana ramah tamah dan juga untuk nasihat. Tentang ini setiap baitnya terdiri dan 9 baris dengan guru wilangan dan guru swara sebagai berikut: (1) 8/a, (2) 8/i, (3) 8/a, (4) 8/i, (5) 7/i, (6) 8/u, (7) 7/a, (8) 8/i, dan (9) 12/a. Yang kedua (Kinanti) bernadakan gembira atau kasih sayang, tetapi juga dipakai untuk meng­ajarkan keagamaan, nasihat dan falsafat hidup. Setiap baitnya terdiri dui’ 6 bans dengan guru wilangan dan guru swara se­bagai berikut: (1) 8/u, (2) 8/i, (3) 8/a, (4) 8/i, (5) 8/a dan (6) 8/i.

Advertisement

Makamnya yang terletak di puncak gu­nung, banyak dikunjungi orang setiap hari sampai sekarang, terutama hari Jumat Pa­hing.

 

 

Advertisement