Advertisement

Sunan Kudus, nama aslinya Ja’far Sadiq, diperkirakan lahir pada pertengah­an abad ke-15 atau pertengahan abad ke­9 H. Sunan Kudus putra R. Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan; menurut perkiraan, sekarang daerah tersebut terletak di sebelah utara Blora, Jawa Tengah. Menurut tradisi lisan, Sunan Kudus mempunyai pertalian darah sampai kepada Husein bin Ali. Selain itu, Sunan Kudus adalah kerabat Sunan Am­pel; kakek Sunan Kudus saudara Sunan Ampel.

Sunan Kudus mempunyai delapan putra, sebagian besar laki-laki, lima orang. Dari kedelapan putranya, hanya empat orang yang kini makamnya dikenal orang terletak di sekitar makam Sunan Kudus; mereka adalah Panembahan Palembang, Panembahan Mekaos, Pangeran Ponco­wati, dan Pangeran Sujoko. Sedangkan empat orang lainnya, makamnya tidak di­ketahui secara pasti hingga kini.

Advertisement

Sunan Kudus adalah seorang ulama be­sar, kalau tidak hendak dikatakan seorang wali, meski banyak yang mempercayainya sebagai salah seorang di antara wali songo. Bahkan, agaknya, sebagian besar masyara­kat, memang, menganggapnya sebagai sa­lah seorang wali songo. Ja’far Sadiq (Su­nan Kudus) menyebarkan Islam di daerah Kudus dan sekitarnya, Jawa Tengah ba­gian utara. Atas dasar itu, kemudian, Ja’far Sadiq terkenal dengan sebutan -“Su nan Kudus”. Selain pengetahuan keagama­an, Sunan Kudus pun menguasai bidang sastra. Karenanya, tidak mengherankan jika ada yang menggolongkannya sebagai pujangga Islam. Di antara karya sastranya yang cukup terkenal adalah gentling mas­kumam bang dan

Untuk melancarkan mekanisme penye­baran Islam, Sunan Kudus membangun mesjid sebagai pusat kegiatannya. Mesjid tersebut sekarang terkenal sebagai mesjid Menara Kudus dan dipandang sebagai sa­lah satu warisan kebudayaan Islam nusan­tara. Sunan Kudus wafat sekitar 1550-an (960-an H).

 

Advertisement