Advertisement

Sunan Kalijaga, adalah salah seorang wali sembilan yang terkenal karena berji­wa besar, toleran, berpandangan tajam dan juga pujangga. Nama kecilnya Raden Mas Syahid, putra Tumenggung Wilatikta, bupati Tuban, dan ibu bernama Dewi Na­wangrum. Sunan Kalijaga kawin dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishaq dan ber­putra 3 orang, Raden Umar Said (kelak menjadi Sunan Muria), Dewi Rukayah, dan Dewi Sollyah.

Menurut riwayat, masa remajanya na­kal, sehingga ia diusir oleh orang tuanya. Ia mendapat julukan Lokajaya, karena sakti dan hampir tidak ada yang dapat me­ngalahkannya. Oleh karena itu, sebagai perampok dan penyamun sangat ditakuti, sampai ia bertemu dengan Sunan Bonang yang kemudian dapat menaklukkannya. la ingin menjadi muridnya, tetapi Sunan Bo­nang hanya mau menerimanya sebagai murid apabila ia sanggup menjaga tong­katnya yang ia tancapkan di tepi sungai. Dengan setia, Raden Mas Syahid menaati janjinya, sehingga karena itu ia disebut Kalijaga (penjaga kali/sungai). Setelah menjadi wali, ia disebut juga Syekh Mala­ya, karena ia berdakwah sambil berkelana. Masa hidupnya cukup panjang, dan akhir masa kerajaan Majapahit sampai pada ma­sa kerajaan Pajang (akhir abad ke-15 sam­pai pertengahan abad ke-16).

Advertisement

Jasanya bagi Demak cukup banyak. Pa­da waktu pendirian mesjid Demak, ia sa­lah seorang wali yang berkewajiban me­nyediakan salah satu dan 4 tiang pokok (saka guru) yang menurut legende ia buat dan tatal (serpihan-serpihan kayu sisa), kalau dipahami secara simbolik, peranan­nya claim pendirian mesjid itu cukup penting. la juga penasihat umum raja-raja Demak, sejak Raden Patah sampai Sultan Trenggana, sehingga is diberi hadiah tanah predikan di Kadilangu (tanah yang bebas pajak) untuk dimiliki secara turun temu­run.

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga ber­beda dengan Sunan Giri. Menurut penda­patnya, menyampaikan ajaran Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat, se­dikit demi sedikit. Kepercayaan, adat is­tiadat dan kebudayaan lama tidak harus dihapuskan, tetapi diisi dengan unsur ke­islaman. Sunan Giri sebaliknya berpenda­pat bahwa Islam harus disampaikan menu-rut aslinya. Kepercayaan lama hams dibe­rantas, demikian pula adat istiadat serta kebudayaan lama yang tidak sesuai de­ngan ajaran Islam. Sunan Kalijaga lebih mendekati rakyat jelata, sedangkan Sunan Giri lebih dekat dengan kaum bangsawan dan hartawan. Kesepakatan kemudian ter­capai bahwa dakwah memang perlu ada yang dan atas dan ada pula yang dari ba­wah.

Sebagai budayawan dan seniman, ba­nyak yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga yang menggambarkan pendiriannya terse-but. Diciptakannya dua perangkat gamel­an yang semula bernarna Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian lebih dikenal de­ngan nama Nyai Sekati dan Kiai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang yang pada zaman Majapahit dilukis di atas kertas yang lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu­satu dan dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang ku­lit. la juga menciptakan baju yang disebut baju takwo (artinya: takwa). Dalam bi­dang seni suara, menciptakan lagu Dan­danggula, salah satu jenis lagu macapat yang setiap baitnya terdiri dari 11 baris dengan guru lagu dan guru suara sebagai berikut: (1) 10/i (wulu), (2) 10/a (legena), (3) 8/e (taling), (4) 7/u(suku), (5)9/i (wu­lu), (6) 7/a (legena), (8) 6/u (suku), (9) 8/a (legena), (10) 12/i (wulu), (11) 7/a (legena). Kain batik yang bermotifkan bu­rung, konon dari Sunan Kalijaga juga. Agaknya karena is wali yang ash Jawa, pengaruhnya lebih merata di kalangan rak­yat. Makamnya terletak di desa Kadilangu, sebelah timur laut kota Demak.

Advertisement