Advertisement

Sunan Gunung Jati, adalah sebutan terhadap Fatahillah atau Falatehan menurut sebutan Portugis, nama aslinya Syarif Hidayatullah. Akan tetapi menurut babad­babad namanya adalah Syekh Nurucldin Ibrahim Ibnu Maulana Israil, Syarif Hida­yatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makhdum .Rahmatullah. Setelah wafatnya ia bergelar Sunan Gunung Jati, yang diper­tuan di daerah Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.

Ia dilahirkan dan dibesarkan di Pasai, Aceh. Tahun kelahirannya tidak tercatat jelas dalam sejarah, namun diperkirakan pada akhir abad-15 ataupun awal abad-16. Mulanya ia belajar agama kepada ayahnya sendiri. Setelah menginjak usia dewasa ia berangkat ke Mekah. Keberangkatannya ke Mekah di samping untuk kepentingan belajar, juga sekaligus mengasingkan diri dari suasana Pasai yang sudah mulai dija­mah tangan penjajah, Portugis. Sebelum itu, Portugis telah menguasai Malaka pada 1511.

Advertisement

Setelah tiga tahun belajar di Mekah, ia kembali ke Aceh. Semula ia berharap, se­kembalinya ke Aceh, Portugis sudah ter­enyah dari Tanah Aceh. Namun harapan­nya membuyar, karena ternyata Portugis tetap bercokol di sana. Karena itulah, ke­mudian ia berangkat ke Jawa untuk meng­hindari keterjajahan dan, sekaligus, untuk mengembangkan agama Islam. Sampai di Jawa, ia langsung menuju ke Demak, ke­rajaan Islam pertama di Jawa. Di sana ia mendapat sambutan yang cukup baik dari sultan Demak, Raden Trenggono (meme­rintah 1521-1546). Bahkan, lebih dari itu, ia dikawinkan dengan seorang putri kerajaan Demak, saudara Raden Trenggo­no. Dengan demikian, ia memperoleh ke­percayaan dan keleluasaan untuk menye­barkan agama Islam.

Sementara itu, Jawa Barat masih dikua­sai kerajaan Hindu, Pajajaran. Ibu kotanya adalah Pakuan, Bogor Selatan sekarang. Jawa Barat, ketika itu, terkenal sebagai penghasil lada, salah satu komoditi ekspor dan asset ekonomi yang cukup penting bagi penerimaan devisa kerajaan. Sedang­kan Banten dan Sunda Kelapa merupakan dua kota pelabuhannya yang sangat pen­ting dan strategis.

Posisi Jawa Barat yang strategis inilah yang merangsang Portugis untuk meng­adakan perjanjian dagang dengan kerajaan Pajajaran (1522). Usulan perjanjian da­gang Portugis diterima Pajajaran yang, ter­utama, dilatarbelakangi oleh kekhawatir­annya terhadap perluasan kekuasaan Islam di Jawa. Sebaliknya, bagi kerajaan Islam Demak, kerjasama dagang antara Portugis dengan Pajajaran menimbulkan kekhawa­tiran politik bahwa Portugis akan semakin menguasai Jawa. Dengan demikian, keha­diran Portugis di Jawa Barat dianggap akan menghambat perluasan Islam di Jawa. Atas clasar ini, Demak, di bawah panglima Syarif Hidayatullah, memerangi Portugis dan menguasai Jawa Barat.

Pada 1526, Syarif Hidayatullah berhasil menguasai pelabuhan Banten, dan setahun kemudian (21 Juni 1 527) ia merebut pela­buhan Sunda Kelapa. .Sebagai lambang kemenangan Islam atas Portugis, Sunda Kelapa diganti nama Jayakarta, keme­ nangan yang sempurna. Sedangkan, pang­limany a digelari Fatahillah, kernenangan Allah. Rupanya, perjuangan Syarif Hida­yatullah tidak terhenti sampai di situ. Ter­nyata, satu tahun berikutnya (1528) ia berhasil menundukkan Cirebon, salah satu pusat kekuasaan Jawa Barat.

Dengan jatuhnya Banten, Sunda Kelapa (Jakarta sekarang), dan Cirebon, semakin leluasa bagi Syarif Hidayatullah untuk me­nyebarluaskan Islam di Jawa. Syarif Hida­yatullah memerintah di Banten sebagai perwakilan kerajaan Islam Demak sekitar dua puluh lima tahun, sampai 1552. Se­lanjutnya pemerintahan Banten diserah­kan kepada anaknya, sultan Hasanuddin. Sedangkan ia, kemudian, beralih ke Cire­bon. Di wilayah ini, ia dengan gigih terus menyebarkan Islam sampai akhir hayat­nya (1570). Karena itulah, ia digelari Su­nan Gunung Jati, yang dipertuan di wila­yah Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.

 

Advertisement