Advertisement

Sunan Drajat, yang nama aslinya Sya­rifuddin, sering juga disebut dengan nama Raden Qosim. Ia adalah salah seorang pu­tera Sunan Ampel. Sebagaimana ayahnya, ia juga termasuk salah seorang penganjur agama Islam, dan ikut berperan aktif da­lam mendirikan kerajaan Islam di Demak. Selain itu, ia terkenal juga sebagai seorang yang banyak memperhatikan masalah ke­sejahteraan dan sosial.

Bersama-sama dengan Sunan Bonang, ia termasuk peridamping Raden Patah (Sul­tan Demak). Dan menurut catatan yang dapat dipercaya, Sunan Drajat adalah pen­cipta Gending Pangkung, semacam lagu rakyat di Jawa. Mengcnai tahun kelahiran dan wafatnya sampai kini belum diketahui dengan pasti; tapi yang jelas, ia hidup pa­da masa jatuhnya kerajaan Majapahit seki­tar Saka 1400 (1478 M).

Advertisement

Dalam menjalankan agama, ia tidak sc­gan-segan memberi pertolongan kepada masyarakat yang menderita kesengsaraan, seperti membela anak-anak yatim piatu, orang-orang sakit, fakir miskin, dan lain-lain. Hal ini terlihat dalam setiap kesem­patan ia berdakwah; ajaran-ajaran Islam yang menyangkut masalah sosial selalu menjadi topik pembahasannya yang uta­ma.

Usahanya itu memang tepat sekali, jika dikaitkan dengan suasana kritis dan priha­tin yang ada pada waktu itu, yang ditim­bulkan pertentangan politik dan perang saudara. Priode itu termasuk yang paling buruk dalam kehidupan negara dan rakyat Maj apahit.

Menurut Sunan Drajat, sumber kemela­ratan itu adalah watak dan sikap para pembesar Majapahit yang selalu berlomba memperebutkan kekuasaan untuk memperoleh status sosial. Namun, setelah pangkat dan kedudukan mereka peroleh, ternyata itu mereka pergunakan untuk ke­pentingan pribadi, hidup berfoya-foya dan bermewah-mewah di atas penderitaan rak­yat yang hidup dalam kemelaratan.

Atas kenyataan tersebut, Sunan Drajat merasa terpanggil untuk lebih menitik­beratkan perhatiannya pada usaha-usaha menciptakan kesejahteraan sosial, meng­atasi kesengsaraan dan penderitaan yang melanda masyarakat pada umumnya.

Selain itu, Sunan Drajat selalu meng­ajarkan kepada para santrinya agar meme­lihara perutnya dari makanan dan minum­an yang diharamkan oleh agama, dan agar mereka makan dan minum sekedar untuk keperluan bagi kesehatan tubuh dan roha­ni. Makanan dan minuman yang halal akan memelihara zat-zat darah yang ada dalam tubuh tetap bersih dan suci, sehing­ga tumbuhlah penghayatan dan perbuatan yang suci serta jalan pikiran yang jernih dalam diri mereka. Sedangkan makan dan minum secara berlebih-lebihan menurut pendapatnya akan menyebabkan timbul­nya penyakit, otak jadi tumpul, malas ber­pikir, malas beribadat, bahkan badan akan lebih berat dan berbau busuk ketika mati.

Kepada pembesar dan penguasa negara, Sunan Drajat menasihatkan agar mening­katkari kesejahteraan sosial yang lebih baik dan dapat dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari; dan ini­lah yang membuat negara menjadi berarti.

Selanjutnya, Sunan Drajat mengetuk hati orang-orang kaya agar mengeluarkan zakat dan dana-dana lain yang diperlukan untuk menolong penderitaan masyarakat­nya. Untuk ini,beliau mencoba mengorga­nisir cara memungut zakat dan infak, ke­mudian disalurkan secara tepat dalam rangka menanggulangi bahaya kemelarat­an rohani dan jasmani.

Advertisement