Advertisement

Sultan Babullah, (1570-1583), se­orang raja kerajaan Islam Ternate yang de­ngan gagah berani berhasil mengusir orang Portugis dari Ternate, bahkan dan Malu­ku. Pengangkatannya sebagai Sultan dila­tarbelakangi oleh terbunuhnya ayahnya, Sultan Khairun, sebagai akibat pengkhia­natan yang dilakukan oleh gubernur Por­tugis, de Mosquita, di dalam benteng Por­tugis di Ternate dalam rangka menyambut persetujuan yang telah dicapai antara Sul­tan Khairun dan gubernur de Mosquita sendiri. Pesta yang dilakukan di dalam benteng Portugis dengan mengundang Sul­tan Khairun itu temyata untuk memban­tai Sultan yang bersifat kesatria tersebut. Maka dalam pelantikan sebagai Sultan yang baru itu, Sultan Babullah menyentak pe­dang pusaka ayahnya seraya bersumpah akan menuntut balas kematian ayahnya dan mengusir habis orang Portugis dari bu­mi Ternate. Sumpah itu disambut hangat oleh rakyatnya yang merasakan kekejam­an dan kesombongan orang-orang Portu­gis itu, dan meneruskan sumpah itu ke seluruh pelosok Maluku, sehingga meng­gerakkan mereka untuk bersatu padu me­lawan Portugis. Sultan Babullah meng­umumkan perang kepada Portugis dan me­mimpin sendiri jalannya pertempuran. Dua benteng Portugis, di Ternate dan Ambon, dikepung rapat. Raja Bacan yang telah masuk Kristen, mengirim bantuan bahan makanan kepada Portugis. Mengeta­hui hal itu, Sultan Babullah memberi ulti­matum, jika ‘sekali lagi ketahuan Bacan mengirim bantuan kepada Portugis, Bacan akan segera dijadikan abu. Adapun Tido­re, dengan tegas berdiri di belakang Ter­nate.

Aliran Syi`ah, dalam membicarakan ma­salah bada’ ini, secara garis besar terpecah ke dalam dua kubu: kubu yang ekstrim dan kubu yang moderat. Kubu yang eks­trim diwakili oleh kelompok Badriyyat, pimpinan Hisyam bin al-Hakam. Mereka mengatakan, bahwa ilmu Tuhan itu ber­kaitan dengan segala yang ada (maujiicat), karena itu Tuhan tidak akan mengetahui sesuatu sehingga sesuatu itu ada. Dengan kata lain, Tuhan tidak mengetahui segala sesuatu yang belum terjadi.

Advertisement

Untuk menetapkan adanya bada’ ini, aliran Syi`ah mengemukakan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Adanya beberapa ayat al-Quran yang dapat menunjukkan adanya perubahan ketentuan Tuhan (bada’), seperti: ar­Ra’d ayat 39, Ibrahim ayat 11, ar-Rah­man ayat 29, al-Ataf ayat 103, Yunus ayat 98, as-Saffat ayat 101 dan 107, dan lain-lainnya.
  2. Adanya hadis-hadis yang menjelaskan bahwa amal saleh dan beberapa per­buatan utama (fadilat), seperti meng­hormati kedua orang tua, dapat menun­da terjadinya ketentuan Tuhan (qader mubram).
  3. Banyak kisah orang-orang saleh yang menyatakan, bahwa keridaan Allah ter­hadap perbuatan mereka dapat meru­bah ketentuan-ketentuan yang jelek.

d . Adanya konsep naskh, yang juga diya­kini kalangan Ahlus Sunnah.

Dalam pada itu, Syi`ah dari kubu mode-rat, yang dipelopori sekte Imdmiyyat, me­nolak ajaran bada’ yang dapat mendatang­kan pengertian ketidaktahuan dan keti­daksempurnaan Allah, karena hal ini ada­lah mustahil bagi Allah. Seperti dikatakan Imam Ja`far as-Sadiq: “Seseorang yang mengira bahwa bada’ terjadi pada Allah tentang sesuatu urusan, yang menyebab­kan Ia menyesal, kami anggap sebagai orang kafir”. Mereka hanya mengakui sebagian kecil saja dari ilmu Tuhan yang mungkin mengalami perubahan (bada’).

Selanjutnya, kalangan Syi`ah moderat berusaha mendamaikan pertentangan yang terjadi di kalangan para teolog, dengan menyelaraskan antara konsep bada’ de­ngan konsep ilmu Tuhan yang mutlak dan kadim, dan bahwa ilmu Tuhan itu adalah Zat-Nya, seperti yang diyakini kalangan Mu`tazilah; sekaligus sebagai jawaban atas tuduhan kalangan Ahlus Sunnah yang me­ngatakan, bahwa konsep bada’ dapat membawa pengertian ketidaktahuan Tu­han terhadap akibat sesuatu.

Advertisement